Cerpen BERBAGI AYAH Isnaeni DK dimuat di majalah Ummi edisi Maret 2014

Berbagi Ayah Oleh: Isnaeni DK Pagi itu, aku baru saja menginjakkan kaki di kelas. Kulihat Amira tertunduk lesu seolah memikirkan se...

Berbagi Ayah

Oleh: Isnaeni DK

Pagi itu, aku baru saja menginjakkan kaki di kelas. Kulihat Amira tertunduk lesu seolah memikirkan seuatu. Dia terdiam dan tak berkata apapun kepadaku, padahal aku tersenyum kepadanya. Hal itu membuatku bingung.

 Aku hendak mendekatinya, tapi tiba-tiba saja semua siswa kelas tiga masuk dengan berbondong-bondong. Tak berapa lama ustadzah Laila pun masuk. Ustadzah yang berparas cantik nan anggun itu mengucapkan salam dengan tegasnya. Aku sangat menyukainya.

Pelajaran Bahasa Arab akan segera dimulai. Tahukan kalian? Bahasa Arab adalah sebuah pelajaran yang sangat kusukai.

“Kamu kenapa?” tanyaku pelan.


Tetapi, hanya gelengan kepalanya sebagai jawaban. Aku berharap, bukan karena sedang marah padaku.

Bagaimanapun, aku selalu menengok ke arah Amira. Dia hanya tertunduk seperti tak memerhatikan pelajaran. Bukankah Bahasa Arab juga menjadi bahasa kesukaannya?

Di tengah pelajaran, Ustadzah Laila menyuruh lima anak untuk maju memperkenalkan anggota keluarga masing-masing menggunakan Bahasa Arab. Aku dan Amira termasuk yang dipanggil namanya. Teman-teman yang lain terlihat lega karena tidak dipanggil. Hmm, bukankah ini sangat menarik?

Girangnya diriku begitu tahu dipanggil. Tanpa menunggu lama, aku langsung berjalan ke depan kelas.

“Ayo, Shafira...kamu yang pertama!” kata Ustadzah Laila. “Tafadholii...” tambahnya lagi, memersilakanku menggunakan bahasa Arab.

Aku mengangguk dengan penuh semangat.
“Ismi Shafira. Lii abi, Ismuhu Abidin. Lii ummi, Ismuha Fitri.” kukatakan dengan lantang kalimat yang artinya namaku Shafira. Aku punya ayah, namanya Abidin. Aku punya ibu, namanya Fitri.

“Jayyid jiddan, Shafira...”

Senang sekali Ustadzah Laila mengatakan bahwa bahasa arabku bagus. Kini giliran Amira yang melakukannya. Aku yakin ia jauh lebih bisa daripada aku. Dia memang jagonya bahasa orang Arab ini. Jantungku jadi dag dig dug menunggu suaranya.

Namun, yang ditunggu tak jua bicara. Hingga kemudian...

“Ismi...Amira. Lii a...a...abi...”

Kata-kata Amira hilang, lalu yang terdengar kemudian adalah tangisnya. Ia tiba-tiba menangis yang membuat kami sekelas kebingungan. Kami tak tahu apa yang terjadi dengannya. Ia lalu keluar kelas dengan menyembunyikan tangisnya.

“Ust, bolehkah saya mengejar Amira? Kasihan dia...”

Ustadzah Laila mengiyakan. Aku pun mengejarnya setelah meminta ijin kepada Ustadzah Laila.

***
“Kamu kenapa, Amira?” tanyaku.

Kukejar ia sampai ke taman. Ia duduk di sebuah bangku sambil menangis. Saat aku datang, ia menoleh lalu menangis lagi.
“Lebih baik kamu cerita, aku adalah temanmu...ana shohibatik...” kataku lagi.

“Aku...aku...aku masih sedih, Fir...”

“Sedih kenapa?”

“Aku sering diejek karena nggak punya ayah. Kamu tahu kan?”

Oh, jadi itu yang membuatnya tadi terdiam dan menangis, batinku.

Aku mengangguk. Amira mengusap air matanya. “Aku malu, Fir. Aku ini anak yatim yang hanya punya ibu yang miskin...jadinya teman-teman senang mengejekku.”

“Amira...jangan bicara begitu ya. Kalau ada yang mengejek kita, kita harus bersabar kan? Ustadz dan Ustadzah kita sering bilang begitu. Kamu ingat kan?”

“Tapi, Fira...nyatanya aku memang nggak punya ayah lagi. Sejak kelas satu aku sudah menjadi anak yatim...Padahal, mempunyai ayah adalah hal yang sangat membahagiakan. Aku bisa minta dibelikan buku, aku bisa manja-manja sama ayah walaupun hanya dengan bergurau di tepian mazro’ah.”

Ya, aku tahu apa itu mazro’ah. Itu adalah bahasa Arabnya sawah atau ladang. Amira memang pernah menceritakan bahwa ia dulu sering menemani ayahnya ke sawah. Untuk memetik kacang panjang, menanam cabe, atau mencari belut.

Aku menggenggam tangannya. Aku turut merasakan bagaimana sedihnya Amira yang sudah tak punya ayah. Aku saja, kalau ayah sakit rasanya sedih sekali. Apalagi jika ia meninggal? Sungguh, aku selalu berdoa semoga ayah memiliki umur yang panjang lagi berkah.

 Sebuah ide tiba-tiba melintas. “Pulang sekolah nanti kamu ke rumahku ya!”

“Memang ada apa?” tanya Amira.

“Rahasia. Kamu datang saja ya.”

“Tapi aku harus tahu dulu ada apa.”

“Sudahlah, Amira. Percaya sama aku. Aku ingin memberikan kejutan.”

“Kejutan apa?”

Tentu aku tak ingin ia tahu rencanaku. Yang namanya kejutan ya tidak boleh dikatakan sebelumnya.

“Amira, pokoknya aku tunggu kamu ya nanti!”

“Baiklah.”

Amira pun setuju. Kami lalu berjalan beriringan menuju kelas.

***
Siangnya, aku dan Amira pulang bersama. Aku segera menemui ayah begitu sampai rumah. Amira masih menunggu di ruang tamu.

Kubisikkan sesuatu kepada ayah, dan ayah pun dengan senang hati menerima ideku.

“Kamu memang anak solihah, Shafira...” puji ayah.

“Yah, aku sayang sama Amira. Aku nggak bisa melihat raut sedihnya karena sudah nggak punya ayah lagi.” kataku.

Kami pun langsung menemui Amira. Terlihat di sana ia sedang meminum jus mangga yang dibuatkan Mbok Rasmi.

“Amira, aku mau bilang sama kamu.” kataku.

“Bilang apa?”

“Mulai saat ini, kamu jangan sedih dan malu lagi karena nggak punya ayah. Mulai sekarang, ayahku adalah ayah kamu juga...”

Ayah tersenyum mendengarkan perkataanku. Amira nampak bingung.

“Maksudnya apa, Fira?”

Ayah pun lalu menjelaskan. “Begini, Amira. Mulai sekarang, anggaplah om ini adalah ayahmu. Jangan pernah merasa nggak punya ayah. Om akan menganggap kamu sebagai anak om juga. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu juga bisa bilang dan minta sama Om. Om sayang sama kamu...”

Kata-kata ayah membuat Amira menangis karena bahagia.

“Apa Om tidak bohong?” tanya Amira.

“Insya Allah. Percayalah...kamu tak perlu sungkan.”

“Tapi...”

“Amira, tidak ada tapi-tapian. Om melakukan ini karena Allah. Juga karena permintaan Shafira.”

Aku mengangguk pasti, meyakinkan Amira. Kemudian, terlihatlah kembangan senyum Amira. Ia sangat bahagia. Alhamdulillah.

Ayah pun lalu memelukku dan Amira. Aku pun merasakan kebahagiaan yang sama seperti Amira. Dengan berbagi ayah, aku ingin Amira tak merasa kehilangan.

--Selesai--


COMMENTS

BLOGGER: 5
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Cerpen BERBAGI AYAH Isnaeni DK dimuat di majalah Ummi edisi Maret 2014
Cerpen BERBAGI AYAH Isnaeni DK dimuat di majalah Ummi edisi Maret 2014
http://1.bp.blogspot.com/-4s6f4Q8krvI/Ve_gTMxarGI/AAAAAAAAAoo/J43e5b4fIcI/s400/1901922_10202166769824139_1080934481_n.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-4s6f4Q8krvI/Ve_gTMxarGI/AAAAAAAAAoo/J43e5b4fIcI/s72-c/1901922_10202166769824139_1080934481_n.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2015/09/cerpen-berbagi-ayah-isnaeni-dk-dimuat.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2015/09/cerpen-berbagi-ayah-isnaeni-dk-dimuat.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy