Kunci kedekatan ayah dengan anak perempuan

Hari terus berganti. Hampir delapan tahun saya dan suami mengarungi bahtera rumahtangga ini. Semakin ke sini, betapa saya bersyukur mem...



Hari terus berganti. Hampir delapan tahun saya dan suami mengarungi bahtera rumahtangga ini. Semakin ke sini, betapa saya bersyukur memiliki pendamping hidup yang solih, perhatian, juga sayang kepada anak.

Anak saya saat ini ada dua. Keduanya perempuan. Jika anda mengikuti kisah di blog saya ini, tanpa saya sebutkan mungkin anda sudah mengetahuinya. Sebetulnya sudah ada tiga, antara Nahla dan Amira, pernah saya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat namun terserang asma saat berusia lima bulan. Ia pun meninggal. Kini, saya masih mengandung untuk yang keempat kalinya. Semoga Allah berikan kelancaran.
 
Abi memangku Amira sambil mendampingi Nahla tilawah
Suami saya termasuk tipe laki-laki yang dekat dengan buah hati kami. Meski dari sisi sosial sebenarnya beliau tidak begitu piawai dalam bergaul, namun alangkah bahagianya bahwa ternyata komunikasi dirinya dengan dua anak perempuan (6 tahun dan 2 tahun) saya perhatikan memiliki kualitas yang sangat baik. Entah itu komunikasi secara verbal maupun non verbal.

Saya yakin, kedekatan beliau bangun saat ini, akan berdampak positif ketika kedua anak saya sudah dewasa kelak. Mereka akan mengenal ayahnya dengan baik, segala kenangan manis telah terukir jua terekam, dan sosok sebagai ayah benar-benar menjadi kebanggaan bagi mereka. Insya Allah.

Lima kunci yang akan saya sebutkan ini adalah berdasarkan penelitian yang saya lakukan sendiri selama menjadi ibu dari anak-anak, juga istri bagi suami saya.

Tidak risih “memegang” buah hati saat masih bayi (1)

Suami saya selalu enjoy sejak saya melahirkan Nahla. Saya memerhatikan, beliau selalu punya keberanian untuk menggendong dan mengganti popok saat anak perempuan kami masih berusia hitungan hari. Hari pertama beliau sudah berani menggendong sambil mengadzani dan melantunkan iqamah, dan hari-hari berikutnya beliau sering kali menanyakan,

“Abi boleh ngganti popok kan? Ummi nggak khawatirkan?”

“Gantian Abi ya yang njemur dedek besok....”
Momen Amira belajar jalan

Saya sama sekali tidak khawatir. Justru saya senang sang abi mau memegang anaknya. Dan ternyata memang keinginan untuk memegang itu pun saya lihat tidak hanya di anak pertama saja. Pada saat Amira dan Adli, beliau juga melakukannya meski pulang kerja sudah lelah atau saat di rumah banyak lemburan, malam hari selalu siaga bila saya kelelahan dan tidak terbangun saat di baby minta diganti popok atau sekadar minta dikipas.

Sering mengajak anak bercerita (2)

Yang pendongeng itu sebenarnya saya lho ya. Hehe, namun alhamdulillah suami selalu punya bahan untuk diobrolkan kepada putri-putrinya. Cerita apa? Apa saja! Sejak kapan dia bercerita? Sejak bayi, hingga sekarang ini.

Kalau saya masih sibuk nyuci di belakang, sering saya mendengar beliau berceloteh sendiri karena baby masih tidur.

“Amira, masih bobo ya? Abi pulang nih. Abi capek banget lho. Pijitin dong! Tadi ngapain aja sama Ummi? Pasti dicium-cium terus ya sama Kak Nahla. Senengnya jadi Amira. Ramai temannya di rumah ini. Tahu nggak? Abi tadi hampir jatuh lho pas ngebut naik motor. Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan Abi....dst.”
 
Mengajarkan keberanian pada Nahla
Saat Nahla dan Amira mulai bisa jalan dan tegak bila diajak naik motor di depan sambil berdiri (ehm, motor ijo kami, motor metic), beliau selalu mengajak ngobrol. Ya memang tidak sepanjang perjalanan. Akan tetapi, komunikasi itu selalu ada minimal pada beberapa titik perjalanan saat melintasi sesuatu atau menemukan pemandangan yang menurut sang abi patut untuk diceritakan.

Memanfaatkan waktu yang terbatas (3)

Seperti sekarang ini, sebagai ayah beliau merasa waktu bertemu dengan Nahla menjadi sangat terbatas. Itu pula yang saya rasakan. Berada di ponpes, membuat kami harus ikhlas untuk menyambanginya setiap sekali dalam sebulan. Kami diperbolehkan menelepon setiap Jumat.

Untunglah kami harus menginap saat sambangan. Dan saya lihat, sang abi selalu “mencuri” waktu saat saya sibuk dengan Amira. Beliau akan memeluk Nahla sambil bermanja-manja dan bertutur kata penuh dengan makna. Seakan-akan rindu selama sebulan memang harus terobati saat itu juga.

Pun saat saya menelepon Nahla, beliau tak pernah absen untuk ikut berbicara. Kalau saya cenderung menanyakan kabar dan keadaan, sampai mana hafalannya, dan teman-temannya. Kalau beliau, lebih kepada pesan-pesan khusus dari seorang ayah. Saya suka itu!


Menyimpan kenangan dalam foto (4)

^selfie^
Tak terhitung berapa jumlah foto sang abi dengan anak perempuannya. Saya sempat senang bercampur geli juga saat mendapati beliau selfie dengan permata hati kami. Ah, benar sekali apa yang beliau kerjakan itu! Kelak foto itu akan menjadi bukti kedekatannya dengan kedua putri kami, meski bukan satu-satunya bukti. Karena foto hanyalah bukti fisik.

Mengirimkan harapan-harapan indah untuk masa depannya (5)

Nama Amira, adalah request saya. Selanjutnya beliau yang melengkapi. Lalu muncul nama shahabiyah Hafshah sebagai nama depan. Saya bertanya, mengapa Hafshah? Jawaban beliau:

“Hafshah itu anaknya Umar. Aku ingin menjadi ayah seperti khalifah Umar. Dan aku ingin kepribadian Amira seperti sayyidah Hafshah yang luar biasa.”

Dari satu persoalan tentang nama saja, membuat kami mudah dalam memberikan harapan-harapan untuk Amira di masa depan nanti.

Our Family

Harapan-harapan indah sang abi, selalu terlantun dalam doa. Beliau sadar bahwa peran ayah atau ibu adalah sebagai pemegang amanah ilahi. Yang selanjutnya, dari proses mendidik yang kami lakukan, akan dinilai oleh Allah dan mendapatkan hasil juga sepenuhnya dari Nya. Maka, kekuatan doa adalah spirit dahsyat yang mampu menembus dinding langit sehingga harapan-harapan agar mereka solihah bisa sampai kepada Allah dan dikabulkanNya.

COMMENTS

BLOGGER: 1
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Kunci kedekatan ayah dengan anak perempuan
Kunci kedekatan ayah dengan anak perempuan
http://4.bp.blogspot.com/-_wkWIqEIvjU/Vd9PAI16sEI/AAAAAAAAAl0/NCC-UqF1s6I/s400/CameraZOOM-20150222082142211.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-_wkWIqEIvjU/Vd9PAI16sEI/AAAAAAAAAl0/NCC-UqF1s6I/s72-c/CameraZOOM-20150222082142211.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2015/08/kunci-kedekatan-ayah-dengan-anak.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2015/08/kunci-kedekatan-ayah-dengan-anak.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy