Dibalik Kata ; Sebuah Cerpen

Pembaca yang kusayangi, teman-teman penulis...silakan mencicipi suguhan dariku :) Dibalik Kata Begitu cerianya Mareta. Wajahnya b...



Pembaca yang kusayangi, teman-teman penulis...silakan mencicipi suguhan dariku :)

Dibalik Kata
Begitu cerianya Mareta. Wajahnya bercahaya berhias senyum manis menyertai di sana. Polesan bedak tipis yang ia suguhkan hanya untukku itu makin membuatku kagum atas kecantikannya. Lembut suaranya perlahan masuk ke dalam telingaku. Istriku itu pagi-pagi sudah membangunkanku untuk shalat subuh, usai tidur keduaku sesudah menjalankan shalat malam. Bersyukurnya diriku. Meski masih datang bulan, ia tak pernah berubah malas dengan sengaja bangun agak siangan atau tak peduli denganku di pagi hari. Ia tetap melayaniku dengan setianya. Juga pada anak-anak.
“Lihat Mas, cincin ini bagus ya. Aku seneng banget lho bisa memakainya. Budhe Laili emang baik banget ya. Beliin aku cincin, kemeja mahal buat Mas, juga baju dan mainan buat anak-anak. Lihat, Mas! Permatanya...”
Untuk ketiga kalinya ia memamerkan cincin pemberian Budhenya kepadaku. Kami sekeluarga baru silaturrahim ke rumahnya kemarin. Aku juga tak menyangka kalau akan diajak keliling mal sampai akhirnya Budhe Laili membelanjakan barang-barang kepada kami begitu banyaknya. Termasuk cincin permata yang menurutku harganya sangat mahal. Kebaikannya memang sudah sejak dulu. Tapi, untuk barang sebanyak itu, membuatku menjadi tak enak hati sebagai kepala keluarga. Aku merasa tak bisa memberikan semua itu dengan gajiku yang pas-pasan. Apalagi untuk cincin seharga hampir sepuluh juta itu! Akan aku alokasikan untuk hal yang jauh lebih penting dari membelikan cincin. Bukankah Mareta sudah mengenakan cincin pernikahan di jari manisnya? Kini cincin bersejarah itu tak tampak di jarinya.
“Iya...Budhe Laili emang baik dari dulu kan?” aku hanya menanggapi demikian.
“Sering-sering aja ya, Masa kita kesana!”
“Nggak baik itu...”
“Iya, aku cuma bercanda...” senyumnya lalu terlihat lagi. Kami baru selesai dzikir bersama.
***
Siang harinya Ibu datang. Jarak rumah kami yang tak terlalu jauh dengan rumah Ibu memang membuatnya sering mengunjungi kami. Aku bersyukur. Sampai kini ku memiliki tiga buah hati, Ibu masih memberikan kasih sayang dan perhatiannya seperti dulu.
Entahlah, kata hatiku berkata lain saat mendengarkan setiap tutur kata yang Mareta keluarkan di hadapan wanita yang telah melahirkanku itu. Aku merasa, sesungguhnya ia tak pantas melakukan itu pada mertuanya. Bukan karena aku ini anak Ibu sehingga melakukan pembelaan. Tapi, kurasa hati Ibu akan sedikit tersinggung.
Sambil asyik bermain dengan Kalifa dan Sabila, Ibu menemani Mareta yang masih menyusui Amir. Aku masih melepas lelah di antara mereka. Baru beberapa menit aku pulang dari kantor.
Mareta dengan gamblangnya menceritakan semua yang kami lakukan di rumah Budhe Laili, sampai acara shoping yang penuh hura-hura itu. Tawanya renyah terdengar menandakan ada kegembiraan di sana. Tangan kanannya mulai menunjuk setiap barang yang kami terima dari Budhe Laili. Dan tentu saja, ia tak lupa menambahkan kalimat kebanggaanya pada kebaikan Budhe Laili yang selalu memberikan banyak barang kepada kami tanpa perlu menghitung untung rugi.
“Itu, Bu. Baju-baju anak-anak, kemeja Mas Hadi, juga cincin ini...semua yang mbeliin ya Budhe Laili. Baik sekali ya. Kami dijamu dengan baik di sana. Budhe Laili memang nggak pernah itungan sama aku. Anak-anak juga betah kayaknya di sana. Hehehe...”
Dan, bla bla bla. Hanya senyum yang Ibu lemparkan untuk merespon cerita Mareta. Anak-anak antusias menanggapi Umminya, maka membuat ia makin bersemangat menceritakan kembali dengan gairah yang membara. Begitu Amir, bayi kami yang berumur enam bulan itu selesai menyusu, Mareta meletakkannya di ranjangnya. Awalnya kupikir ia akan merampungkan cuciannya di belakang, namun ternyata ia mengambil baju-baju pemberian Budhe Laili lalu memperlihatkan lebih dekat kepada Ibu. Apa maksudnya? Aku mulai berpikir kalau Mareta tak puas memiliki mertua seperti Ibu. Ibu memang beda dengan Budhe Laili. Ibu tak gampang memberikan sesuatu pada kami. Selain karena Ibu lebih mengutamakan pada anaknya yang lebih membutuhkan, Ibu ingin memberi pelajaran pada kami tentang prioritas. Tapi, bukan berarti Ibu tak pernah sama sekali memberikan sesuatu pada aku atau Mareta, atau pada cucu-cucunya. Aku sangat ingin Mareta memahami hal ini. Aku tak mau ia kurang bersyukur memiliki mertua sebaik Ibu. Kalau di matanya Ibu banyak kekurangan, bagiku sebaliknya. Dan sampai kapanpun aku akan mengajaknya menghormatinya selayaknya aku memperlakukan Ibu.

Sepasang mata itu menuruti kemana arah tangan Mareta menunjuk setiap baju juga mainan. Ibu nampak senang melihat menantunya senang. Ia ikut memegang satu demi satu dan memperhatikannya seolah-olah ada kekaguman pada benda itu. Tapi aku tak yakin. Kedua bola mata itu mendadak terlihat berkaca-kaca. Mungkinkah bening kristal yang terbendung akan memancarkan airnya?
Ibu meninggalkan kami semua. Katanya hendak ke belakang. Tapi, entahlah. Firasatku jadi tak enak. Semoga hatinya baik-baik saja. Meski aku ragu.
“Mau kemana, Mas?” tanya Mareta. Ia tetap saja sibuk dengan barang-barang itu.
“Ganti baju.”Singkat saja.
Selepas kuganti pakaianku, kutilik wanita yang mulia itu. Ia terduduk sendiri di teras belakang. Memandangi taman yang tak luas.
“Ibu baik-baik saja kan?”
“Kenapa tanya begitu? Ibu baik-baik saja, Her...”
Senyumnya yang mengembang membuatku lega. “Aku harap Ibu tidak tersinggung dengan ucapan Mareta.”
“Ucapan yang mana?”
“Ya...semua yang tadi ia ceritakan. Aku pun sebenarnya nggak suka Bu kalau dia selalu memamer-mamerkan apa yang diberikan orang kepada Ibu.”
“Lho...dia kan cuma memperlihatkan. Istrimu nggak suka pamer kok. Ia cuma ingin membagi kebahagiannya kepada Ibu.”
“Benar Ibu nggak tersinggung?”
Ibu malah menatapku. “Ibu tidak apa-apa, Her... Kamu jangan khawatirkan Ibu.”
Ya. Aku percaya saja dengan Ibuku kala itu. Hingga kemudian seminggu berikutnya ketika Ibu datang, Mareta kembali menceritakan barang-barang pemberian Eyang Ratri. Beliau itu adalah adik dari neneknya yang datang dua hari sebelum kedatangan Ibu. Eyang Ratri ke rumah bersama cucu-cucunya.
“Eh...Ibu! Sendirian, Bu? Sini, Bu! Aku mau perlihatkan sesuatu pada Ibu.”
Sore itu, belum sampai Ibu menginjakkan kaki ke dalam rumah kami, Mareta sudah ekspresif dan tak sabar ingin memperlihatkan apa-apa saja barang baru yang ia miliki. Hatiku mulai tak enak, dan juga...khawatir.
Gelas, teko, piring, dan juga sendok garpu yang serba terlihat wah, yang biasa menjadi pajangan pada lemari-lemari kaca di rumah orang kaya itu, Mareta suguhkan ke hadapan Ibu. Ia baru saja duduk melepas lelah.
“Lihat, Bu. Indah, kan? Ibu tahu semua ini siapa yang belikan?” kata Mareta.
“Siapa?”
“Eyang Ratri. Seneee...ng banget aku, Bu. Eyang nggak lupa sama kami meski kami udah berkeluarga. Eyang juga masih sempat kemari. Padahal Ibu tahu kan kalau rumahnya jauh? Pakai bawa oleh-oleh segala. Kayak tau aja kalau di rumah ini belum ada barang-barang mewah seperti ini. Ibu suka yang mana? Gelasnya? Piringnya? Teko? Atau sendok garpunya? Ibu boleh pilih. Ibu boleh ambil beberapa. Kan jumlahnya banyak.”
“Nggak, Mar. buat kamu semua aja. Toh Ibu belum pernah berikan semua barang-barang ini sama kamu. Dan mungkin nggak akan pernah karena kebutuhan Ibu banyak, sedangkan uang yang Ibu miliki...kamu pasti tahu. Hanya pas-pasan...”
Deg! Tak kuasa aku hanya diam mendengarkan setiap tutur kata yang terucap dari bibir Mareta.
“Mar! Ibu kan baru datang. Kamu kok malah memamerkan ini semua...”
Ia spontan menatapku dengan tatapan aneh. Ibu sendiri memperhatikan kami.
“Ibu pamit pulang saja ya. Ibu juga baru ingat kalau ada pengajian sebentar lagi!”
 Mareta yang kini di hadapanku seolah menunggu apa yang akan kukatakan selanjutnya. Tak lihatkah ia pada pengalihan yang Ibu lakukan barusan? Ibu sengaja mencari alasan untuk pergi. Tapi, pasti ia sangat tersinggung.
“Kamu sangat tidak rasional. Harusnya kamu lebih peka dengan Ibu meski ia hanya mertuamu. Tapi kamu tau kan bahwa mertua pun orangtua kita juga? Kamu tau ilmunya. Harusnya kamu bisa mengamalkan semua. Dengan seenaknya saja mengeluarkan kalimat yang menyinggung juga barang-barang yang membuat Ibu terpukul. Kamu sengaja menyindir Ibu dengan cara ini, bukan? Ini tidak untuk pertama kalinya, Mar. aku tak suka dengan caramu memperlakukan Ibu seperti ini!”
Mareta menatapku lagi. Barang-barang yang memukaunya pun tetap terbisu tanpa bisa berkata apa-apa. Bukankah mereka benda tak bernyawa? Terang saja mereka tak bisa mengatakan penyesalan. Tapi Mareta manusia sempurna ciptaan yang Maha Menciptakan. Mengapa ia hanya membisu tanpa menjawab, padahal aku butuh penjelasan. Penjelasan yang sudah jelas adanya. Aku tahu ia memang ingin menyindir Ibuku yang tak sering memberikan benda-benda yang membuatnya senang.
Amarahku masih tersulut. Kebaikan-kebaikan yang selama ini ada pada dirinya seolah tertutup dengan kekecewaan yang kini kurasakan. Mareta istriku, selama ini aku selalu mengingatkanmu tentang ini. Mengapa kau tak bisa menangkapnya? Ibu bukan tak mau memberi, tapi nyata kau tahu alasannya. Sesak sekali rasanya dada ini seperti mendapat guyuran naluri kewanitaan yang lebih menggunakan perasaan dalam mencerna sesuatu.
“Kenapa Mas bicara begitu padaku?”
Pertanyaan itu makin membuatku gerah. Apa maksudnya?
“Kenapa Mas memarahiku?”
Kudekatkan mukaku pada Mareta. Ia tahu aku menanyakan maksud pertanyaannya. Wajahnya nampak sedikit ketakutan, seperti biasa jika ia tahu aku sedang marah.
“Mas menuduh aku. Padahal nggak sedikit pun Mas aku bermaksud menyinggung atau menyindir Ibu. Aku malah bingung mengapa tiba-tiba suamiku yang lembut ini mendadak marah besar karena hal ini? Nggak ada niat untuk pamer, nggak ada keinginan untuk membanding-bandingkan Ibu dengan anggota keluargaku yang lain, Mas. Mas salah...”
Oh ya?
“Mas, aku paham sekali. Aku memang bukan wanita terpenting yang wajib kau cintai. Ibulah yang menduduki posisi itu. Jadi aku pun tak perlu kaget sebenarnya kalau Mas dengan gagahnya membela perasaan Ibu. Aku pun tak perlu iri dengan perhatian utama Mas pada Ibu. Tapi Mas salah jika menganggapku sebagai menantu yang tak bisa menghargai perasaan Ibu mertuanya. Aku nggak ngerti mengapa Mas sesensitif ini...”
Mareta tertunduk. Apa semua yang ia katakan benar? Bahwa ia tak bermaksud menyinggung Ibu? Tapi Ibu telah tersinggung...
“Aku memang orang baru di mata Ibu, Mas. Aku memang bukan anak kandung Ibu. Tapi aku paham bagaimana Ibu. Beliau bukan orang yang mudah tersinggung. Mas boleh saja menuduhku begini tanpa memperhatikan bagaimana perasaanku. Mas tentu lebih memikirkan perasaan Ibu. Nggak apa, Mas. Nggak apa...tapi...mungkin kini aku mulai berpikir kalau Mas kurang mengenal Ibu. Kalau bukan karena sifat Ibu yang tak mudah tersinggung, aku nggak mungkin berani dengan cerianya membagi kebahagiaan dengan Ibu dengan cara seperti ini. Atau mungkin Mas belum mengenal aku sepenuhnya?”
Ia lalu membawa bayi kami ke kamar dengan menitikan air mata di kedua pipinya. Dadaku makin sesak. Tapi bukan karena kemarahan yang tadi menggerogoti hatiku. Kini hanya ada kebingungan yang bergejolak. Mungkinkah benar yang Mareta katakan bahwa aku kurang mengenal Ibu, juga dirinya?
Astaghfirullahal 'adzim. Harusnya aku lah yang menyesal. Mareta memang tipe orang yang mudah bercerita pada Ibu. Aku lupa bahwa ia pernah mengatakan bahwa dirinya sudah sangat cocok dengan Ibu sehingga tak sungkan melakukan atau curhat apapun dengan wanita itu. Mungkin memang benar. Tak terbesit dalam benaknya ada niatan untuk menyinggung Ibu.
Dan Ibu? Mungkin ia tak akan tersinggung jika aku tak menanyakan perasaannya dan sedalam hatiku memikirkan luka dalam hatinya akibat kelakuan Mareta yang kuanggap pamer. Rasanya kemudian aku menjadi laki-laki yang tak berguna, yang tak bisa mengenal orang-orang terkasihku dengan benar. Sombongnya aku yang dengan beraninya memarahi Mareta?
Lalu, bagaimana jika Ibu kini memikirkan kelakukan Mareta? Inilah yang menjadi tugasku. Klarifikasi ke Ibu. Hasil dari itulah yang akan memutuskan apakah aku harus minta maaf pada Mareta, atau sebaliknya, mengingatkan dirinya bahwa apa yang telah ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Di balik kata, tersimpan banyak makna.
***

COMMENTS

BLOGGER: 2
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Dibalik Kata ; Sebuah Cerpen
Dibalik Kata ; Sebuah Cerpen
http://2.bp.blogspot.com/-KMxa5kT7ROc/UUqZR9bCC6I/AAAAAAAAAMw/SjQS_NY-0Tk/s320/happy-muslim-family-cartoon-2.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-KMxa5kT7ROc/UUqZR9bCC6I/AAAAAAAAAMw/SjQS_NY-0Tk/s72-c/happy-muslim-family-cartoon-2.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2013/03/dibalik-kata-sebuah-cerpen_20.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2013/03/dibalik-kata-sebuah-cerpen_20.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy