Cerpen SETITIK HARAPAN : Isnaeni DK

Pembaca sekalian, saya suguhkan satu cerpen pilihan saya ya untuk kamu semua. Semoga menghibur dan menginspirasi harimu. Setitik Harapa...

Pembaca sekalian, saya suguhkan satu cerpen pilihan saya ya untuk kamu semua. Semoga menghibur dan menginspirasi harimu.

Setitik Harapan

Oleh : Isnaeni DK

Cuaca yang tak menentu terus menemani hari-hari Aminah yang sendu. Ia tak tega melihat raut wajah yang disuguhkan suaminya. Ia tahu benar bagaimana keuangan keluarganya saat ini. Mereka tengah berusaha mengembalikan hutang kepada Pak Haji Rohman yang sebentar lagi menemui jatuh temponya. Nominal yang bagi mereka cukup banyak itu menjadi satu fokus utama pencarian uang yang mereka lakukan.

Pak Haji Rohman memberikan waktu tiga bulan sejak peminjaman. Yang membuat Aminah juga lega, ia tak meminta bunga ataupun tambahan lebih saat mengembalikan. Namun ia sangat menyayangkan adanya ancaman yang Pak Haji katakan sesudah menyerahkan uang itu. Kekhawatiran panjang mulai menemani setiap detik yang Aminah punya.

Tiga juta rupiah berhasil ia kantongi ke rumah sakit untuk membayar biaya perawatan Amir. Ya. Tiga bulan lalu anak satu-satunya itu harus mendapatkan perawatan intensif di sebuah rumah sakit swasta. Terjadi peradangan di paru-parunya yang juga disertai sesak nafas. Bocah laki-laki itu nampak kurus selama empat hari di sana. Aminah lah yang setiap hari menungguinya. Suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik itu tentu harus berangkat mencari rizki. Karena ia tahu meski sudah mendapatkan uang untuk membayar perawatan Amir, ia juga harus menjalankan kewajibannya. Untuk melunasi hutang itu, juga kebutuhan sehari-hari yang pasti akan selalu ada.
“Bagaimana, Pak? Apa uangnya sudah cukup?” Aminah ragu menanyakan.


Dua hari lagi suaminya harus menyerahkan uang itu pada Pak Haji Rohman. Ia pun tahu terakhir menghitungnya, jumlah uang baru dua juta rupiah. Gelang dan kalungnya sudah terjual, teve telah tiada, dan tabungan suaminya terpaksa diambil dari pabrik. Tapi ternyata belum juga menjadikan seperti jumlah yang diinginkan. Aminah menahan sesak yang begitu dalam. Ia tak menyangka kalau akan begitu jadinya.
Abdul menggeleng lemas. Sore itu ia pulang dari pabrik langsung menghitung ulang uang yang ada. Ia bersyukur dalam perjalanan pulang tadi ada tetangga yang menyuruhnya memperbaiki komputer. Jadi, bisa dijadikan tambahan meski tetap saja masih kurang.
Ia menjauh dari uang itu. Mendesah dengan kuat lalu memegangi kepalanya. “Ya Allah, berat sekali beban yang harus kupikul. Apa memang rumah ini belum menjadi hak kami?”
Aminah memegangi pundak suaminya. Ia sangat tahu betapa penat pikirannya. Abdul menjadi lelaki yang paling menyesalkan nasib Amir. Perawatan di rumah sakit yang berakhir dengan kematian itu menjadikan Abdul bak orang kehilangan akal selama seminggu. Ia tak mau sholat, dan hanya mau termenung di kamar menangisi kepergian anaknya yang sudah kelas satu SD itu.

Kini, setelah dua bulan lebih ia kembali bangkit pasca musibah itu, Abdul menjadi orang yang terbebani lagi dengan pelunasan hutang dan ancaman Pak Haji Abdul. Aminah juga sampai tak percaya kalau ia akan mengusir mereka dari rumah kontrakan jika tiga juta itu tak juga lunas pada waktunya. Wanita yang selalu menutup auratnya itu mencoba memahami apa yang dirasakan suaminya. Setiap hari pun ia tak tinggal diam. Aminah menjadi buruh cuci dari tiga rumah dalam sehari. Pukul lima sampai delapan pagi ia pergi ke rumah Bu Handoko. Begitu pekerjaan selesai, langkahnya tertuju ke rumah Bu Mia. Dhuhur pulang, lalu pukul dua sampai lima sore ia menjadi buruh cuci di rumah Bu RT. Jika dari tiga rumah itu tak ada pekerjaan yang bisa dilakukan, Aminah akan mencari pekerjaan di rumah lain, atau mungkin sekedar mencuci piring di rumah makan atau restauran. Total semuanya bisa mencapai enam ratus ribu sebulan. Tapi karena begitu banyak kebutuhan setiap bulannya, yang bisa diberikan pada Abdul untuk mencicil pelunasan hutang pun hanya sedikit.
Abdul tak pernah protes. Ia juga tahu istrinya sudah pontang-panting seperti dirinya.
“Dua juta dua ratus lima puluh, Bu.” kata Abdul. “Padahal tinggal dua hari lagi. Dari mana kita dapat uang, Bu? Gaji mingguanku sudah kuminta...”
Aminah beristighfar. Masih melekat kuat dalam ingatan tentang kematian Amir. Ingin sekali ia meneriakkan kenapa harus membayar jika pada akhirnya anaknya mati? Bayangan tubuh lemas Amir pun kembali terbayang.
Kini beban yang berat pun menjadi teman yang setia. Ia sadar semua itu ujian dari Allah. Namun melihat suaminya yang kepayahan, tak urung ia ingin mengajukan protes pada Allah atas ketidakadilan yang dihadapi. Namun ia ingat apa yang sudah ia dapatkan dalam majlis taklim. Salah seorang pemateri mengatakan bahwa hidup harus dijalani dengan sabar dan syukur. Saat menghadapi musibah, ujian, atau sejenisnya kita harus bersabar. Saat menerima nikmat dari Allah maka syukur tak boleh dilupakan.
Meneteslah air matanya. Ia buru-buru meninggalkan Abdul supaya tak diketahui kalau dirinya menangis. Aminah tersungkur di pojokan tempat tidur. Ia adukan semua kesulitan yang sedang ia hadapi juga kekhawatiran akan kehilangan tempat tinggal.
“Hamba tidak masalah akan tinggal dimanapun, Ya Allah...namun hamba khawatir kondisi suami akan memburuk jika kami diusir dari sini. Berikanlah harapan itu ya Allah. Jangan sampai kami diusir. Maka cukupkanlah uang yang kami punya sampai tiga juta ya Allah...”
Masih teringat jelas bagaimana Abdul tak kuat saat takdir menjemput Amir dan semua keluhan yang keluar dari mulutnya tentang kesusahan yang mendera. Yang dikhawatirkan Aminah adalah suaminya bisa stres bila Pak Haji Rohman mengusir mereka.
“Aku sudah kehilangan harapanku satu-satunya, Bu. Amir tak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. bagaimana aku bisa bahagia kalau tak ada Amir?!”
Abdul sudah pernah mengatakan kalimat itu yang membuat Aminah gemetar. Rasa kehilangan di hatinya jelas lebih dalam karena ia ibunya. Namun sebagai muslimah yang beriman, Aminah tak ingin menangisi kepergian Amir secara berlebihan. Dan, melihat suaminya yang sudah terlihat tak bisa ikhlas, maka tekadnya semakin bulat supaya ia menjadi ibu yang tegar di mata suaminya. Namun nyatanya sampai sekarang Abdul tak berubah. Ia masih mengharapkan Amir kembali.
***
Tibalah hari itu.
“Bagaimana ini, Bu? Apa kita akan tetap di rumah tanpa menyerahkan uang ini?” sore itu mereka masih kebingungan. Abdul mulai melampiaskan ketidakberdayaannya mencari tambahan uang dengan emosi.
“Lho, Bapak kan yang minta tadi supaya kita nunggu Pak Haji datang sendiri?”
“Kamu kok malah menyalahkan aku?”
“Ibu nggak menyalahkan Bapak...”
Kedua mata Abdul membelalak. Istrinya nampak ketakutan.
“Sudah! Nambah ruwet masalah saja. Kalau memang sudah nggak ada harapan lagi kita tinggal di rumah ini, mau bagaimana lagi. Kayaknya memang kita ini banyak sialnya tinggal di sini.”
“Bapak jangan bilang begitu, nggak baik, Pak...”
“Nyatanya gitu kan? Dari awal mau kontrak Bapak udah mikir-mikir berkali-kali tapi tetap saja ragu. Tapi Ibu yang terus maksa Bapak. Jadinya gini kan? Berapapun pemasukan kita nggak pernah cukup, Amir sakit-sakitan sampai akhirnya nggak bernyawa, terakhir malah kita dililit hutang. Huh!”
“Istighfar, Pak...”
“Halah! Allah sudah nggak mau mendengar keinginan kita. Untuk apa lagi memohon ampun? Mendengar saja tidak, apalagi mengabulkan!”
Aminah memegangi dadanya. Ia takut suaminya kembali melupakan Rabb nya karena sebuah permasalaha yang tengah melanda. Ia memohonkan ampun untuk Abdul. Kata-kata Abdul bisa jadi mengarah kepada kekufuran dan kekafiran.
Terdengar langkah mendekat memasuki rumah mereka. Aminah dan suaminya saling melempar pandangan. Jantung Aminah tak bisa tenang dalam kondisi seperti itu. Ia merasakan bom waktu semakin menunjukkan angka minimnya.
“Duuul!” teriak seseorang.
Meski perasaannya tak menentu, Aminah bangkit juga. Abdul melangkah di belakang.
Dibukanya pintu. Dugaan Aminah kalau Pak Haji Rohman akan datang ke rumahnya benar. Ia datang bersama dua orang dari keluarganya, Pak Ali dan Pak Syam. Kedua orang itu bekerja di keluarahan.
“Ditunggu di rumah kok nggak muncul-muncul, Dul? Tdak lupa kan kalau sore ini kamu kudu bayar hutang ke saya?” senyum khas Pak Haji mengembang. Teganya ia tersenyum di depan keluarga yang tengah kesusahan.
“Ya, Pak Haji. Saya tahu harus mengembalikan hutang. Tapi...”
“Tapi kenapa? Uangnya hilang? Uangnya kurang? Atau uangnya udah habis lagi? Hahaha...” yang membalas malah Pak Ali. Orang bertubuh kurus itu nampak senang melihat raut wajah Abdul yang sangat kusut.
Aminah makin kebingungan dalan situasi tersebut. Ia tak tahu mengapa dua orang disamping Pak Haji tak ada kaitannya dengan hutangnya. Tapi mengapa sepertinya mereka jadi mencampuri dan tahu semua yang terjadi?
“Uangnya...masih kurang, Pak Haji. Ini baru dua juta empat ratus ribu.” Abdul menyerahkan uang dalam amplop bekas itu. Pak Ali dan Pak Syam terkekeh.
Pak Haji menerima amplop itu, lalu menghitungnya.
“Baik. Uangnya saya terima.”
Sekejap hati Aminah berbinar. “Jadi? Pak Haji nggak mengusir kami?”
Kini Pak Haji yang tertawa mendengar pertanyaan Aminah.
“Ya bukan begitu! Tetap pada kesepakatan lah. Saya terima uang ini. Tapi karena kalian nggak mampu membayar semuanya, ya mau tidak mau kalian harus meninggalkan kontrakan ini.”
“Pak Haji mengusir kalian. Tunggu apa lagi!” ujar Pak Syam.
“Pak, uang kami Pak Haji minta. Tapi kenapa kami tetap diusir? Harusnya kami dikasih tenggang waktu lagi kalau Pak Haji menerima uang itu. Atau kalau Pak Haji mau mengusir, berarti uang itu menjadi hak kami.”
“Siapa yang peduli semua itu, Dul! Peraturan itu siapa yang buat?”
“Hahaha!”
Abdul tak berkutik. Aminah sendiri tak sadar jika suaminya itu telah mengepalkan tangan kanannya. Yang terjadi kemudian Abdul menghantam dengan kuat wajah Pak Haji. Tak lama, beramai-ramai warga datang melihat keributan itu. Pak Syam segera membalas hantaman itu ke wajah Abdul. Ia tersungkur.
***
Mereka kini beratapkan jembatan. Aminah tetap menjadi wanita yang kuat di saat suaminya kembali melupakan Tuhannya. Gubuk kecil itulah yang kini menjadi tempat berlindung mereka dari panas dan hujan.
Kejadian demi kejadian telah menghiasi alur kehidupan Aminah. Dari lubang sempit yang ia sebut sebagai jendela itu, ia menatap jauh menuju tempat tinggalnya sebelumnya. Abdul sering mematung tanpa mengeluarkan ekspresi dan kata-kata. Makin pilulah hati Aminah. Meski bersama, ia merasa suaminya kini sudah tak ada. Kembalilah ia berjuang sendiri membangun hidup. Hanya ia yang dimiliki Abdul, ia sadar itu.
“Bu, aku mau makan!”
Terdengar suara Abdul yang parau. Ia hanya tahu makan minum, tidur, dan termenung.
“Jika memang ini sudah menjadi kehendak-Mu, ya Allah...hamba ikhlas...”
Aminah menutup jendelanya. Setitik harapan terukir di hatinya. Ketika masanya tiba, perjuangan dirinya akan menuai indahnya.

--Selesai--

COMMENTS

BLOGGER: 4
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Cerpen SETITIK HARAPAN : Isnaeni DK
Cerpen SETITIK HARAPAN : Isnaeni DK
http://4.bp.blogspot.com/-qKX-5XOH5Oo/VcAoH76A_hI/AAAAAAAAAe0/90PKIyB9Y5w/s1600/gambar-kartun-muslim-sedih-1.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-qKX-5XOH5Oo/VcAoH76A_hI/AAAAAAAAAe0/90PKIyB9Y5w/s72-c/gambar-kartun-muslim-sedih-1.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2015/08/cerpen-setitik-harapan-isnaeni-dk.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2015/08/cerpen-setitik-harapan-isnaeni-dk.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy