Cukup dengan yang Sedikit : Kisah Hikmah

    Suatu hari (ketika itu menjelang siang) saya bertamu ke rumah seorang kawan. Kawan saya itu hanya tinggal dengan ibunya. Ayahnya ...




    Suatu hari (ketika itu menjelang siang) saya bertamu ke rumah seorang kawan. Kawan saya itu hanya tinggal dengan ibunya. Ayahnya telah meninggal sedang saudara-saudaranya tak lagi tinggal bersama karena mereka telah berkeluarga. Dan ketika saya bertamu itulah saya mendapatkan suatu pelajaran berharga yang kadang saya melupakannya. Yaitu, prinsip hidup berkecukupan.

    Saya kesana sendiri, dan kala itu yang menyambut kedatangan saya adalah ibunya. Lalu dipersilakannya saya duduk sembari beliau memanggilkan kawan saya. Tak berapa lama pun kawan saya itu keluar menemui saya. Seperti biasa, kami bercerita tentang banyak hal. Di tengah-tengah perbincangan kami, sang ibu membawakan kepada kami teh hangat dengan sepiring singkong goreng. Nikmat sekali, bukan? Lalu, setelah  waktu dzuhur tiba, kami segera menunaikan shalat dengan berjamaah. Seusai itu saya diajak kawan saya ke dapur. Bukan untuk memasak, namun ia mengajak saya untuk makan siang. Ya. Ruang makan disana satu ruangan dengan dapur. Atau lebih tepatnya, dapur dan ruang makan dijadikan satu. Disitulah jantung saya sempat berhenti berdetak.

    Pasalnya apa? Saya melihat nasi yang ada di bakul tinggal sedikit yang perkiraan saya (atau mungkin anda juga pada umumnya) hanya cukup untuk dua porsi saja. Sedang jumlah kami saat itu adalah tiga orang. Apa mungkin ibunya mengalah untuk tak makan demi menghidangkan nasi itu pada saya? Itu batin saya kala itu. Namun saya salah. Kawan saya mengambil tiga buah piring lalu membaginya sama banyak (atau mungkin sama sedikitnya?). Di samping bakul tadi ada semangkuk sayur bayam dan dua potong tahu goreng yang terbungkus dalam plastik. Oleh kawan saya, sepotong ia letakkan di piring saya. Sepotong lagi ia bagi dua kemudian separuhnya ia letakkan di piring ibunya. Ia mempersilakan saya makan, dan kami pun makan bersama.

    Peristiwa itulah yang saya anggap sebagai pelajaran berharga. Alangkah termuliakannya saya disana. Padahal siapakah saya? Sampai-sampai kawan saya memberikan tahu yang utuh pada saya sedang ibunya hanya mendapat separuh bagian? Dan mengapa ia menyuguhkan saya makan siang padahal nasi hanya untu dua orang? Yang lebih tepatnya hanya tinggal untuk ia dan ibunya? Berbagai pertanyaan melingkup di hati saya waktu itu. Mungkin jika anda berada di posisi saya juga akan bertanya-tanya seperti saya.

    Sebuah kisah yang amat mengena buat kita semua, saudaraku. Mari kita meniliknya bersama. Ternyata apa, ketika saya berkata pada kawan saya “Biarlah, aku tak usah makan disini. Sudah cukup kenyang tadi makan singkong goreng.” Tiba-tiba ibunya berkata “Jangan takut kurang, nak. Makan saja. Semoga nasi yang sedikit ini, walau tak mengenyangkan akan menjadi sesuatu yang berkah.” Lalu saya pun berkata lagi “Tahu ini buat ibu saja, saya yang separuh.” Seketika kawan saya menimpali “Kami ingin memuliakan tamu kami. Sekalipun kau adalah kawan dekatku, kau tetap saja tamu kami. Kami harus memuliakanmu. Betul, kan Bu?” dan saya lihat pandangannya mengarah pada ibunya. Sungguh hal yang jarang saya temui.

    Saya akhirnya paham. Mereka terbiasa dengan kebiasaan baik mereka untuk selalu hidup berkecukupan dan tak merasa kurang. Satu lagi, jika mereka kedatangan tamu mereka akan selalu memuliakannya dengan apapun yang mereka miliki. Maha suci Allah, pernahkah kita melakukan hal yang sama seperti mereka? Minimal suatu hal yang hikmahnya sama seperti peristiwa di atas?

    Saudaraku, begitulah seharusnya bagaimana kita berpola hidup. Menerapkan prinsip sederhana yang sekarang bisa dikatakan mulai luntur dalam kebudayaan masyarakat kita. Kebanyakan kita ingin semua tercukupi. Jika sudah mendapat satu barang, selalu merasa kurang dan menginginkan barang yang lainnya. Apalagi jika melihat barang yang dimiliki orang lain yang tak kita punya, sering diantara kita segera ingin mendapatkannya bagaimanapun kondisi kita kala itu. Tak peduli barang itu sebenarnya kita butuhkan atau tidak rasanya sebisa mungkin kita harus memilikinya.

    Kesederhanaan. Itulah yang harus kita biasakan. Tak perlu berlebih-lebihan dalam hal apapun. Terutama dalam barang-barang keduniawian, merasa cukuplah walau itu sedikit. Coba kita perhatikan lagi peristiwa yang saya alami di atas. Kalau kita melihat nasi yang ada di bakul kita tinggal cukup atau pantasnya hanya untuk dua orang, kita pasti akan membuat nasi lagi atau mungkin membeli di warung. Atau mungkin kita tak perlu menyuguh tamu kita saja? Dengan kata lain, biarlah kita menahan lapar karena tamu kita tak pulang-pulang. Namun tidak yang dilakukan keluarga kawan saya itu. Mereka sungguh mencerminkan keluarga yang berkecukupan walau dalam pandangan banyak orang mereka dalam kekurangan.

    Saudaraku, sudahkah kita merasa cukup dengan yang sedikit? Sudahkah kita berusaha memuliakan tamu kita dengan apa yang kita punya walau itu sedikit? Mari kita merenung bersama. Ada kalanya kita dilebihkan, ada kalanya kita dalam kekurangan. Namun, janganlah kita selalu merasa kurang padahal itu sudah cukup bagi kita sebenarnya. Rasulullah sendiri, meski beliau adalah Rasul yang kaya raya, beliau selalu sederhana dalam makan, sederhana dalam berpakaian, dan sederhana dalam berbicara. Tidakkah kita ingin berpribadi seperti Rasul yang mulia itu?

    Mari, sudaraku. Bersama kita benahi diri kita dalam hidup. Jangan sampai kita tak bisa melakukan ibadan lebih hanya karena kita merasa kurang. Hanya kita merasa apa yang kita punya hanya sedikit. Istilahnya, jangan kita enggan berangkat ke masjid hanya karena kita tak punya sajadah yang mahal harganya yang penuh dengan hiasan. Pakailah apa yang kita punya, asal itu bersih. Andaipun kita tak punya sajadah, tak mengapa. Tak ada anjuran bukan untuk selalu membawa sajadah saat menunaikan shalat jamaah di masjid? Maka dari itu, mari kita bersama buka mata hati kita. Bukalah dengan lebar selebar kita membelalakkan mata kita melihat sebuah keindahan hidup yang Allah ciptakan.
    
    
Kalau dengan yang sedikit saja orang lain masih bisa melakukan ibadah lebih, mengapa kita yang diberi kelebihan tak bisa melakukan ibadah yang lebih banyak? saudaraku, jadilah pribadi yang selalu merasa cukup. Jangan hanya karena alasan sepele tentang apa yang kita punya menghalangi kita untuk berbuat lebih di mata Allah.







COMMENTS

BLOGGER
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Cukup dengan yang Sedikit : Kisah Hikmah
Cukup dengan yang Sedikit : Kisah Hikmah
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2014/01/cukup-dengan-yang-sedikit-kisah-hikmah.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2014/01/cukup-dengan-yang-sedikit-kisah-hikmah.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy