Sabarku, Permataku : Sebuah Renungan

Sabarku, Permataku Pagi itu kembali aku menyapa mentari yang redup karena rintik hujan masih belum reda juga. Sejak merampungkan shal...



Sabarku, Permataku
Pagi itu kembali aku menyapa mentari yang redup karena rintik hujan masih belum reda juga. Sejak merampungkan shalat subuh, kutanak nasi dan kusiapkan semua menu sarapan. Rendaman cucian semalam langsung saja kugarap begitu melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul lima.
Suamiku sudah bangun. Tetapi kembali tidur setelah shalat subuh. Dan sebenarnya, aku tak suka dengan kebiasaan itu. Seringkali aku mengingatkannya namun, sekali waktu ia tetap melakukannya...seperti kala pagi itu.
Biasanya aku hanya diam tak peduli. Tapi pagi itu aku seperti kerasukan setan. Begitu melihat suami kembali ke ranjang menyusul balita kami, moodku seketika berubah. Aku merasa sangat benci...sekali dengan kelakuan suamiku. Seakan-akan kebaikannya selama ini tertutup dengan satu kebiasaan yang kubenci.
Aku mendengus. Entahlah ia tahu atau tidak. Kutinggalkan ia yang sudah terpejam dengan enaknya. Dalam hati aku berucap “Enak bisa tidur lagi! Apa nggak mikir ya kalau setelah ini istrinya akan berangkat mengajar? Harusnya kan tetap bangun dan beraktifitas agar aku pun semangat. Ya...meski tak membantu pekerjaanku, setidaknya aku punya teman melakukan persiapan sebelum berangkat mengajar. Bukan tidur lagi kayak gitu.”
Akhirnya kubiarkan ia tidur. Kelak pada pukul enam akan kubangunkan...mau tidak mau.
Balitaku kubangunkan. Sambil memandikannya, kupanggil suamiku berkali-kali agar segera bangun, memanaskan motor, sarapan bersama, juga membantuku menyuapi Zalfa. Tetapi, hanya jawaban “iya” yang kudengar tanpa kemudian ia bangun dan melakukan semuanya.
Berkali-kali kupandangi jam dinding. Perasaanku tidak karuan karena tak mau terlambat. Memang sih, mulai mengajar pukul setengah delapan. Tetapi aku harus sampai sekolah pada pukul tujuh. Dan hari itu...nyaris aku terlambat untuk kesekian kalinya!
Selesai kusiapkan semuanya, kutengok cucian yang belum sempat kujemur. Aku menggerutu sendiri di depan suamiku yang sudah bangun. Ia tengah menikmati kopi dan sarapannya.
Pukul tujuh tepat, aku hendak keluar.
“Nggak sarapan dulu, Ma?” tanyanya.
Aku hanya diam. Aku benar-benar kesal.
“Nggak bawa bekal, Ma!?” katanya lagi.
Aku lirik ia dengan sengit. Ia membalasku dengan tatapan yang sama. Jangtungku sudah tak karuan. Aku ingin cepat-cepat sampai di sekolah.
“Brakk!”
Tiba-tiba ia menggebrak meja. Aku terperanjat karenanya.
“Kenapa, Pa?” tanyaku.
“Kenapa nggak bawa sarapan?”
Kugelengkan kepala. “Nggak pingin.”
“Gitu ya?”
“Papa tuh nggak tahu! Mama sudah bangun dari tadi pagi menyiapkan semuanya, Papa dibangunkan susah banget. Sekarang Mama sudah terlambat! Sudahlah nggak usah sarapan dan nggak perlu bawa bekal!”
Entahlah dari mana datangnya kata-kata itu. Aku tak pernah mengatakan itu sebelumnya. Suamiku terlihat sangat marah.
“Ya nggak usah gitu juga kali, Ma!”
“Kenapa, Papa capek? Terus enak tidur lagi? Mama juga capek, Pa. Tapi Mama nggak mungkin kalau tidur lagi!”
Pagi itu suamiku marah sekali. Aku telah melanggar apa yang tak disukainya. Dia mengatakan bahwa aku sudah berani menjawab kalimatnya.
***
Di sekolah, pikiranku tak karuan. Ingin marah tak bisa. Yang ada hanyalah perasaan menyesal yang sangat dalam. Harusnya aku meamahami bagaimana kondisi suami. Harusnya aku tak boleh sok tahu dengan menjawab pertanyaanku sendiri sebagai bentuk proses.
Astaghfirullah, aku kurang sabar. Hanya karena satu hal saja, aku sampai menghilangkan segala kebaikannya. Hanya karena satu hal saja, aku tak bisa sabar sedikit lagi sehingga suami tidak marah. Bukankah suamiku itu adalah wiraswasta yang sangat semangat memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya? Bukankah selama ini ia tak pernah minta lebih padaku? Pertanyaan itu menemani sepanjang aku mengajar. Siangnya, kupeluk ia dengan erat. Aku memohon maaf sedalamnya. Aku tahu, aku tak sepatutnya begitu.

COMMENTS

BLOGGER
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Sabarku, Permataku : Sebuah Renungan
Sabarku, Permataku : Sebuah Renungan
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2013/08/sabarku-permataku-sebuah-renungan.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2013/08/sabarku-permataku-sebuah-renungan.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy