Bersyukur atas keberadaan suami atau istri adalah bukti cinta

Mawar merah Memiliki pasangan yang sesuai dengan keinginan kita sebelum menikah dulu, adalah sebuah anugerah yang sangat berharga. Kita...

Mawar merah

Memiliki pasangan yang sesuai dengan keinginan kita sebelum menikah dulu, adalah sebuah anugerah yang sangat berharga. Kita merasa tenteram karenanya, damai di dekatnya, dan bahagia menjalani hari dengannya. Karena di luar rumah kita, mungkin masih banyak pasangan-pasangan yang merasa kecewa selepas menikah, melihat tingkah laku, ucapan atau sikap pasangan yang ternyata di luar dugaan.

Jika kita termasuk orang yang beruntung memiliki pasangan terbaik bagi diri kita, maka bersyukurlah. Bersyukur kepada Allah atas keberadaannya. Wujud syukur ini bermacam-macam. Hubungannya dengan Allah, maka kita tingkatkan kapasitas dan kualitas ibadah kita kepadaNya. Hubungannya dengan pasangan kita (suami/istri), maka kita lakukan yang terbaik untuknya. Sehingga ia lebih dicintai, juga dihargai.

Coba lihat diri kita, becerminlah. Bayangkan apa yang kita inginkan dari pasangan kita. Mungkin yang akan keluar adalah keinginan untuk selalu dimengerti, dipahami, disayang, dicinta, dan diperhatikan. Keiingina riil istri misalkan: ingin disapa dengan sapaan hangat, diberikan senyuman, perhatian lebih saat sakit, anak-anak dijaga dengan baik, atau sekadar ingin diajak jalan-jalan saat hati galau nan gundah gulana. Keinginan riil suami misalkan: ingin dimengerti saat ingin sendiri dan tak mau diganggu, ingin kopi panas telah tersedia saat ia bangun, ingin rumah selalu rapi, ingin anak-anak lekat dengan perhatian ibunya, atau mungkin ingin diperlakukan sederhana, tak berlebihan.

Apapun keinginan yang kemudian muncul dalam proses becerminnya kita itu, insya Allah intinya sama, keinginan untuk selalu dicinta dan dipahami seperti sebelumnya telah saya sebutkan. Jika hal itu sudah muncul, maka langkah selanjutnya menuju wujud syukur atas keberadaan pasangan adalah merasakan keinginan pasangan. Anggap saja jika kita ingin dimengerti, maka pasangan pun ingin dimengerti. Jika kita ingin pasangan tidak marah-marah, maka usahakan kita tak suka marah-marah kepada pasangan. Simpelnya begitu. Karena apa? Mustahil keinginan itu akan tercipta jika kita tak mau berusaha memposisikan diri.

Mari kita fokus untuk syukur terhadap keberadaan pasangan kita. Selagi ia masih berada di sisi, selagi setiap saat kita masih bisa melihatnya, maka pada saat itulah masih ada kesempatan untuk memberikan yang terbaik. Mungkin, banyak keinginan kita yang belum direspon oleh pasangan kita, dengan berbagai alasan yang ia kemukakan atau tidak. Tetapi, bukan itulah yang menjadi ukuran kita untuk menunjukkan hal yang sama. Justru kita harus fokus saja melakukan apa yang menjadi keinginan pasangan. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi kita akan membahagiakan ia? Kita tak akan pernah tahu akan sampai usia berapa kita hidup di dunia, hidup bersama dengannya.


Saya kadang geram kalau melihat sebuah FTV yang ceritanya begini. Suaminya selingkuh, tapi sang istri masih sangat sayang dan tetap sabar melayani. Bahkan saat selingkuhannya ke rumah bersama suaminya, ia tak berani melawan atau untuk sekadar marah. Ia hanya bisa menangis, dan berdoa kepada Allah. Miris lagi hati saya kalau ada tokoh anak kecilnya juga yang berperan di sana. Anaknya sering menangis dan sangat menyayangi ibunya.

Tetapi itu hanya FTV, tidak nyata. Namun saya
kemudian berpikir, bagaimana jika hal itu nyata? Ada dua kemungkinan yang bisa saya telaah dari diri wanita tadi. Pertama, karena ia mau dibodohi dan harga dirinya diinjak-injak. Kedua, karena ia sangat mencintai suaminya sehingga tetap sabar dan berusaha meluruskan ke jalan yang benar. Bahkan mengapa ia tak bisa marah itu karena mungkin ingin membuktikan bahwa mengingatkan dengan cara marah-marah itu bukanlah cara yang tepat.

Semoga saja, hal-hal seperti yang dikisahkan di televisi itu tidak terjadi pada rumah tangga kita. Yang kadang, tayangan itu tidak masuk akal dan sangat berlebihan.

Beberapa hari lalu, kepala saya pening sekali. Sisi kanan dan kiri terasa berat, dan badan tidak karuan. Saat saya cek suhu badan, ternyata 38 derajat. Badan saya menggigil, hingga terpaksa hanya berkemul selimut dan terkapar di tempat tidur. Saya punya dua anak perempuan. Empat setengah tahun, dan satunya dua bulan. Di malam yang udaranya sangat pekat itu diri ini tak mampu berbuat banyak. Rencana untuk masak akhirnya batal. Nahla juga belum membaca jilid qiroaty nya. Dedek Amira yang endut itu masih terlihat masih lapar ingin menyusu. Betapa saya tiba-tiba tak berdaya menjadi seorang istri dan ibu karena kondisi fisik tiba-tiba memburuk.

Hal yang patut saya syukuri adalah tentang suami saya. Ia rela berpayung menembus hujan untuk membeli telur sebagai bahan lauk yang cepat dimasak, cukup digoreng dengan daun bawang sudah matang dan siap makan dengan nasi hangat. Ia pun dengan keikhlasannya memijat lembut kepala saya, pundak dan sebagaian punggung saya dan membalurinya dengan minyak angin. Lagi, ia juga menemani Nahla bermain dan menanggapi segala celotehnya yang kadang sangat cerewet. Pada Amira, ia menggendongnya jika rewel.

Bagi saya, semua itu bukanlah hal yang sepele. Itu adalah hal luar biasa yang harus benar-benar saya perhatikan sebagai beberapa alasan yang mengharuskan saya bersyukur atas keberadaannya. Suami saya bukan mahluk sempurna. Dia juga punya kekurangan, demikian pun saya. Tetapi, kami memang sudah sepakat untuk saling melengkapi dalam biduk rumah tangga ini. Kami tak akan fokus pada kekurangan, melainkan fokus pada kelebihan yang mampu melejitkan kualitas hubungan dalam berumahtangga. Maka, bagaimana saya tidak bersyukur atas semua nikmat itu.


Alangkah indahnya hidup andai kita mampu membahagiakan pasangan sebelum kita membahagiakan diri kita sendiri. Alangkah cerianya waktu andai kita bisa memposisikan diri sebagai pasangan yang memahami keinginan pasangannya. Alangkah bermanfaatnya waktu kita andai dalam nafas yang masih tersisa ini, kita bisa melakukan ungkapan rasa syukur kita sebagai bukti cinta kepada pasangan.

Dimulai dari diri sendiri, tidak menuntut, jaga keikhlasan, dan fokus untuk membuktikan cinta kita kepadanya. Hal-hal di luar dugaan bisa saja terjadi andai kita tak mampu menjaga mahligai indah yang telah dibina berdua ini. Jaga agar jangan sampai roboh, kuatkan selalu ikatannya.



Salam cinta untuk Muto Sn

COMMENTS

BLOGGER: 8
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Bersyukur atas keberadaan suami atau istri adalah bukti cinta
Bersyukur atas keberadaan suami atau istri adalah bukti cinta
http://1.bp.blogspot.com/-rCD09gpk7BI/UuvbkKDfb0I/AAAAAAAAAYQ/QMbPJfMElTA/s320/Gambar+Setangkai+Bunga+Mawar+Merah+a.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-rCD09gpk7BI/UuvbkKDfb0I/AAAAAAAAAYQ/QMbPJfMElTA/s72-c/Gambar+Setangkai+Bunga+Mawar+Merah+a.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2014/02/bersyukur-atas-keberadaan-suami-atau.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2014/02/bersyukur-atas-keberadaan-suami-atau.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy