sebuah cerpen anak yang patut untuk disimak : Air Mataku, Mimpiku

Air Mataku, Mimpiku Oleh: Isnaeni DK Tempat itu terbayang dalam anganku. Sebuah tempat yang akankujumpai kelak, namun belum pernah sam...


Air Mataku, Mimpiku
Oleh: Isnaeni DK

Tempat itu terbayang dalam anganku. Sebuah tempat yang akankujumpai kelak, namun belum pernah sama sekali aku melihatnya. Tempat yangkonon penuh dengan persamaan nasib dan penanggungan. Benarkah itu? Aku taktahu. Kata banyak orang, selalu ada keceriaan di sana. Akan ada perhatian yangtulus dari bapak dan ibu asuh. Akan ada pendidikan layak dan kecukupan makananyang menghampiri kami tanpa harus memintanya. Kami akan disekolahkan dan akanterus dididik. Kami akan mendapatkan kasih sayang meskipun yang memberikan itukepada kami bukanlah orangtua kandung kami sendiri.
Tempat itu makin terngiang. Larut aku pada tempat asing yang belumpernah kukenal. Semakin larut pula diri ini dalam kesendirian. Paman Kono danBibi Yanti masih ke sawah memetik cabe gunung.
Tersentak aku seketika. Nasi di atas tungku belum kuangkat! Padahaltadi Bibi Yanti bilang, aku harus mengangkatnya lima belas manit lagi. Dan, inisudah hampir satu jam belum kuangkat juga. Curiga aku! Jangan-jangan...nasi itusudah gosong? Ya Tuhan...
***
Paman Kono terus menunjuk kepada panci. Matanya membulat penuh,bergantian menatap ke arahku dan kepada benda tadi. Aku berkaca-kaca, namunbenda itu hanya diam. Ia hanya pasrah dengan kondisi nasi yang tak layak untukdimakan.
Nasi bukan sudah menjadi bubur, namun mengering seperti keringnyahatiku. Aku benar-benar melakukan kesalahan. Dan, seperti biasa saat aku sedih,dengan mudahnya air mata ini terjatuh. Berderai, membasahi pipiku. Sungguh, akutak pernah sengaja melakukannya. Aku adalah anak baik. Percayalah itu, Paman.
“Tari! Apa belum cukup kami mendidikmu selama ini? Apa uang sakuyang kami berikan juga kurang? Dikasih tugas kecil saja nggak becusmelaksanakan. Anak perempuan kok gitu! Mana hasil sekolahmu selama ini? Pamansama bibi ke sawah juga untuk mencari uang...untuk membiayai sekolahmu. Kamumalah nggak tahu diri dan enak-enakan tiduran!” Paman Kono melotot. Akuketakutan sekali dan belum mampu berucap.
“Tadi kan sudah bibi kasih pesan sih, Tar...” tambah Bibi Yanti.
“Huh! Mana dengar dia. Punya kuping tapi nggak buatmendengarkan omongan orangtua! Kamu tahu nggak? Di panti asuhan nanti, kamunggak akan manja-manja! Meski kamu disekolahkan di sana, tapi kamu akan tetapdiberi pekerjaan sebagai anak perempuan! Kamu akan masak, mncuci, mengepel,menyapu halaman, membersihkan tempat tidur, juga membersihkan kamar mandi. Manabisa kamu melakukannnya kalau kamu begini?”
Paman Kono menyebut tempat itu lagi. Padahal, jika aku bolehmemilih, aku lebih senang tinggal bersama Bibi Yanti daripada harus berpisah.Meski seringkali kurasakan bebanku begitu berat di rumah ini, meski aku selalumerasa beda di rumah ini, setidaknya mereka bukan orang asing. Merekakeluargaku sendiri.
“Dengarkan, Paman!” perintah Paman Kono.
Aku menganggguk pelan.
“Cuci pancinya sekarang! Masak nasi lagi!” BRAKK!!!
Paman Kono meninggalkan dapur sambil menggebrak meja. Bibi Yantiyang baik itu mendekatiku dan membisikkan sesuatu. Beliau hanya mengucapkansatu kata saja. Sabar...
Mungkin memang ini telah menjadi jalan hidupku. Aku yang baru lulusSD ini sudah terbiasa hidup mandiri lagi sendiri. Ayah dan ibuku bercerai saatumurku belum genap tiga tahun. Mereka sama-sama menikah lagi setelahnya. Akutinggal bersama ibu, ayah tiri, juga nenekku. Sedangkan ayah tinggal bersamakeluarga barunya di kampung yang aku tak tahu namanya. Hingga pada waktu-waktuselanjutnya aku tahu bahwa ia menikahi banyak wanita di luar sana. Menikah darisatu wanita ke satu wanita yang lain dengan modal KTP palsu.
Sedangkan saat aku memasuki kelas satu SD, ibu meninggal karenapenyakit asmanya. Bersama nenek lah kemudian aku tinggal. Dia adalah orang yangpaling menyayangi diriku. Bahkan aku merasa, ibuku pun tak bisa menandingikasih sayangnya padaku. Ibu tak membelaku jika ayah tiri menyiksaku. Ibu hanyadiam dan lebih memerhatikan ayah tiriku. Dengan nenek lah aku selalu mengadudan berkeluh kesah. Dia juga yang melindungiku jika ayah tiriku hendakmemperlakukanku dengan kasar.
Hanya dua tahun bersama, nenek pun dipanggil yang maha kuasa. BibiYanti datang laksana malaikat yang menyelamatkanku dari segala kesengsaraan.Bahkan dulu aku sempat berputus asa karena tak ada bayangan lagi bisa sekolah.Tak ada cita-cita lagi untuk bisa sekolah, yang ada hanya pikiran untuk putus sekolah dan selamanya menjadi anak yang tidak lulus SD.
“Kamu mau kan tinggal bersama Bibi?” Bibi Yanti memelukku erat saatorang ramai melayat. Wanita itu terus mengeluarkan kalimat penghibur padakuyang sudah yatim lagi piatu.

Kutatap ia lekat-lekat. Ada garis ketulusan yang mampu kubaca dariwajahnya. Bayangan Nenek yang baru saja dikebumikan itu masih terus menarikarena aku merasa sangat kehilangan. Tapi kala itu, Bibi Yanti adalahkenyataan. Dia benar-benar datang menjadi penolong.
Aku hanya mengangguk. Butiran bening kristal yang menetes darimataku turut menjadi saksi atas kegigihanku menjalani hidup yang penuh likuini. Kenapa aku tak seberuntung teman-teman yang masih memiliki orangtua?Kenapa aku akan dipungut seseorang menjadi anaknya? Dan kenapa, ternyataselanjutnya berlangsung masa-masa kelam? Pertanyaan itu tetap menjadipertanyaan. Dan seiring berjalannya waktu semua terjawab.
Bibi Yanti memiliki dua anak perempuan. Ana yang usianya empattahun di atasku, juga Nuri yang dua tahun lebih muda dariku.
Mbak Ana baik, dia selalu berikan nasihat jika aku salah. TapiNuri, dia sering sekali memarahiku. Apa yang tak ia sukai dariku pasti menjadialasan dia marah. Termasuk jika aku mendapat nilai yang bagus di sekolah, iaakan marah-marah dan membenciku. Entahlah, ada apa dengan dia. Aku selalu cobauntuk bersyukur karena dia masih mengijinkanku tinggal di rumahnya.
Pernah suatu kali aku bertanya padanya.
“Nuri, apa kamu nggak suka aku tinggal di sini?”
“Ngapain tanya-tanya!”
“Sepertinya begitu...”
“Kamu itu udahlah nggak usah tanya-tanya. Aku suka atau nggak kanbukan urusanmu! Yang penting kamu nggak usah minta dimanja ya sama ayah danibuku. Mereka itu cuman sayang sama aku. Jangan mengharap kamu akan dapat kasihsayang yang sama!”
Nuri lalu pergi saja sebelum aku sempat membalas. Aku tak tahukenapa ia sebegitu bencinya padaku yang ingin menyayanginya.
Mungkinkah Nuri iri? Mungkinkah Nuri ingin berprestasi seperti aku?Sama sekali aku mau untuk mengajarinya jika ia meminta. Aku ikhlas. Akubenar-benar menganggapnya sebagai saudara kandungku sendiri.
***
Ku berjalan menapaki tepian sawah. Sekolahku memang ada di ujungsawah sana, di kampung sebelah. Hari itu, Bu Latifah memintaku menemuinya. Adayang mau dibicarakan katanya. Jantungku pun kala itu berdetak lebih kencang.Mulai harap-harap cemas.
Aku tak sendiri. Bersama anak-anak kampung lain, langkah ini mantapmenjemput mimpi-mimpi masing-masing. Aku sangat yakin. Bu Latifah akanmembicarakan keberangkatanku ke kota. Kalau bukan karena Bibi Yanti yang maujadi TKW ke Arab, berat juga hati ini meninggalkan kampung halaman.
Aku melihat dari kejauhan, Nuri diantar Paman Kono menggunakansepeda motor. Ia menatapku dengan senyuman. Aku tak tahu apa arti dari senyumanitu. Hanya berharap ia tak mengejekku yang selalu ke sekolah menapaki tepiansawah.
“Tari, insya Allah minggu depan kita akan ke kota. Saya akandaftarkan kamu ke panti asuhan. Saya yakin, kamu sudah memutuskan pilihan inidengan mantap, kan?”
Bu Latifah yang baik hati itu menatapku hangat. Aku sangat menyukaitatapan itu. Kadang aku membayangkan andai ibu kandungku dulu sehangat itumenatapku. Tentu aku akan sangat bahagia dulu. Tapi, nyatanya nasibku takseberuntung itu.
“Emm...nanti ke sananya saya dengan siapa, Bu?” tanyaku.
“Dengan saya. Sekalian mendaftar SMP di sana juga. Kenapa? Kamuterlihat tidak bahagia?”
“Saya...saya...saya ingin ikut Bibi Yanti. Bibi Yanti sangat baikpada saya.”
Bu Latifah tersenyum. “Iya, saya tahu. Bibimu adalah orang yangsangat baik padamu. Dia juga lah yang selama ini menyekolahkan dan membimbingkamu. Tapi, kamu sudah bertekad kan untuk mengejar cita-citamu? Langkah masadepanmu masih panjang, Tari. Kamu harus mengejarnya agar bisa terwujud. Masihingin menjadi guru bahasa Arab kan?”
Aku mengangguk. Saat itu aku sudah hendak menangis. Aku selalu takkuat jika menyadari bahwa di sekelilingku begitu banyak orang baik yang sangatmemerhatikanku. Mereka begitu peduli meskipun aku bukan anak mereka. Meskipunaku bukan siapa-siapa mereka.
“Bagus kalau begitu. Kamu tidak boleh menjadi anak yang cengeng danudah menyerah! Dunia di luar sana sangatlah luas, Tari. Kamu tak boleh hanyaberada di desa ini. Kamu harus mencari ilmu di sana, agar banyak pengalaman.Semakin banyak pengalaman, semakin kamu akan kaya akan ilmu.”
“Bu, apa mungkin nantinya saya bisa jadi sarjana?” tanyakukemudian.
Bu Latifah tersenyum. Namun ia seperti menunggu penjelasan dariku.
“Bu, saya pernah baca koran...Indonesia memiliki banyak sarjana.Tapi banyak dari mereka yang jadi pengangguran.”
“Kamu itu...rajin membaca...”
Aku menatapnya serius.
“Lalu, setelah kamu tahu bahwa banyak sarjana yang menganggur, kamuingin tetap jadi sarjana atau bagaimana?” tanya Bu Latifah.
Aku terdiam sejenak.
“Tentu saja saya akan tetap jadi sarjana, Bu. Saya ingin menjadiorang yang pintar. Saya boleh tidak Bu kalau jadi profesor?”
Bu Latifah mengiyakan sambil tersenyum. “Kamu ingin apa lagi,Tari?”
“Saya ingin jadi penulis. Sekarang, penulis kecil sangat banyak.Tapi kenapa saya belum bisa? Saya bisa membuat cerita. Saya butuh komputer...”
***
Air mataku tak berhenti berlinang. Wanita itu telah meninggalkanrumah. Paman Kono, mbak Ana, dan Nuri tengah mengantarkan kepergiannya sampaike penampungan TKW yang hendak berangkat ke Arab. Aku selalu tak berkesempatanmenjadi bagian dari keluarga ini secara utuh. Aku selalu tak diikutkan jika adaacara bersama. Termasuk untuk mengantar Bibi Yanti saja aku tak mendapatkanajakan. Padahal aku pun ingin...sangat ingin mengiring kepergiannya. Memberikandoa tulusku sambil menatap jauh pesawat yang membawanya pergi.
Kupeluk bantal seerat-eratnya. Malam semakin larut namun semuanyabelum pulang. Nasi dan lauk sudah kusiapkan andai mereka pulang nanti. Namunhingga di penghujung kantuk mereka tak pulang jua. Aku pun ternyenyak dalamtidur hingga paginya kujumpai mereka bertiga tidur di teras.
Paman tak henti-hentinya memarahiku. Dia bilang aku semakin taktahu diuntung di rumah itu. Dia bilang telingaku tak berfungsi sehinggaberkali-kali ia menggedor pintu aku tak mendengarnya. Saat itu juga iamenyuruhku berkemas. Paman Kono memarahiku habis-habisan sembari kusiapkanpakaian dan peralatan sekolah.
“Sudah! Sana ke rumah Bu Latifah!” perintah Paman.
“Ta...ta...tapi, aku berangkatnya besok, Paman...”
“Halah! Nunggu apa lagi kamu di rumah ini?! Kamu anak perempuannggak becus! Kalau bukan karena Bibimu, aku nggak akan sudi merawatmu di rumahini!”
Kutatap laki-laki itu. Ia sungguh berbeda dengan Bibi Yanti yangselalu mencurahkan kasih sayangnya padaku. Air mataku bercucuran sambil memohonkepada paman agar memaafkan aku.
Nyatanya usahaku sia-sia. Paman semakin mengusirku. Nurisenyum-senyum sendiri di balik pintu. Apakah ia sangat senang dengan pengusiranitu? Aku jadi ingat kata-kata Bu Latifah bahwa aku tak boleh cengeng. Anakseperti aku harus selalu mengalah dan tak perlu banyak bicara melawan orangtua.Biarlah Nuri senang dengan kepergianku. Biarlah Paman tenang tanpa aku ada dirumahnya.
***
Bis yang kami tumpangi melaju sudah. Bu Latifah merangkulku kuat dalamduduknya. Ia tak hentinya menahan air mata agar tak diketahui olehku. Aku tahumeski ia mencoba menyembunyikannya dariku. Ia sangat sedih begitu tahu akudiusir. Tapi ia tak ingin aku jadi sedih karena ia pun tak kuasa menahankesedihannya. Hingga ketika kami turun untuk makan, ia memelukku erat sekali.Berulang kali ia memintaku untuk sabar dan tabah menghadapi setiap ujian.
Ketika sampai di panti asuhan, Bu Latifah menceritakan semuanya.Seorang bapak yang kemudian kutahu bernama Pak Ahmad itu menerimaku denganhangat.
Kucium punggung tangannya. Ia mengusap kepalaku.
“Tari, kamu akan melanjutkan sekolahmu ke SMP, bukan?” tanyanya.
“Ya, Pak.”
“Percayalah pada tuhanmu. Semua impianmu itu akan terwujud jikakamu bersabar dan berusaha. Tak punya bapak, tak punya ibu, tak ada biaya untuksekolah...bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Kamu harus semangat! Banyakorang yang sukses, justru berawal dari keterbatasan.”
“Keterbatasan?”
“Ya. Kamu harus yakin dengan cita-citamu, Tari. Selagi adakeinginan untuk meraihnya, insya Allah ada jalan. Anak-anak yang ada di sinisemuanya sama sepertimu. Mereka tak punya orangtua, namun mereka bersemangatmeraih cita-cita. Mereka sekolah setiap hari dan beribadah dengan rajin. Merekayakin dengan cita-cita mereka. Kamu mau kan jadi bagian dari mereka? Pantiasuhan bukanlah tempat yang hina atau membuatmu malu. Rumah ini adalah rumahpenuh cinta dan cita...”
Ya. Aku percaya itu. Sejak saat itu diri ini pun makin kuat. Sejaksaat itu pun aku semakin bertekad dengan semua impianku. Walaupun ternyatamakin banyak air mata yang kukeluarkan untuk menggapai semua, aku sadar itulahperjuangan yang sesungguhnya. Aku yakin! Anak yatim piatu pun bisa sukses!
--Selesai--


COMMENTS

BLOGGER: 3
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: sebuah cerpen anak yang patut untuk disimak : Air Mataku, Mimpiku
sebuah cerpen anak yang patut untuk disimak : Air Mataku, Mimpiku
http://4.bp.blogspot.com/-SuFOdM2__oM/UW9usrFTx4I/AAAAAAAAANY/MlyMAVRbWIw/s320/menangis.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-SuFOdM2__oM/UW9usrFTx4I/AAAAAAAAANY/MlyMAVRbWIw/s72-c/menangis.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2013/04/sebuah-cerpen-anak-yang-patut-untuk.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2013/04/sebuah-cerpen-anak-yang-patut-untuk.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy