Cerpen Isnaeni DK "Buah Cinta"

Aira, baginya adalah anugerah terindah. Baginya, gadis kecil itu adalah pelengkap dan pewarna kehidupan. Keberadaannya telah mengubah d...



Aira, baginya adalah anugerah terindah. Baginya, gadis kecil itu adalah pelengkap dan pewarna kehidupan. Keberadaannya telah mengubah dirinya menjadi pria sejati. Ia berhasil menjadi imam bagi keluarga kecilnya, meski dengan alur yang sangat tak ia harapkan.
***
Heru menutup kedua matanya. Buku diari Aira ia dekap erat sangat. Dalam gelap ia melihat bayangan istrinya bercanda tawa dengan lelaki tak dikenal. Saling beradu senyum genit yang membuat hatinya bergemuruh. Benar! Itulah yang tertulis di salah satu halaman buku diari itu. Anak perempuannya tengah menangisi kondisi yang merenggut kasih sayang ibu darinya.
“Ayah kenapa, kok duduk disitu? Harusnya kan Ayah sudah berangkat ke pabrik...” Aira mengagetkannya.
Ia membuka mata. Menatap lekat gadis kecilnya yang berusia delapan tahun.
“Nak, kita jalan-jalan yuk!” kata Heru kemudian.
“Lho...Ayah nggak bekerja?”
“Ayah cuti dua hari...”
Heru menggandeng Aira. Gadis itu bahagia sekali walau hanya jalan-jalan di sekitra komplek. Palem yang berjajar beriringan menemani perjalanan indah di pagi yang sejuk.
“Ibu nggak pulang lagi ya, Yah?” pertanyaan Aira membuat hati Heru miris.
Apakah ini karena dosa yang kuperbuat dulu ya Allah, hingga sekarang istri hamba berlaku seperti itu...
“Yah...” panggil Aira.
“O-oh...mungkin. Mungkin juga pulang sebentar lagi.”
Sendu. Benar-benar sendu hatinya.
***
“Aaaaa......”
Arin berteriak sekencang mungkin agar seluruh penduduk kampung menolongnya. Seketika itu juga pandangannya kabur tak sadarkan diri lalu semuanya gelap. Begitu ia sadar, seorang pemuda telah berbaring bersamanya dalam keadaan tak berbusana.
Arin kenal siapa pemuda itu. Dia temannya dari kota yang datang bersama beberapa orang lainnya untuk melakukan baksos. Rasa jijik terhadapnya dan dirinya sendiri pun menjalari seluruh persendiannya. Kerudung yang menutup mahkotanya pun telah lepas tercabik-cabik tangan tak tahu dosa. Kenapa Heru melakukan itu? Hanya ratapan kepada rabbnya saja saat itu yang keluar. Pemuda itu tersenyum puas atas apa yang telah ia lakukan.

Hal itu pun tersebar ke penjuru kampung. Keluarga Arin adalah keluarga terhormat. Mereka sangat malu dan tak mau tahu tentang nasib Arin. Mereka meminta Heru menikahinya namun dengan syarat lain, ia akan membawa Arin ke kota. Mereka benar-benar tak mau menerima Arin kembali menjadi anggota keluarga mereka.
“Arin mohon, Bu. Biarkan Arin tinggal disini...” ia memohon sangat kepada keluarganya.
Ibunya menatapnya sebentar lalu berpaling.
“Bukannya ibu tak sayang padamu, Rin. Tapi ini keputusan bersama. Kamu harus menerimanya...”
“Kalau begitu Arin nggak mau menikah dengan Heru!”
“Jangan membantah! Itu malah akan semakin memalukan keluarga ini!”
berlangsunglah pernikahan dengan seadanya. Seadanya perhelatan, seadanya tamu undangan, seadanya makanan yang bisa disediakan karena keluarga Arin memang sangat malas menjalankan semuanya. Mereka berharap semoga itu menjadi satu-satunya sejarah buruk dalam silsilah keluarga mereka.
Sejak pernikahan itu pun Arin dibawa ke kota. Perlu perjalanan waktu yang panjang untuk Heru bertobat atas semuanya. Tepatnya, saat Arin melahirkan. Saat itulah ia benar-benar menyesali perbuatannya dan berjanji akan menjadi lebih baik. Susah bagi Arin menerimanya. Namun apalah dayanya. Ia tetap membutuhkan pelingdung. Anaknya kelak pun membutuhkan figur seorang ayah. Dengan mengumpulkan segala kekuatan lahir dan batinnya ia pun menerima Heru.
***
“Kenapa Ayah melamun?”
Heru terperanjat. Kerikil di depannya hampir saja membuatnya terpeleset.
Ia tak menjawab. Sejurus kemudian sebuah pemandangan terlihat. Pemandangan yang berhasil membuat ia dan Aira terpaku.
Bening kristal di matanya yang jernih pun tak terbendung lagi. Aira mendekap erat tubuh Ayahnya.
“Kenapa Ibu begitu, Yah? Kenapa? Apa Ibu nggak sayang sama Aira dan lebih sayang sama om itu?” tangisnya pecah.
“Aira, sayang...sabar ya.”
Ya Allah, belumkah kau terima tobatku? Hingga buah cinta yang kemudian lahir ini harus menanggung deritanya? Atau memang Aira tak pantas untuk dikatakan sebagai buah cinta?
Ampuni hamba, ya Allah...
Aira terus membanjiri Heru dengan segudang pertanyaan. Gadis kecil itu tak kuasa melihat Ibunya yang berjalan bergandengan mesra dengan seorang laki-laki seumuran ayahnya.
“Ayo, Yah. Kita pergi saja!” ajaknya.
“Sebentar, ayah mau menemui ibumu...”
“Aira ikut...”
“Jangan! Kamu tunggu saja di sini. Maafkan ayah ya, Nak...”
“Kenapa Ayah meminta maaf?”
Heru menggeleng. “Ayah akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu.”
Ia melangkah pasti. Dipanggilnya nama istrinya. Arin menoleh namun sebentar saja. Laki-laki memperhatikan langkah Heru yang semakin mendekat kepadanya.
“Arin, kenapa kau lakukan ini?” tanya Heru.
“Siapa dia, Arin? Suamimu kah?”
Arin mengangguk.
“Oh...jadi kamu yang sudah menodai dia dulu...”
Dosa itu kembali menyeruak di dalam dadanya. Tobat itu...
“Dengarkan aku, Rin. Aku suamimu. Maaf Mas, saya mau bicara dengan istri saya sebentar. Kami butuh bicara penting.
“Sudahlah, bicara saja di sini!” jawab Arin. Wajahnya memerah menahan marah.
“Kau boleh membenciku, tapi jangan benci Aira. Aku pegang penerimaanmu terhadapku dulu saat kelahiran Aira. Saat itu aku sangat percaya kau telah memaafkanku dan bersedia mengarungi bahtera ini dengan sebaik mungkin sesuai aturan agama. Aira lah yang selalu membuatku kian baik. Harusnya kau pun demikian, Rin. Lihat dia! Lihat dia disana!”
Heru menunjuk ke arah Aira.
“Dia sangat merindukanmu. Dia kehilangan sosok seorang ibu. Entahlah bagaimana Allah menilai semua ini. Aku sudah bertobat dengan sebenar-benar tobat. Kian ke depan, aku terus menambah kualitas ibadah. Bahkan setiap hari aku selalu memohon ampun untuk dosaku terhadapmu...”
Laki-laki itu tertunduk seketika.
“Terserah kau sekarang, Rin. Kalau kau masih sayang padanya, aku yakin kau punya cara untuk memberikan penghargaan terbaik untuk anak kita. Sekali lagi kau boleh membenciku, tapi jangan benci anakku. Atau...mengabaikannya! Kau tak perlu ingat padaku yang penuh dosan ini. Tapi...ingatlah Allah, pencipta langit dan bumi...”
***
Sebulan kemudian...
“Ayah kangen nggak sama Ibu?” tanya Aira suatu sore.
“Ya kangen saja lah. Kamu pasti kangen banget...”
“Tapi...kalau Ibu udah nggak sayang sama Aira, buat apa dikangenin?”
“Jangan bilang begitu, Aira...”
Tiba-tiba saja terdengar suara salam dari depan. Aira berlari untuk membukakan pintu. Sejurus kemudian hanya hening yang ada. Arin ada di hadapannya dengan dua kopor besar. Wanita itu menatap anaknya dengan penuh cinta dan keraguan. Cinta seorang ibu yang selalu melekat dalam dirinya meski sebulan lalu ia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Keraguan yang mendalam apakah anak dan suaminya akan menerima dia kembali.
“Apa kabar, Aira?” tanyanya.
“Baik, Bu...”
“Boleh Ibu memeluk kamu, Nak?”
Aira mengangguk. Arin sangat rindu pada Aira. Tak sadar, ternyata Heru telah berdiri di belakang Aira memandangi semua yang terjadi.
Arin menegakkan tubuhnya sambil melepas dekapan.
“Biarkan aku sujud di kakimu, Mas. Aku salah mengambil keputusan...”
Heru menahannya. “ Itu hakmu, Arin. Aku paham...”
Rupanya, lelaki yang kala itu bersama dengannya itu adalah lelaki pemabuk dan tak tahu diri. Sejak ia memutuskan ikut bersamanya, Arin selalu dianiaya dan dilakukan tidak senonoh. Dijadikannya ia bak pembantu dan pemuas nafsu belaka.
“Akulah yang berdosa, Mas. Kau adalah lelaki yang bertanggungjawab. Kau adalah Ayah terbaik bagi anak kita. Masihkah kau ijinkan aku menginjakkan kakiku di rumah ini?”
“Jangan bertanya begitu, Arin. Ini rumah kita...”
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas karunia ini. Aku tak tahu seberapa besarkah dosaku di hadapanMu. Ampuni aku, ampuni aku...
Heru sangat bersyukur atas kembalinya Arin. Kelegaan yang tak terkira karena itu berarti Aira tak kehilangan lagi sosoknya. Bagaimanapun, sosok Ibu tak bisa digantikan dengan sosok manapun.

--Selesai--

COMMENTS

BLOGGER
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Cerpen Isnaeni DK "Buah Cinta"
Cerpen Isnaeni DK "Buah Cinta"
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2014/03/cerpen-isnaeni-dk-buah-cinta.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2014/03/cerpen-isnaeni-dk-buah-cinta.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy