Kiat mengatur gejolak kerinduan kepada buah hati yang nyantri di pondok pesantren

Bismillahirrohmanirrohim.... Jika ditanya, apakah saya rindu pada gadis kecil saya yang di pondok pesantren? Masya Allah, saya rindu sanga...

Bismillahirrohmanirrohim....

Jika ditanya, apakah saya rindu pada gadis kecil saya yang di pondok pesantren? Masya Allah, saya rindu sangat. Apalagi Nahla yang berusia 6 tahun itu baru dari Ramadhan saja berada di sana. Terhitung baru dua bulan. Ini menjadi sebuah momen yang sangat melekat di hati saya.

Sedih? Ya, saya sedih. Apakah saya bahagia? Tentu. Alhamdulillah kebahagiaan yang mendalam juga plus-plus nya mulai bermunculan sejak Nahla melanjutkan hafalan Qur'annya di pondok pesantren Yanabi'ul Qur'an Kudus.Kebahagiaan itu menyeluruh antara kebahagiaan yang bersifat lahir, juga batin.

Al Qur'an di atas segalanya. Gambar dari Google.


Air mata telah banyak yang tumpah karena momen ini. Waktu yang sudah saya nanti sejak beberapa tahun lalu rupanya telah di depan mata. Saya masih ingat dulu saat masih membantu mempersiapkan seorang siswa TK yang akan masuk ke pondok tersebut. Perlahan saya mulai berbisik di dalam hati, insya Allah Nahla bisa membaca Al Qur'an sebelum usianya lima tahun. Begitu si anak perempuan yang ngaji dengan saya itu diterima masuk di sana atas ijin Allah, hati saya sedemikian berharap pula Nahla bisa menimba ilmu di tempat yang sama. Tinggal menunggu usianya enam tahun. Karena pondok yanabi' mensyaratkan anak-anak masuk ke pondok pada usia enam atau tujuh tahun.
 
Nahla dan Amira, jalan-jalan di komplek ponpes

Dan kala itu, waktu seolah berjalan lambat, seolah Allah memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk mempersiapkan Nahla. Dengan niat mencari ridho Allah, bersama abinya saya berjuang mendidik Nahla dengan mendekatkannya dengan Al Qur'an. Tepat ketika masuk PAUD, dia sudah menyelesaikan jilid 1.Begitu jilid 3, saya sudah langsung ajarkan dia membaca Al Qur'an sebagai tahap percepatan. Jilid tetap jalan, Al Qur'an juga sudah dikenalnya.

Hingga usia enam tahun pun menjelang. Nahla hampir menyelesaikan belajarnya di TK, pendaftaran dan tes masuk pondok pun dijalaninya. Subhanallah wallahu akbar! Allah berikan kesempatan pada Nahla untuk masuk ke pesantren. Yang membuat saya semakin bersyukur adalah, karena di tangan saya dan abinyalah dia sudah bisa membaca Al Qur'an, juga memiliki sedikit hafalan di juz 30. Saya berkali-kali berterimakasih kepada Allah Swt atas nikmat yang Dia beri.

Wahai calon orang tua, juga para orangtua, entah usia anak yang masuk ke ponpes itu masih usia SD atau SMP atau usia sekolah tingkat apapun, gejolak kerinduan itu saya yakin akan selalu ada. Kita berjauhan dengannya, namun tangan seolah ingin memeluk selalu. Kita terpisah oleh aturan, namun raga seolah ingin berdekapan setiap saat, semau kita. Apalagi jika buah hati kita di ponpes melakukan aktifitas mulia menghafalkan Al Qur'an, bisa jadi rindu untuk mendengar lantunan suaranyalah yang menjadikan air mata berderai kian derasnya. Itulah gejolak kerinduan. Itulah tanda jika kita cinta kepada permata hati yang selama ini selalu berada di sisi. Kita tersadar ternyata dia sudah saatnya berpisah demi meraih surga yang dirindukan.


Saya ingin berbagi saja, sejauh ini apa yang saya lakukan jika kerinduan itu sangat bergejolak. Yang alhamdulillah, kiat-kiat ini bisa meminimalisir kerinduan itu.

Pertama: Menumpahkan air mata 

Mungkin karena saya seorang perempuan ya, menangis menjadi salah satu cara yang efektif juga untuk meluapkan kerinduan pada ananda. Sejauh ini saya tidak pernah melihat abi Nahla menangis meski sedang memandangi foto anaknya.

Ketika saya menangis, rasa sesak di dada semakin menjadi. Bagaimana beratnya berpisah seolah terasa beban yang tak kunjung berujung. Mengingat-ingat kapan tanggal akan mengunjunginya setiap bulan, semakin membuat dada sesak. Namun setelah air mata ditumpahkan, saya merasa lebih nyaman, alhamdulillah.

Dua senyum bidadari.


Kedua: Tuangkan bait-bait doa dalam kerinduan 

Biasanya, saat saya menangis, saya selalu teringat apa tujuan saya dan suami memenuhi keinginan Nahla masuk ke ponpes tahfidz. Kami ingin dia dekat dengan Allah, RasulNya, juga dekat dengan Al Qur'an sebagai petunjuk abadi seluruh alam. Tujuan itulah yang kemudian mendorong saya untuk banyak mengirimkan doa untuknya. 

Saya memohon kepada Allah Swt agar Nahla senantiasa diberikan kesehatan, kelancaran dalam berinteraksi dengan lingkungan baru, juga kemudahan dalam menghafal. Saya titipkan penjagaan sepenuhnya kepada Allah, karena Dialah yang maha menjaga, layaknya Dia pula yang menjaga kemurnian Al Qur'an dari dulu hingga sekarang.

Jangan mengucapkan kalimat-kalimat begini menurut saya: "Ibu kangen sama kamu, Nak. Kamu sehat nggak di sana? Kamu dinakalin nggak sama teman-temanmu? Kamu makan yang bergizi kan? dst..." 

Daripada kalimat begitu yang keluar, ucapkanlah doa untuk dirinya. Lantunkan pula doa untuk diri kita. Agar kita kuat berpisah, juga kuat mempersiapkan finansial dan tetap semangat menjalani aktifitas sehari-hari. Jika ucapan yang keluar adalah kekhawatiran, saya takut hal itu malah menambah berat beban kerinduan. Percayakan semua pada Allah. 

Ketiga: Bersabar dengan shalat

Setiap hari saya mengajar, dan rata-rata pulang menjelang ashar. Jika masih ada acara, biasanya akan pulang menjelang maghrib. Setelah itu beberes rumah dan melakukan sekian aktifitas bersama suami, juga Amira. Karena mereka semangat dan cinta saya juga, maka saya tak mungkin mengabaikannya.

Jadi, biasanya kerinduan kepada Nahla itu akan datang jika waktu sudah larut. Amira telah tidur, dan saya tinggal sendiri lantaran bisa jadi abinya lembur kerjaan atau sudah terlelap pula.


Saya pernah sampai tidak bisa tidur ketika Nahla untuk pertama kalinya saya tinggalkan di pondok. Meski badan sudah capek, tetap saja mata tak bisa terlelap. Akhirnya saya mengambil air wudhu. Sepanjang malam saya melakukan qiyamul lail lebih panjang dari biasanya. Lebih panjang gerakannya, juga bacaan yang saya ucapkan saya rasakan lebih lama karena menahan rasa.
Mengabadikan curahan kerinduan.

Alhamdulillah, usai shalat dan berdzikir, Allah seolah mengalihkan kerinduan saya pada hal lain. Karena waktu sudah menjelang subuh, akhirnya saya putuskan untuk bersiap diri. Mengecek perbekalan Amira ke TPA, perlengkapan isi tas saya, juga mengirim email ke redaktur majalah.

Keempat: Curhat

Sebaik-baik tempat curhat adalah kepada Rabb kita. Namun sebagai manusia, kita kadang butuh bercerita di depan manusia. Namun, pandai-pandailah mencari tempat menyandarkan kepala saat kerinduan itu menyibak. Mengapa? Jika kita curhat kepada orang yang tidak tepat, bisa jadi bukan kerinduan kita yang terobati, malah hati merasakan tambahan beban karena mendapatkan komentar atau ucapan yang kurang berkenan.

Menurut saya, jangan keluhkan kerinduan kita pada orang yang kurang bijak. Karena sejatinya, selalu ada perbedaan tiga hal antara kita dengan orang lain, yaitu: Pilihan, Prioritas, dan Target.
Pilihan sekolah untuk anak kita ke ponpes, prioritas kita untuk Al Qur'an, target kita untuk mencetak generasi rabbani....tak akan nyambung bila kita curhatkan kerinduan kita pada para orangtua yang masih berambisi pada duniawi semata.
 
Meluapkan rindu saat Allah karuniakan waktu untuk bertemu.

Kelima: Membaca atau Menghafal Al Qur'an

Al Qur'an itu asy syifa' (penawar). Ketika saya merasa sedih, saya sering melarikan diri padanya. Membacanya sebanyak mungkin, atau kadang muraja'ah (mengulang hafalan), atau kadang juga menambah hafalan meski dengan bercucuran air mata.

Bagaimana nggak bercucuran dengan air mata? Nahla di sana sibuk berinteraksi dengan Al Qur'an. Ketika di rumah atau di sekolah saya melakukan interaksi dengan Al Qur'an, seringkali saya membayangkan jika kami masih melakukan aktifitas yang sama, hanya tempat saja yang berbeda. 

Namun sungguh, membaca dan menghafal Al Qur'an bagi saya sangat menenteramkan.
 

Kerinduan kepada buah hati itu tak akan bisa dihilangkan. Kita orangtua hanya bisa meminimalisir agar jiwa raga kita tetap kuat melampaui setiap detik perjuangan ini. Demi cita-cita mulia menuju ridha Allah semata.


COMMENTS

BLOGGER: 9
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Kiat mengatur gejolak kerinduan kepada buah hati yang nyantri di pondok pesantren
Kiat mengatur gejolak kerinduan kepada buah hati yang nyantri di pondok pesantren
http://2.bp.blogspot.com/-TwhO76orvpc/Vdnu9mjC-LI/AAAAAAAAAi8/4n2oL3ih4RI/s320/gambar%2Bal-quran%2B1.png
http://2.bp.blogspot.com/-TwhO76orvpc/Vdnu9mjC-LI/AAAAAAAAAi8/4n2oL3ih4RI/s72-c/gambar%2Bal-quran%2B1.png
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2015/08/kiat-mengatur-gejolak-kerinduan-kepada.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2015/08/kiat-mengatur-gejolak-kerinduan-kepada.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy