Cerpen BELANJA (HOBI UNIK ISTRIKU) karya Isnaeni DK, dimuat di majalah UMMI

Belanja (Hobi Unik Istriku) Oleh : Isnaeni DK Aku sangat mencintai istriku. Apalagi sejak bayi pertama kami lahir, aku makin ...



Belanja (Hobi Unik Istriku)

Oleh : Isnaeni DK

Aku sangat mencintai istriku. Apalagi sejak bayi pertama kami lahir, aku makin mencintainya. Kadang tanpa berpikir panjang, aku memenuhi apa saja yang diinginkannya. Baik itu berupa materi atau tidak.

Sekarang bayi kami itu sudah berusia enam bulan. Dan kemarin, untuk kesekian kalinya Mira, istriku, mengajakku ke toko perlengkapan bayi untuk membeli baju untuk si kecil. Katanya sih baju-bajunya sudah mulai tak muat pakai. Aku manut saja. Kebetulan beberapa hari yang lalu aku baru terima gaji. Namun apa yang terjadi disana? Mira memerhatikan setiap deretan box boneka, baju-baju, celana, rok, topi, kaos kaki, sarung tangan, perlengkapan mandi, sampai mainan bayi juga. Dalam hati aku membatin, pastilah nanti yang dibeli bukan saja baju. Karena biasanya memang begitu. Kalau uang gaji masih banyak, Mira semangat untuk belanja. Ada saja alasannya. Dan seperti biasa aku manut karena dua alasan : karena memang itu kebutuhannya dan aku tak bisa menolak kalau memang uang ada!

Sambil menggendong si kecil yang tidur, tangan kanannya sibuk memilah-milah baju. Ia ambil tiga atasan berkancing, dan tiga lagi tanpa kancing. Semuanya berbahan kaos. Kata Mira, biar nyaman untuk si kecil. Aku mengangguk saja setelah semua itu ia tunjukkan padaku. Lalu ia memerhatikan topi-topi bayi yang katanya lucu-lucu. Memang lucu sih, karena desainnya macam-macam. Kepala gajah, kelinci, beruang, sampai kucing juga ada. Apalagi warnanya, banyak yang biru dan pink. Dua warna yang Mira sukai.

“Topinya Zalfa kayaknya udah pada nggak muat ya, Bi. Ambil satu boleh ya?” Tangannya mencomot topi beruang berwarna pink. Aku mengangguk.

Ia mengajakku mengelilingi sudut lain yang penuh dengan kaos kaki dan mainan untuk stimulasi bayi.

“Bajunya enam aja, Mi?” Tanyaku.

“Nanti gampang lain waktu ya, Bi. Aku mau ambil mainan sama kaos kaki. Lama kan Zalfa nggak dibelikan mainan. Sekarang ia butuh stimulasi yang lebi bervariasi. Kaos kakinya juga udah mulai kusam. Ambil dua pasang nggak apa kan, Bi?”

“Terserah Ummi aja deh.”

Ia mengambil dua pasang kaos kaki. Sebuah boneka plastik dan boneka guling juga dipilahnya.

“Ini, Bi. Tolong dimasukkan keranjang.”

“Kok boneka guling segala?”

“Yah… Suamiku tercinta, posisi tidur Zalfa kan sekarang sudah sering miring kanan miring kiri. Biar dia lebih nyaman kalau dikasih guling.”

Oh, gitu ya. Mira memang tahu banyak tentang dunia bayi. Ia rajin membaca segala informasi yang berkaitan dengan parenting. Makanya ketika ia meminta sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan Zalfa, aku iyakan karena aku merasa tak lebih tahu darinya. Akhirnya, kami pulang dengan belanjaan yang cukup banyak. Baju, topi, kaos kaki, boneka plastik, dan boneka guling. Belum lagi ditambah bak  mandi bayi berbentuk bebek yang kami lihat di seberang jalan ditunjuk Mira juga. Kami pun membelinya. Seperlima gajiku habis sudah.

Majalah Ummi edisi feb 2010

Pagi ini, Mira tampak rajin sekali. Saat aku memejamkan mata lagi seusai kami melakukan tahajud bersama, ia merendam pakaian dan menyeterika. Usai menyeterika ia mencuci. Subuh tiba ia membangunkanku, mengingatkanku untuk ke masjid. Seperti biasa, ia mengatakan jangan sampai kaum yahudi merasa senang karena jamaah shalat subuh orang islam belum sebanyak ketika jamaah shalat maghrib. Aku lebih bersemangat. Tak lupa sesudahnya kami tilawah dan berdzikir bersama, dan beberapa saat kemudian Zalfa bangun. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam.

“Jalan-jalan yuk, Bi” Ajaknya sambil mengganti celana Zalfa yang baru pup.

“Jam segini?”

“Iya.”

“Apa angin paginya sudah aman buat Zalfa?”

“Kan sinar mataharinya udah kelihatan, Bi. Beda kalau mendung atau cuaca masih dingin. Itu yang nggak aman karena bisa menimbulkan vlek.”

“Oh, emang mau jalan-jalan kemana, Mi?”

“Ke rumah mbak Ratna yuk. Aku mau liat-liat jilbab. Barangkali ada yang cocok buatku. Aku lama sih Bi nggak beli jilbab.”

“Zalfa juga nanti beli juga ya kalau ada yang cocok?” Godaku.

“Hehehe….Abi tahu aja apa yang aku pikirin.”

Kami sampai juga di rumah mbak Ratna. Ia adalah relasi bisnis Mira. Mira biasa ambil jilbab dan busana muslim disana untuk dijual lagi. Sekarang ia bilang kesana hanya mau liat-liat. Tapi tidak! Aku menduga pasti ia bermaksud membelinya. Benarlah. Jilbab kaos sepinggang warna biru muda ia beli dan memilihkan sebuah jilbab kepala kelinci untuk Zalfa.

“Makasih ya, Bi. Abi suka kan sama jilbab ini?”

“Ya, Mi. aku suka kok. Cantik kalau ummi yang memakainya.”

Kami sama-sama tersenyum. Mbak Ratna juga tersenyum. Tentu saja penjual akan tersenyum jika barang dagangannya dibeli. Lain lagi jika dipilah, dipilih dengan waktu yang lama akhirnya nggak jadi beli. Mungkin muka masam dengan senyum kecut yang akan kami terima.

Tapi permasalahannya bukan itu. Kemudian, sepulang dari mbak Ratna kami cari sarapan di luar. Hmm, aku baru sadar. Hari ini aku libur. Tentulah Mira akan mengajakku jalan-jalan lebih pagi dari biasanya. Liburku yang pada hari jumat ini membuat Mira beranggapan bahwa ini hari yang pendek bersamaku. Siang jumatan, selepas itu ada jatah tidur siang uantukku. Makanya ia sengaja mengajakku jalan-jalan biar lebih lama. Alun-alun kota adalah tempat yang kami pilih untuk sarapan. Banyak lesehan nasi megono (nasi dengan uraban nangka muda) disini. Aneka gorengan juga amat menggoda. Tepat di sebelah lesehan yang kami singgahi ada penjual kaligrafi kulit hewan. Kami sama-sama memerhatikannya. Satu kutunjuk. Itu ayat kursi dan kukatakan pada Mira bahwa itu yang kusuka. Mendadak ia memintaku untuk membelinya. Alasannya dirumah kami belum ada kaligrafi yang terbuat dari kulit hewan. Memang Mira bawa uang lebih? Oh, ia pasti sudah menyiapkan ‘belanja dadakannya’. Entahlah harus salut atau apa menanggapi hobi istriku yang suka belanja ini. Kami pun beli kaligrafi itu dengan harga seratus lima puluh ribu rupiah.

Penjual kaligrafi itu pergi. Mira menatapku tajam dengan wajah panik. Kulihat Zalfa jadi tak nyaman dalam gendongannya. Ia mendudukkannya di pangkuan sebentar lalu ‘mengopernya’ padaku. Mira tampak memikirkan sesuatu.

“Aduh, Bi. Astaghfirullah..aku melupakan sesuatu. Uang abi udah berkurang banyak ya, Bi. Kayaknya kita bakal pinjam uang bu RT lagi bulan ini.”

“Kok bisa, Mi? kan kita sudah sepakat untuk nggak pinjam lagi. Ummi udah janji mau lebih teliti lagi kan?”

“Iya, tapi aku lupa, Bi. Mau gimana sekarang?”

“Memang gimana kok bisa pinjam segala?”

“Belanja kemarin kita sudah habis dua ratus ribu, tadi beli jilbab enam puluh ribu, ini barusan kaligrafi seratus lima puluh ribu. Padahal kita nunggak listrik bulan kemarin. Uang arisanku kemarin juga dipinjami dulu sama Bu winda. Bulan ini beliau bilang harus dilunasi. Terus…”

“Terus apa lagi, Mi?”

“Maaf, Bi. Semalam aku bilang sama Pak Dahlan kalau kita jadi ambil etalase…”

Kami memang merencanakan beli etalase baru untuk dagangan Mira. Tapi nanti menunggu uang kumpul dulu baru akan kuhubungi Pak Dahlan selaku yang punya. Tapi, Mira mendahului aku dan bilang kalau besok minta diantarkan sekalian akan dibayar cash. Aku diam saja menunggu apa yang akan dikatakannya kemudian. Sepertinya ada yang masih ia sembunyikan dariku.

“Beras kita sudah habis…”

“Kenapa ummi cepat-cepat bilang Pak Dahlan?”

“Ya aku nggak sabar aja Bi, dari awal buka usaha etalasenya cuma satu. Barang-barang kita kan makin banyak. Masa mau ditumpuk di dus terus jilbab-jilbabnya?”

“Lha terus nanti uangnya dari mana, Mi? Ummi harusnya nggak boleh gitu…”

“Jadi abi nyalahin ummi?”

“Ummi nggak merasa salah?”

Mira terdiam. Nada bicaraku memang rada tinggi.

Kalau saja kemarin kami hanya belanja baju bayi, kalau saja Mira menunda membeli jilbab, kalau saja kaligrafi ini tidak kami ambil, dan kalau saja Mira tidak memesan etalase, mungkin kami tak perlu pinjam uang kepada Bu RT. Malu. Nggak enak kalau pinjam berkali-kali. Aku nggak mau menumpuk utang seperti yang kulakukan sebelum Zalfa lahir. Kurasa kami berdua butuh muhasabah bersama dari kejadian ini.

Sore hari, kami bertandang kerumah Bu RT untuk meminjam uang. Tapi rupanya yang dicari tengah pergi. Kata pembantunya, beliau baru akan pulang besok. Kami pulang. Mira tampak lesu, diam. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Sambil mengelus-elus kening Zalfa, sesekali ia mengecupnya lama dengan wajah yang sendu.

Kami sama-sama tahu bagaimana Pak Dahlan. Saranku sebenarnya pesanannya dibatalkan saja, tapi buru-buru Mira bilang ia tak mau kena ‘semprot’ dari Pak Dahlan. Kami jadi terpaksa berpikir bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar etalase itu besok.

“Aku mau belanja beras dulu ya, Bi?”

“Belanja lagi?!” Pekikku.

“Aku mau beli beras, Bi. Kita mau makan apa kalau nggak beli beras? Zalfa juga butuh dibuatkan nasi tim. Udah ya aku ke warung sebentar…”

Hh, Mira. Ia semangat sekali dalam berbelanja. Belanja apa saja. Apa sih yang menarik dari belanja? Menghabiskan uang, atau jalan-jalan, atau biar tampak nggak miskin? Tapi ya itu, aku nggak bisa melarangnya.

“Bi…Bi! Kabar gembira, Bi.” Mira kembali dari warung dengan wajah berseri. “Barusan aku ketemu sama karyawan Pak Dahlan. Dia bilang etalase yang kita pesan sudah nggak ada karena Pak Dahlan lupa kita memesannya. Pas ada yang mau beli, dikasihkan. Gitu…”

“Jadi?”

“Ya berarti kita kan nggak perlu pinjam uang. Sisa uang yang ada insya Allah cukup untuk bulan ini.

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas pertolonganmu. Payahnya punya utang aku telah merasakannya. Sepanjang hari tak tenang kalau belum melunasinya. Dan hari ini aku dijauhkan dari kepayahan itu. Ya Rabb, syukur kupanjatkan pada Mu.

Malam harinya, Mira mengenakan jilbab barunya. Ia mendekatiku yang terbaring di tempat tidur. Kulihat ia tak lesu lagi.

“Abi marah ya sama ummi?”

“Ah, nggak kok. Ummi kali yang marah sama abi karena gaji abi dikit…”

“Nggak, Bi. Ummi minta maaf ya…”

“Kenapa minta maaf?”

“Karena suka belanja…” Lalu ia tersipu.

“Yah…asal memang itu kebutuhannya, udah diplotkan pemasukan dan pengeluaran dengan baik, aku nggak masalah kok, Mi. Aku nggak mau kita terlilit utang kaya dulu.”

“Iya, Bi. Maafkan aku… Aku janji akan lebih mengatur uang yang abi beri.”

Malam kian larut. Zalfa sudah tertidur pulas. Tinggal kami yang masih hangat dengan obrolan kami.

“Kok ummi suka belanja banget kayaknya. Nikmatnya apa sih, Mi?”

“Hehe, nggak tahu juga sih, Bi. Tapi kalau aku lagi belanja, serasa menjadi orang yang merdeka dan bisa memiliki segalanya. Serasa berada di lorong kenikmatan tiada batas…” Mira tertawa ringan. Saat kutanya masa bisa memiliki segalanya dengan belanja? Bukankah cinta dan kasih sayang tak bisa dibeli? Dengan enteng ia menjawab kalau ia sudah punya aku dan Zalfa. Jadi ia tak perlu membelinya. Sedang barang-barang memang harus mengeluarkan uang dulu baru bisa memilikinya.


Ah, Mira. Ada-ada saja. Semoga saja kita semua bisa lebih cermat dalam berbelanja. Mana yang menjadi kebutuhan mendesak, tidak mendesak, penting dan tidak penting. Jangan sampai kita meminjam uang untuk sebuah kebutuhan yang sebenarnya tidak mendadak dan tidak penting.




COMMENTS

BLOGGER: 7
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Cerpen BELANJA (HOBI UNIK ISTRIKU) karya Isnaeni DK, dimuat di majalah UMMI
Cerpen BELANJA (HOBI UNIK ISTRIKU) karya Isnaeni DK, dimuat di majalah UMMI
//img2.blogblog.com/img/video_object.png
http://2.bp.blogspot.com/-wfsqWrIsqVU/VeMBCTEXOJI/AAAAAAAAAnE/7IXiV830bKg/s72-c/IMG_20150830_200737.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2015/08/cerpen-belanja-hobi-unik-istriku-karya.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2015/08/cerpen-belanja-hobi-unik-istriku-karya.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy