Dari Ma'e Sampai Ummi : Kisah Banyak Logi Tentang Ibu : Selamat Hari Ibu 2013

Aku menyadari bahwa membicarakan sosok itu tak akan pernah ada rampungnya. Tak akan pernah ada endingnya, tak akan pernah usai. Bagaimana...


Aku menyadari bahwa membicarakan sosok itu tak akan pernah ada rampungnya. Tak akan pernah ada endingnya, tak akan pernah usai. Bagaimana denganmu? Kali ini, biarkan kutuliskan penggalan kisahku bersama sosok itu. Aku tahu. Aku bukanlah satu-satunya yang memiliki satu sosok ibu dalam hidup. Siapapun, bisa menjadi ibuku. Karenanya, maka aku selalu bersyukur dengan kebahagiaanku sekarang.


Penggalan kisah; masa lalu, masa pertengahan, masa sekarang; masa cinta yang tiada akhir

Bersama seorang wanita
Yang telah melahirkan nanda
Bersama seorang mama, bunda, ummi apapun namanya

Bersyukur kepada Allah
Bibir ini mengucap Hamdallah
Cintanya, kasihnya, semuanya
Dia beri dengan tulus

Walaupun terkadang Ummi alpa
Kadang dia juga suka marah-marah
Tapi ummi tetap yang terbaik bagi nanda
Selamanya....

Nasyid --ANN Janteng--

{Ma'e}

Dua puluh satu tahun yang silam...

"Wis...wis! Nggo ngopo maneh teko rene?! Aku wis ora butuh kowe!"
(Sudah...sudah! Untuk apa lagi kau datang kemari? Aku sudah tak membutuhkanmu!)

Suara Ma'e terdengar keras. Ibu kandungku itu membulat matanya. Ia marah. Aku asyik dengan piring-piringan, panci-pancian, sendok-sendokan, juga seperangkat alat-alat dapur berakhiran an. Di samping rumah aku mendengar jelas apa yang terjadi. Tapi, sekali lagi, aku tetap asyik dengan masak-masakan. Sendiri. Kakakku entah ke mana. Mereka berdua terus beradu ucapan.

"Aku rene mung arep ngenehi iki!"
(Aku ke sini hanya untuk memberikan ini)



Pa'e menyerahkan bungkusan plastik hitam. Aku tak menebak apa isinya. Ayah kandungku itu menatapku sekejap. Lalu, tak berapa lama Ma'e terdengar suaranya lagi. Aku tak menoleh.

"Nggo opo iki? Paling cawet kok diweneh-wenehake!"
(Buat apa ini? Celana dalam aja kok dikasih-kasihkan.)

Ma'e melempar plastik itu sampai keluar isinya. Beberapa celana dalam baru itu berhamburan. Celana dalam untuk anak-anak. Warnanya macam-macam. Itu pasti untukku.

"Iki nggo Dwik..." kata Pa'e.
(Ini untuk Dwi...)
Pa'e berwajah memelas sambil hendak memberikan plastik itu lagi namun Ma'e menolak. Ia membuangnya lagi. Saat hendak memberikannya padaku pun, Ma'e melarangku untuk menerima.

"Wis lungo kono! Aku rak sudi eruh kowe maning!"
(Sudah pergi sana! Aku tak sudi melihatmu lagi!)

Ma'e menutup pintu keras. Pa'e sama sekali tak mengejar. Makde masih memasak di dapur. Ia seakan tak peduli dengan pertengkaran mereka. Lambat laun, aku yang baru lima tahun itu lantas tahu bahwa saat adegan itu terjadi, Ma'e dan Pa'e ku sudah bercerai.

{Makde}

Tujuh belas tahun yang lalu...

Ramai orang bertakziah. Salah seorang tetangga akhirnya menemukanku.

"Oalah! Ini Dwiknya di sini!"

Beberapa tetangga yang kesemuanya adalah kaum ibu ikut membuntuti ia yang menemukanku. Raut wajah mereka menahan iba padaku yang telah yatim piatu.

Aku bersembunyi di belakang rumah. Di bawah pohon pisang yang buahnya siap diunduh itu, isak tangis terus menderai di pipiku. Makde adalah simbah perempuanku. Tapi, di hatiku dialah Ma'e sesungguhnya. Buktinya? Saat Ma'e meninggal, sama sekali aku tak menangis. Mungkin karena aku tak merasakan kasih sayang darinya. Ia sibuk dengan suaminya (ayah tiriku) dan tak memerhatikanku ataupun kakak.
Dan saat Makde meninggal, sembab mata ini tak hilang hingga hampir tiga hari.

"Mengko sekolahku kepiye? Mengko aku karo sopo? Huhuhu..."



Isnaeni Dk kecil terus menangis, menanyakan pada siapa ia akan tinggal dan menanyakan bagaimana nasib sekolahnya. Ia sadar, kala itu simbahnya yang sudah ia anggap sebagai ibu telah meninggalkan ia untuk selamanya. Setelah sebelumnya, kedua orangtuanya juga telah mendahuluinya. Terbayangkah kau pada kisah Baginda Rasul? Yatim piatu pada usia yang masih sangat dini, dan saat bersama kakek Abdul Mutholib pun tak lama. Beliau lalu meninggalkan Rasul untuk selamanya. Hingga kemudian hidupnya berpindah-pindah dengan siapanya ia tinggal.


Sesal di rasa atas setiap tingkah laku yang tak mengandung bakti. Dwik terus menangis, berharap cinta itu bisa ia rasakan kembali. Berharap ia bisa mengulang masa yang telah lalu. Jika ia tahu bahwa kematian akan dekat dengan Makde, ia akan selalu patuh apapun perintahnya. Saat itu ia sudah kelas III sekolah dasar.


{Lik}

Sejak Makde meninggal, kakak ikut seseorang bekerja di angkot, jadi kenek. Dia tak mau sekolah. SD pun tak lulus. Dan, jelas aku beda. Aku tinggal bersama keluarga Lik (bibi). Aku disekolahkan, dianggap anak dan diasuh penuh cinta olehnya.

"Bangun, Wik! Rebus air, masak nasi, nyayur bayam, goreng tempe, halaman di sapu..."
"Ya, Lik."
"Piring-piring dicuci, pakaian dilipat..."
"Ya."

"Diseterika yang rapi..."
"Ya."
"Pulang sekolah langsung ke rumah. Jangan mampir-mampir!"
"Ya, Lik."
"Ini uang sakumu. Diirit, jangan boros!"
Aku mengangguk.

Dua belas tahun lalu, pandanganku hampa di balik jendela. Membayangkan sosok Lik yang ada di Arab sana. Teringat aku pada perintah-perintahnya yang selalu mendidik, meski kadang dengan nada yang bagiku kurang mengenakkan. Saat itu aku sadar. Betapa didikannya sangat tulus dan memberikan dampak bagiku yang saat itu menginjak remaja.

Di saat banyak kawan-kawanku yang belum bisa mengerjakan pekerjaan perempuan di dapur, aku telah mahir. Menanak nasi (baik dengan kompor ataupun tungku tradisional yang bahan bakarnya kayu dan minyak tanah), memasak, beberes dapur, kusadari butuh keikhlasan dan cekatan agar bisa terselesaikan semua. Aku merasakannya sendiri. Bangun sebelum pukul 4 agar tak ada pekerjaan yang tertinggal, dan setengah 7 aku harus sudah berangkat sekolah.

Didikan Lik sangat berharga. Tahun demi tahun aku menjalaninya.

Aku menunggunya pulang kala itu, saat bangku SMP hampir kutinggalkan. Padahal masih dua tahun lagi ia akan kembali ke Indonesia. Aku merindukannya. Meski ia hanya bibi, ia adalah malaikat penyelamat hidupku yang kasih sayangnya melebihi Ma'e.

{Bapak-Ibu}

Pasutri itu orang baru dalam hidupku. Masa SMA kulalui hariku dengan mereka, juga sekawanan anak-anak senasib dalam asrama itu. Panti Asuhan.

Di sebuah malam dalam Ramadhan yang kelabu.

"Mbak Wik, maaf. Kata Bapak, nggak boleh mbukain pintu. Lagian, kunci juga ada di Bapak." teriak Nur dari lantai dua. Di sanalah kamar kami semua. Ia nampak ketakutan jika sampai Bapak tahu ia berusaha membukakan pintu untukku. Malam telah menunjukkan pukul 11.

Aku mencari cara supaya bisa masuk asrama. Namun tak ada jalan lain karena memang pintu utama hanya satu. Tak mungkin aku akan nekad naik ke lantai atas dengan tali atau mengambil tangga punya tetangga panti. Ah, aku pasrah. Kepulanganku dari rumah teman yang ternyata dianggap terlalu malam oleh Bapak, menjadikanku penghuni panti yang terkunci dari luar.

Bapak dan Ibu panti memang tegas dengan aturan. Aku lah yang salah, meski aku tahu teman-teman banyak yang kasihan padaku.




Ramadhan kedua di panti asuhan, sangat memberikan pelajaran berharga. D I S I P L I N ku masih kurang. Astaghfirullahal adhim...

"Lain kali jangan diulangi. Semua demi kebaikanmu. Apalagi kamu adalah anak perempuan." Nasihat ibu di pagi harinya terus terngiang.

Pasutri itu, jugalah jelmaan ibuku yang ke sekian...

{Mami}

Tahun 2004
"Kami ucapkan kepada pengurus OSIS yang baru. Semoga bisa mengemban amanah dan tanggungjawabnya dengan baik sampai masa periodenya berakhir."
Suara wanita itu bersahaja, namun tetap merasuk ke hati. Ia sangat keibuan, dan nyatanya ia memang ibu dari tiga anak. Mami Endah, wakasek kesiswaan kami saat itu. Saat aku baru bergabung dengan kepengurusan OSIS di SMA-ku.

Suatu ketika menjelang pernikahanku, aku datang ke rumahnya.

"Dengan siapa kamu akan menikah?" tanyanya. Lalu kujawab bahwa aku akan menikah dengan kakak kelas. Namanya lalu kusebutkan. Muto Sn.


"Kamu bahagia?" tanyanya lagi. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku tak bisa menahan haru. Ia seolah tahu betapa hari menjelang pernikahan itu adalah hari-hari menjelang pembebasanku yang sebenarnya. Hari-hari menjelang kebahagiaanku yang sejati. Setelah selama ini hidup berpindah-pindah, terombang ambing dalam lautan kesedihan dan gelombang kehidupan yang tak tentu arah, saat itu hatiku akan terlabuhkan.

Ia memelukku.

"Selamat ya, sayang. Mami akan mendoakanmu selalu. Kamu seperti anak mami sendiri..."

Tak lama, aku sudah tenggelam dalam peluknya.


{Ummi}

April 2009

"Barakallah, Bu. Bayinya perempuan..."

Agustus 2011

"Selamat ya Ibu. Bayinya laki-laki. Sehat..."

Desember 2013

"Alhamdulillah. Perenpuan, Bu. Selamat ya."

Suara-suara bidan itu...selalu menyadarkanku bahwa Ummi...adalah aku.


Kenapa Banyak Logi?

Karena kisahku dengan sosok ibu tak cukup dituangkan dalam novel trilogi atau tetralogi. Lika-liku kehidupan yang telah membuatku makan banyak asam manis pedasnya, membuatku tumbuh menjadi wanita sejati. Aku kini adalah seorang ibu juga. Anak-anakku memanggilku Ummi.

Ma'e, Makde, Lik, Ibu, Mami, Ummi, apapun namanya...tetaplah satu makna; ibu. Hari ibu 22 Desember, atau pada tanggal yang lain pun tak akan berpengaruh pada bakti seorang anak. Karena sejatinya, everyday is mother day.

Kalau aku tak cukup iman, bisa jadi aku akan mengajukan protes atas ketidakadilan yang terjadi pada diriku. Tentang apa? Tentang...kenapa aku tak merasakan indahnya berayah dan beribu. Namun, ternyata saat kini aku telah menapaki hidup lebih jauh...semakin datang jawaban-jawaban kehidupan yang menenteramkan. Apalagi saat kini aku telah menjadi seorang ibu.

Mau ibu kandungku tak cinta (anggapanku dulu), dia tetaplah wanita yang melahirkanku dengan penuh perjuangan, menyusuiku, juga mendidikku.  Apa yang bisa kuingat kini tentang ibu kandung? Memori pada penggalan kisah di atas itulah yang paling jauh, yang bisa kuingat. Jadi, sebelum episode itu, kuanggap bahwa ibu tetaplah ibuku. Aku pun tak akan menggugat ayah tiriku untuk setiap episode pahit setelahnya. Meski aku tahu, ayah tiriku masih ada dan aku pun tahu di mana ia tinggal bersama keluarganya.

Jika kau pernah merasa bahwa ibumu tak mencintaimu, tak menyayangimu...buang jauh rasa itu. Ibu kandungmu, tetaplah ibu kandungmu. Kau tak perlu menanyakan kenapa kau dilahirkan tetapi tak disayang, lantas bilang percuma, dan percuma.

Sungguh tak ada guna. Alangkah lebih indahnya jika kita tunjukkan bakti kita yang terbaik. Birrul walidaini adalah kewajiban. Ayah ibu tanggapannya bagaimana, itu di lura kehendak kita sebagai seorang anak. Kewajiban kita adalah untuk berbakti. Sayangi mereka, dan baik-baiki siapapun yang menjadi kawan dan saudara ibu kita.

Dan saat ini, yang masih kulakukan adalah menjadi istri dan ibu terbaik bagi anak dan suamiku. Merekalah cinta yang kini ada di hadapan. Merekalah kebahagiaan tak ternilai yang harus mendewasakanku. Kubiarkan masa lalu menjadi sejarah, dan masa depan menjadi impian. Aku boleh menengok ke belakang, namun bukan untuk selamanya. Sejarah itu biarkan ada, dan impian haruslah terus kukejar.

Selamat Hari Ibu

22 Desember 2013


COMMENTS

BLOGGER: 8
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Dari Ma'e Sampai Ummi : Kisah Banyak Logi Tentang Ibu : Selamat Hari Ibu 2013
Dari Ma'e Sampai Ummi : Kisah Banyak Logi Tentang Ibu : Selamat Hari Ibu 2013
http://2.bp.blogspot.com/-WnLL-qakK1c/TjqcVaF2_sI/AAAAAAAAB8k/RemdxDbfW48/s200/Puisi-Teruntuk-Ayah-dan-Ibu.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-WnLL-qakK1c/TjqcVaF2_sI/AAAAAAAAB8k/RemdxDbfW48/s72-c/Puisi-Teruntuk-Ayah-dan-Ibu.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2013/12/dari-mae-sampai-ummi-kisah-banyak-logi.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2013/12/dari-mae-sampai-ummi-kisah-banyak-logi.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy