Adli Rasyad Khan- Seharum Kesabarannya

Sendu. Datangnya hari Rabu yang bertepatan dengan tanggal kesatu di bulan Februari ini rupanya bukan jawaban kebahagiaan yang kudapat....



Sendu. Datangnya hari Rabu yang bertepatan dengan tanggal kesatu di bulan Februari ini rupanya bukan jawaban kebahagiaan yang kudapat. Bukan keindahan hidup yang kurasakan, bukan manisnya kenyataan yang kuterima, juga bukan kegembiraan yang hampir sebulan terasa hampa. Hilang adanya.

Pagi dini hari ketika jarum jam menunjukkan angka dua, Emak membangunkanku. Wanita yang jadi mertuaku itu menepuk pundakku dengan lembut.

“Put...Puput... Adli mau nenen...bangun.”

Kutengok bayi lima bulan yang terbaring lemas dengan selang oksigen juga infus. Nafasnya terdengar sangat berat. Ia nampak melirik kepadaku dengan kekuatan matanya yang sangat lemah. Aku rasakan sekali betapa ia berjuang untuk menatapku, mungkin ingin menyapa, atau ingin mengatakan bahwa ia lapar. Butuh ASI.

“Sebentar ya, Nak. Ummi perah dulu nenennya...” lirih ku berucap di telinganya. Aku yakin ia paham apa yang ibunya katakan.

Tak ada masalah dengan ASI atau payudaraku sehingga aku harus memerah ASI untuk Adli. Ia terbiasa nenen langsung selama ini. Tapi tidak ketika hari ketiga kami merawatnya di sini. Asma yang menderanya tak ada perkembangan sama sekali. Kurasa ia lebih tersiksa dengan sesak yang semakin waktu semakin membuatnya susah untuk bernafas meski sudah dengan bantuan oksigen dari tabung yang besar itu. Tapi, rupanya ia mulai kesusahan untuk meminum ASI dari sumbernya dengan sesaknya nafas itu. Meski dengan dadaku yang sesak, perih yang tertahan, kulakukan semua dengan ikhlas dan ridho. Aku tetap optimis anak keduaku bisa sembuh.

Aku masih ingat ketika pagi itu aku dan Mas Arya sampai di IGD. Saat menancapkan jarum suntik untuk mencari jalan masuknya infus, Adli harus merasakan suntikan sebanyak empat kali baru bisa diinfus. Dokter bilang ia dehidrasi sehingga darah di tubuhnya sudah mulai membeku atau tidak lancar lagi alirannya. Aku merinding. Sedang suamiku lebih memilih tak melihat adegan itu. Ia tak tega.

Kuambil pipet. Kusedot beberapa mili lalu sedikit demi sedikit kumasukkan ke mulut Adli. Mataku yang masih menahan kantuk ini bukan berarti membuat diri ini tak bisa menyaksikan lidah mungil itu bergerak lemah, ke kanan dan ke kiri. Matanya yang semakin terlihat terpejam itu masih kurasakan ia tengah menatapku hangat. Lirih selalu kuajak ia bicara meski tak ada respon apapun. Langit di luar sana cerah kah? Andai cerah, maka tidak untuk hatiku saat ini.

Sedang apa Nahla di rumah bersama Abinya? Pikiranku terbagi pada suami dan anak pertamaku yang sengaja kuminta pulang sore tadi. Biarlah aku dan Emak saja yang menjaga Adli. Rumah sakit tak baik untuk anak-anak. Apalagi kondisi Mas Arya masih kurang sehat. Ia lebih baik tidur di rumah untuk menjaga staminanya. Tak bisa dipungkiri. Ini sungguh sulit. Dalam kondisi belahan hatiku yang masih sakit, mendadak aku dicoba dengan ujian yang sangat berat. Bayiku yang tak punya riwayat penyakit apapun saat lahir mendadak harus menderita karena penyakit komplikatif . Bronchitis, asma, juga TB! Hampir roboh badanku tadi ketika dokter memvonis Adli dengan TB. Itu berarti ada kaitannya dengan Mas Arya yang punya riwayat penyakit itu. Ya Rabb...

“Mak...” urung ku membangunkan Emak. Ia langsung tidur selepas membangunkanku tadi. Ia pasti kelelahan.
Kubiarkan Adli kembali tertidur sembari kuambil air wudhu. Sejuk terasa hingga kantukku hilang. Mendadak air mataku menetes. Terbayang selalu kondisi Adli. Ia di sisiku, namun seperti tak ada.

Kukhusyukkan shalat malamku, memohon kepada yang Kuasa untuk menyembuhkan buah hatiku.

Jarum jam seolah berjalan lambat. Pukul setengah tiga kurang sepuluh menit, aku kembali duduk di dekatnya. Kuamati wajah putih itu. Kuelus lembut kepalanya, membisikkan kata-kata indah ke dalam telinganya yang bersih, juga memberikan semangat yang tulus agar ia bisa berjuang melawan semua penyakitnya. Bening kristal di mataku menetes lagi, namun segera kuucap karena aku tak mau ia merasakan kegalauanku.

Adli nampak tenang. Ia sama sekali tidak rewel selama di rumah sakit, berbeda dengan bayi-bayi lain yang tengah sakit. Aku tak tahu kenapa. Aku hanya bersyukur dengan kondisi tersebut karena membuat beban yang tengah kupikul ini tidak semakin berat adanya.


“Anak Ummi sayang...percayalah. Kau akan sembuh. Kau akan kembali ceria dan segera tengkurap. Katanya mau mainan sama Kak Nahla nanti kalau udah besar...sembuh ya sayang... Ummi berdoa selalu kepada Allah.”

Tuhan yang Maha Mengatahui pun tak memberikan waktu lama untuk memberikan jawaban kepadaku. Saat aku beranjak untuk melemaskan otot-otot dan persendian tubuhku, sebuah suara keluar dari mulut Adli. Ia seperti terkejut. Namun...

***

“Jangan! Mas nggak boleh masuk dulu. Tenangkan diri Mas, istighfarrr...”

Kutahan Mas Arya yang ingin segera melihat Adli. Matanya bercucuran air mata dengan tubuh yang lemas. Ia menghambur ke arahku.

“Maafkan Abi, Nak. Ini salah Abi...” tangisnya semakin menjadi dalam dekapanku.

“Jangan bicara begitu, Mas... Ini bukan salah siapa-siapa. Allah sudah menggariskan semuanya...istighfar...”

Hatiku tak menentu. Rasa kehilangan jelas sangat memukul jiwaku. Rasa kehilangan itu melebihi hilangnya sebuah organ pada bagian tubuh ini. Adli darah dagingku, aku yang melahirkannya. Namun tak tepat rasanya jika saat ini kuunggulkan egoku untuk menangisi kepergian Adli dengan tangisan seperti orang yang tak punya iman. Mas Arya segera kutelepon begitu aku yakin Adli telah menghembuskan nafas terakhirnya tadi saat suara itu terdengar. Emak kubangunkan, dan beliau nampak menyesal dengan semua yang terjadi.

Ya. Sore kemarin anggota keluarga berkumpul. Namun Emak menyuruh mereka untuk pulang. Aku tahu bukan kesalahan yang Emak sesalkan, hanya harapan yang ingin terulang supaya anggota keluarga bisa melihat Adli pergi untuk selamanya.

“Tapi sudahlah, Mak. Semua sudah terjadi.”  kucoba tenangkan Emak pula.

Kuraih Nahla yang digendong Budhenya. Gadis kecil berjilbab kelinci itu nampak kebingungan dengan eksprsi orang-orang yang beraneka macam. Berkali-kali ia memperhatikanku dan Mas Arya dengan tanda tanya yang besar. Air mata yang kubendung ternyata menumpahkan isinya.

“Nggak apa-apa kok, Nahla. Nahla jangan kuatir ya. Semua baik-baik aja...”

Syukurlah, gadis itu mengangguk. Namun aku tak yakin ia memahami seratus persen apa maksudku. Tahukah ia kalau adiknya telah tiada?

Kulihat Mas Arya menegakkan tubuhnya lalu menuju kamar dimana Adli di masih dipangku oleh Simbahnya.

“Udah. Jangan ditangisi...diusap dulu matanya biar nggak netesi kulit bayi...” Emak menahan langkah Mas Arya. Tak berapa lama, lelaki itu berhasil meraih jagoannya. Hati ini makin sendu. Ponsel di tangan kananku terus kupencet memberi kabar duka pada beberapa kerabat juga teman. Aku harus tegar, harus kuat!

***

Rabu itu benar-benar menjadi saksi ku kehilangan dirinya. Dengan ketegaran yang ada, kucoba menyikapi setiap ucapan bela sungkawa dengan hati yang lapang. Ku berusaha tersenyum pada semua yang datang. Telah kusaksikan ia dimandikan, disholatkan, hingga ia dimasukkan ke dalam liang lahat. Wajahnya tersenyum dan bercahaya. Ia seolah memberi pesan padaku bahwa semua belum berakhir. Ia seolah mengatakan bahwa perjuangannya melawan penyakit telah menuai hasil, yaitu tiket gratis menuju jannah-Nya.

Kala itu tawaku pun masih mengembang. Aku layaknya orang yang tak sedang tertimpa musinbah. Kepergian Adli telah kuikhlaskan. Tapi setelah seminggu kemudian, entah mengapa aku sangat mendambakannya kembali ada di sisiku. Aku rindu senyumnya. Aku rindu tatapan matanya. Aku ingin bercanda tawa dengannya sambil menikmati semua aktifitasku. Aku ingin membuatkan makanan pendamping untuknya ketika genap enam bulan nanti sambil membayangkan Kakaknya akan ikut meminta makanan itu. Nahla akan iri dan rumah ini kembali ramai.Tangisku pecah.

Usai kutunaikan sholat subuh, kubasahi mushaf yang kubaca dengan air mata yang berjatuhan. Aku sangat merasakan kehilangan itu datang kembali. Bayangnya selalu muncul di setiap detikku. Melihat sesuatu yang berhubungan dengan Adli membuatku ingat padanya dan mengucurkan butiran air mata. Selimut, pakaiannya, kaos kaki, topi, selendang, juga kereta bayi yang baru kudapat dari seorang teman. Semuanya membawa ingatanku selalu padanya.

Awalnya Mas Arya memaklumi. Ia terus mengucapkan kata-kata penghibur seperti yang kuberikan padanya. Namun kala itu setan seperti merasuk dalam tubuhku. Merasuk dari celah yang bisa menuju pusat syaraf juga hatiku. Dengan langkah tergesa-gesa aku keluar rumah melewati jalan menuju pemakaman. Mungkin suamiku itu curiga dengan apa yang kulakukan sehingga ketika aku sampai pada gundukan tanah merah yang masih basah itu, Mas Arya telah berada di belakangku. Ia memegangiku erat yang hendak membongkar kuburan Adli.

“Apa-apaan kamu, Put!? Ini sudah nggak benar! Apa yang akan kamu lakukan dengan makam Adli?”

“Aku akan membongkarnya. Aku mau ikut padanya!”

“Sadar, Put! Apa yang kamu lakukan ini salah. Adli sudah tiada dan biarkan ia tenang di sana. Jangan hilang akal!”

Kuhempas kedua tangannya. “Biarkan aku ikut Adli, Mas!”

“Kamu gila!”

Lututku mencium tanah merah. Air mataku tak mengalir lagi menatap kuburan itu. Namun hasratku masih menggebu untuk masuk dan berbaring bersama Adli di dalam sana. Aku takut ia kedinginan di sana. Bersama siapa ia di dalam tanah yang gelap? Aku memang sudah gila.

“Ingat! Adli tidak pergi, Put. Dia hanya pindah tempat. Dia di surga tengah menunggu kita. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menjadi lebih baik supaya bisa menyusulnya. Bukan menangisinya dengan berlebihan, apalagi sampai melakukan perbuatan yang dilarang! Istighfar,...”

Mendengar kata istighfar, kembali terbuka memoriku pada saat-saat terakhir di rumah sakit. Begitu tegarnya kutopang suamiku sambil terus membesarkan hatinya. Nyatanya kini mengapa aku yang jatuh?

“Sebaiknya kita pulang sekarang!” ucap Mas Arya.

“Nggak!”

“Kamu tetap mau membongkar kuburan Adli?”

“Ya.”

“Kamu sadar?”

“Ya. Aku sadar sesadar-sadarnya, Mas.”

“Kamu pikir sekali lagi apa yang akan kamu lakukan, Put. Ini nggak akan membuat Adli tenang di sana. Sekarang ia sudah jauh lebih tenang tanpa harus kamu ganggu...”

“Aku mengganggunya?”

“Ya, apalagi?!” matanya membelalak.

Melihatku yang menggelangkan kepala, ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan nada yang berat.

“Lakukanlah!”

Suara laki-laki itu terdengar pasrah. Mungkin ia paham bagaimana kerasnya aku jika telah menginginkan sesuatu. Tapi benarkah keinginan ini harus kulakukan? Hukuman apa yang akan menimpaku andai kulakukan? Sungguh, aku ingin melihatnya kembali secara nyata. Bukan sebuah foto, video, apalagi hanya barang-barang yang biasa ia kenakan saja. Itu semu.

Aku mengenggam tanah itu. Terasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku. Pemakaman yang dulu menjadi tempat mengerikan kini mungkin akan menjadi sahabat bagiku. Ada seseorang yang kutemui di sini.

Mas Arya melangkah, mendekat ke arahku. Aku tahu ia menunggu apa responku.

Alam sadar menggiringku melangkah menjauh dari pemakaman. Kurasakan sentuhan tangan Mas Arya yang begitu lembut nan hangat. Ia membimbingku dengan sabar atas kesalahan yang sudah kulakukan. Namun, kedua mata ini masih sesekali menatap ke belakang, melihat gundukan itu dengan sayu. Ada Adli di sana. Ya, kulihat ia tersenyum padaku, meski hanya sebuha ilusi.

***

Kami terdiam. Aku masih di hadapan Mas Arya yang memandangiku dengan perhatiannya yang hangat. Anganku masih ada di dekat pusara Adli. Pun bayanganyya yang kemudian menari-nari di pelupuk mataku. Hatiku perih, juga terluka. Mengapa hanya sebentar ku berada di sisinya. Kenapa aku langsung meninggalkannya tanpa menciuminya dulu? Aku takut ia kedinginan di dalam sana.

“Aku pun kehilangan sepertimu, Put. Tapi aku sadar Adli udah nggak di dunia ini lagi. Dia sudah berada di dunia yang berbeda dengan kita. Kamu sudah membuatku bangkit sejak hari pertama dia meninggal. Aku juga yakin kamu pun sama-sama bangkit sepertiku...”

Aku tak menyahut. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku!

“Lihatlah Nahla!” Mas Arya menoleh Nahla yang masih lelap dalam tidur. “Masih ada Nahla...kamu jangan berputus asa dari rahmat Allah. Hidup ini untuk dinikmati, bukan untuk disesali atau dibumbui dengan kesedihan yang berlarut-larut.”

“Gimana aku bisa menikmati hidup kalau Adli tiada? Apakah ini nikmat?” sergahku.

“Istighfar, istriku...sebuah cobaan pun bisa jadi nikmat andai kita bisa memaknainya. Buktikan kalau kita adalah ummatNya yang beriman!”

Aku terlalu bodoh ternyata untuk ini. Bagaimana bisa aku menjadi orang yang lupa diri di saat pendampingku telah bangkit? Bagaimana bisa aku menjadi wanita yang melupakan iman di dada di saat lelaki pilihanku menjadi lebih tegar dari biasanya? Aku memang harus berkaca. Tidakkah aku sadar bahwa Adli memberikan pesan tentang kesabaran? Ia tak sedikit pun mengeluh atas sakit yang menggerogoti fisik dan jiwanya.

Kutegakkan kepalaku, memandang lekat lelaki yang sedari tadi menunggu jawabanku dengan penuh sadar. Ya, aku yakin itu. Sesudahnya kulihat ia menarik tubuhku lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya.

Benar katanya. Hidup ini harus dinikmati, meski itu hanya sebuah ujian. Mas Arya kembali mengulang kata-kata itu. Ia lantas dengan lembutnya mengeluarkan kalimat-kalimat yang sungguh menggugah hatiku.

“Anak, harta, pasangan hidup itu hanyalah ujian, istriku. Semua itu hanya nikmat sementara yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang Maha Memiliki. Kita harus sadar tentang itu. Jika kita telah menyadarinya, maka yang harus kita lakukan sesudahnya yaitu mencari aktifitas yang lebih manfaat. Untuk apa kita membuang-buang waktu dengan hal yang tak berguna? Apalagi melakukan hal yang dilarang agama...”

Lirih ku memohon ampun sedalam-dalamnya kepada Allah dalam hatiku. Aku sangat yakin Dia mendengar permohonanku.

“Hidup ini sejatinya indah sekali, Put. Tetapi, akan jadi tak indah lagi kalau kita menjadi seseorang yang tak bisa menikmati hidup. Selalu merasa kurang, padahal Allah telah menentukan semuanya...Ingat pula pada usia kita yang makin berkurang. Kita pun tak tahu kapan ajal kan menjemput kita, sebagaimana kita tak tahu ajal menjemput Adli seminggu lalu...”

“Terimakasih, suamiku.” semakin ku dekatkan tubuhku ke sisinya. Tak lama, kurasakan betapa hangat tubuh ini karena pelukannya.

Biarlah Adli pergi. Ia pergi kepada tempat terindah dan terbaik untuknya. Aku harus sadar pula bahwa waktu yang Allah berikan kepadaku untuk merawatnya tak lebih dari lima bulan. Dan, kesabarannya selalu mengharumi setiap langkahku nanti. Pasti...

-selesai-

COMMENTS

BLOGGER: 2
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Adli Rasyad Khan- Seharum Kesabarannya
Adli Rasyad Khan- Seharum Kesabarannya
http://4.bp.blogspot.com/-6DfHknn8cFs/Ur78ZLPZTRI/AAAAAAAAATk/CY0azQLMVu0/s320/IMG0907A.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-6DfHknn8cFs/Ur78ZLPZTRI/AAAAAAAAATk/CY0azQLMVu0/s72-c/IMG0907A.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2013/12/adli-rasyad-khan-seharum-kesabarannya.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2013/12/adli-rasyad-khan-seharum-kesabarannya.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy