Jadi Tetangga yang Disukai Itu, Nggak Harus mengada-ada

Jumpa lagi dengan saya yang kali ini akan bahas sedikit tentang TETANGGA. Emak-emak muda dan cukup sibuk seperti saya ini sebenarnya memilik...

Jumpa lagi dengan saya yang kali ini akan bahas sedikit tentang TETANGGA. Emak-emak muda dan cukup sibuk seperti saya ini sebenarnya memiliki waktu yang sempit untuk berinteraksi dengan tetangga. Setiap hari mengajar dengan durasi yang cukup menyita waktu. Ya kan? Berangkat sebelum pukul tujuh dan pulang menjelang ashar. Selepasnya selalu ada kegiatan bakda ashar sampai menjelang maghrib. Setiap hari? Ya. Makanya saya katakan, memang waktu untuk bermasyarakat itu sengatlah terbatas.

Kecuali sekarang ini nih, kala saya masih cuti. Sekolah memberikan waktu dua bulan untuk saya cuti melahirkan. Tahu kan Hafshah Amira Kaifiy yang ada imut-imut nan nggemesin itu? Dia adalah anak ketiga saya, dan karenanyalah kini saya berada di di rumah, sudah 14 hari yang lalu tak mengajar. Padahal sekolah masih sibuk-sibuknya persiapan akreditasi dan UAS. Maaf ya teman-teman ustadza dan ustadzah, saya tak bisa banyak bantu.

Yup. Kembali kepada tetangga. Karena masa cuti ini lah, saya jadi punya waktu cukup longgar untuk berinteraksi. Namun, ternyata eh ternyata, harus lebih hati-hati nan waspada dalam menjaga lidah dalam berkomunikasi. Dalam benak saya, saya berujar dengan lembut (meski tak selembut saya, hehe) : Bu, menjadi tetangga yang disukai itu nggak harus mengada-ada. Cukup jujur dan berkata apa adanya, saling menerima, itu sudah cukup. Tak perlu ada bumbu kebohongan.

Apa yang melatarbelakangi saya berkata begitu?

Ceritanya, kemarin setelah suami berangkat mengantar Nahla sekolah. Saya langsung mengucek cucian dan segera mencucinya sampai bersih. Popok penuh ompol itu sangat menguras tenaga karena sekarang sudah masuk musim penghujan di kota ini. Langit kadang cerah, kadang pula mendung.

Saat menjemur di depan rumah, tetangga sebelah kanan saya juga sedang menjemur cucian.

Seorang ibu-ibu, yang pantas jika saya ini sebagai anaknya. Iya. Karena anak perempuannya juga seusia saya. Saya tahu.

“Alhamdulillah ya, Bu. Kayaknya langistnya cerah hari ini...” kata saya.

Si ibu mendekat.
”Iya. Musim hujan, sehari cucian nggak mesti kering...”

Saya tersenyum. Beliau lalu setengah mengecilkan volume bicaranya, sedang kedua matanya memerhatikan rumah di sebelah kiri saya pas. Hmm, ada apa ini?

“Mbak, nuwun sewu ya.” katanya.

“Kenapa, Bu?”

“Itu lho. Saya itu suka nggak tega kalau lihat cucian sudah kering, terus hujan, tapi nggak ada yang ngangkat jemurannya. Makanya kadang meski repot, saya usahakan ngangkat jemuran sebelah Mbak.”

Saya ikut menoleh ke rumah sebelah kiri saya. Itu punya mbak S. Dia setiap hari pun mengajar dan aktif dalam sebuah MLM. Pagi berangkat, pulang sore atau agak malam, atau larut. Namun memang saya perhatikan dia sangat rajin dalam hal mencuci. Dan, cuciannya selalu banyak (kayak saya, hehe)

Saya tersenyum saja menanggapi si Ibu tadi.

“Tapi ya...Mbak...” kini suaranya makin kecil dan mendekatkan mulutnya di hadapan wajah saya. Saya rada menjauh sambil sibuk menjemur bedongan Amira.

“Dia itu nggak tahu berterimakasih. Pulang-pulang sore, jemurannya udah ada yang ngangkat, tapi mana pernah dia nyari oh siapa ya yang udah ngangkatin jemuran saya?” lanjutnya.

Sampai percakapan ini, saya jadi teringat sesuatu. Dua atau tiga hari yang lalu saya pernah mendapati Mbak S pulang menjelang maghrib. Saat itu si Ibu tengah berada di depan rumahnya, sambil main dengan cucunya. Mbak S masih mengendarai motor mengklakson ringan sebagai tanda menyapa. Ia lalu mendapati cuciannya sudah terangkat dan terkumpul di depan rumah. Ya, siang itu memang hujan, walau sebentar. Dan saya tahu, si Ibu itulah yang mengangkat jemurannya. Kenapa bukan saya? Saya sibuk dengan Amira. Cucian-cucian saya pun diurus suami. Suami tentu sungkan mau ngangkatin jemuran Mbak S. Dia janda muda beranak satu. Tinggal sendiri di rumah itu.

Begitu Mbak S sadar cuciannya sudah terselamatkan, ia langsung menengok kanan kiri dan melihat kembali si Ibu.

“Bu, Ibu nopo ingkang ngangkatke cucian kulo?” (Bu, apakah ibu yang sudah mengangkat cucian saya?)

Si ibu menjawab. “Iya Mbak. Tadi hujan...”

“Makasih nggih Bu. Panjenengan dadose kulo repoti.” (Terimakasih ya Bu. Ibu jadinya saya repoti.”

Nah! Mbak S mengucapkan terimakasih kan kepada si Ibu. Kenapa tadi beliau bilang kalau Mbak S nggak pandai terimakasih?

Astaghfirullah, saya segera beristighfar. Harus lebih hati-hati nih sama si Ibu. Ucapannya belum tentu bisa dipegang. Bukannya saya lalu mengecap si Ibu tidak baik. Saya hanya waspada saja. Saya akhirnya menyimpulkan hal di atas. Tak perlu mengada-ada untuk menjadi tetangga yang baik.

Bagi saya, kalau tak ada pembahasan yang penting dengan siapapun, entah itu tetangga atau siapa saja, lebih baik bicara seperlunya atau lebih baik diam. Tak perlu merasa risih karena diam lantas mencari topik pembicaraan yang rada “hot” untuk diobrolkan.

Jika saya berada di posisi ibu tadi saat menjemur dengan saya, cukup berbasa-basi sebentar saja lalu selesaikan cucian masing-masing. Saya akan masuk rumah, dan si ibu juga masuk rumah. Selesai. Hmm, atau jangan-jangan karena si ibu ingin ngobrol sama saya karena nggak pernah ketemu ya? Nggak tahu juga. Tapi, mungkin dengan tema yang lain, yang lebih nyata. Tak perlu mengada-ada.

Karena takut semakin panjang dan lebar pembicaraannya, saya pun mempercepat pekerjaan lalu pamit masuk ke rumah.

Si ibu memanggil lagi.

“Mbak, kemarin itu bapak-bapak perumahan pada mau nggerebek dia karena kelihatan sering bawa pacar ke rumahnya. Bapak-bapak resah...”

Waduh! Ini benar atau tidak? Saya nggak tahu. Saya tersenyum lalu segera masuk. Saya nggak mau terbawa obrolan yang tak jelas benar tidaknya. Takutnya malah nanti ghibah.

Tiba-tiba saja, saya teringat satu tahun lalu saat belum pindah diperumahan ini. Di perumahan sebelumnya, saya sempat akrab dengan beberapa orang tetangga saya. Saya merasa bersikap wajar dan tak mengada-ada dengan keakraban itu, tetapi malah ternyata di belakang, mereka mengobrolkan saya dan menjelek-jelekkan. Dan nyata, apa yang mereka katakan itu tak ada yang benar sama sekali.

Saya tak mau hal itu terulang lagi.

Isnaeni DK

COMMENTS

BLOGGER: 5
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Jadi Tetangga yang Disukai Itu, Nggak Harus mengada-ada
Jadi Tetangga yang Disukai Itu, Nggak Harus mengada-ada
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2013/12/jadi-tetangga-yang-disukai-itu-nggak.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2013/12/jadi-tetangga-yang-disukai-itu-nggak.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy