Memory oh memory

Bulan Agustus...membuatku ingin mem-posting cerpen lama ini. Selamat membaca... Merdeka di Ujung Kata Bingung pada Negeri ini. I...

Bulan Agustus...membuatku ingin mem-posting cerpen lama ini.
Selamat membaca...

Merdeka di Ujung Kata
Bingung pada Negeri ini. Itu yang kurasakan dari dulu hingga sekarang. Sudah pasca reformasi lebih dari sepuluh tahun, keadaan Indonesia yang kucintai ini bagiku tetap sama. Indonesia belum memiliki pemimpin yang benar-benar bisa diandalkan. Kondisi ekonomi carut-marut, korupsi dimana-mana, isu teroris kembali meyemarakkan, dan yang tak pernah hilang dari dulu adalah kemiskinan. Bahkan dengan alasan kemiskinan seorang ibu rela menjual anak dalam kandungannya. Karena kemiskinan, seorang ibu membuang anaknya yang baru lahir ke dalam tong sampah. Dan juga, dengan alasan kemiskinan seorang ibu atau bapak rela membunuh anaknya sendiri! Kemana naluri mereka?
Ah! Pusing aku dengan berita teve yang setiap hari kupelototi. Sekarang ini, disana-sini banyak warga yang sedang semangat empat lima membersihkan kampung mereka. Menata kembali desa, dan menghiasinya dengan joglo-joglo dan tugu selamat datang. Cat yang beraneka warna, seni huruf yang menyertai setiap kata “DIRGAHAYU RI” bertebaran disana-sini memeriahkan sebuah hari bersejarah. Itu kata mereka, bukan kataku. Ya, kulihat banyak sekali yang menyelenggarakan kegiatan serupa. Lomba menghias joglo, lomba pembuatan patung Soekarno-Hatta, pembuatan tumpeng, juga aneka lomba yang biasa kulihat setiap agustusan. Panjat pinang lah, jalan santai lah, ya apa lah. Yang semuanya membuatku bingung. Anak-anak juga asyik dengan lomba kelerengnya, juga karnaval atau arak-arakan.
Di satu sisi Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Tapi, apa benar-benar sudah merdeka bangsa ini? Ibu saja masih geram melihat fenomena ketidakmaluan para pemimpin bangsa melakukan tindakan yang sangat diluar batas kewajaran.
“Agustusan lagi, agustusan lagi. Foya-foya lagi, foya-foya lagi...”
Ibu yang selalu sibuk dengan lima anak ayamnya itu, tak henti-hentinya menyesali peringatan hari bersejarah itu.
“Man, Ibu ini ya. Walapun ndak sekolah tinggi seperti kamu, Ibu tahu kalau sebenarnya Indonesia ini belum merdeka! Plokramasi ya plokramasi, tapi rakyat masih miskin!”


“Proklamasi, Bu.”
“Apa lah katamu itu. Plokramasi lah, pro..kla...masi lah...Hh,..”
“Memang kenapa, Bu? Kok mendadak ngomongnya begitu?”
“Lha Ibu gemes, Man sama pemerintah. Kamu lihat tho kalau banyak yang korupsi? Mungkin kita akan selamanya miskin disini. Ya itu, karena pemimpinnya yang nggak bener! Uang rakyat dimakan,..”
“Ya, nggak semua karena pemimpin kita lah, Bu. Ada juga yang baik, yang nggak mencuri uang rakyat.”
“Iya! Ibu tahu! Tapi berapa banyak kalau dibanding dengan mereka yang nggak bener? Pajak yang dimasukkan ke kantong sendiri..hah...Ibu pokoknya nggak mau ikut lomba tumpeng! Paling-paling kalau nggak menang, nanti dimakan sama orang sekampung...”
Ibuku, apa beliau juga berpikiran sama sepertiku ya? Benar juga kata Ibu. Simbol proklamasi itu belum sempurna terealisasikan. Apa yang bangsa ini lihat hanya dalam pandangan sebelah mata. Ketimpangan sosial, argh! Lelah juga rasanya. Apalagi orang nganggur sepertiku. Gelar Sarjana Ekonomi yang kusandang kini belum memberikan hasil. Ya sih, memang niat kuliah dulu untuk cari ilmu. Tapi, kalau nggak punya kerjaan, kapan bisa nikah? Lho, kok jadi ngomongin ini?
“Si Rohman tu, enak. Tinggal pakai ijasah kuliahnya bisa kerja. Terus nikah...Lha kita, mana bisa ya?”
“Ya...jadi tukang ojek sejati aja lah, Bang!”
“Iya, Bang. Tukang ojek itu udah bagus. Lihat aku, jadi buruh kayu, hah...dapetnya kadang dikit...”
“Kadang dikit...kalau pas banyak...?”
“Hahahaha....”
“Kita pinjem saja yuk ijasahnya si Rohman....”
“Hahahaha....”
Sebenarnya hanya mau lewat saja ke warung Lek Minah. Mau beli beras. Tapi orang-orang yang sedang kumpul-kumpul di pos ronda ternyata sedang membicarakan aku. Mereka itu nggak bersyukur dengan kemerdekaan mereka yang sudah punya pekerjaan. Mereka tak tahu bagaimana aku yang nggak enak kalau nganggur. Mereka pikir enak apa kesana kemari mencari lowongan kerja? Dan apa mereka tahu kalau aku ditolak setiap kali memasukkan lamaran? Ibu marah-marah, nggak mau senyum. Bukannya menghibur, malah diomelin anaknya ini. Lho! Kok jadi aku yang nggak bersyukur?
Terakhir, aku memasukkan lamaran ke perusahaan periklanan sebagai staf akunting. Berharap semoga Ibu tak kecewa jika nanti ditolak lagi. Atau mungkin diterima di awal tapi gagal waktu wawancara. Ah, sekarang malah pesimis!
Lewat di depan mereka, Kang Paimin, Suradi, Yusuf, dan Agus langsung bungkam dari pembicaraan. Mereka tak lagi membicarakanku, melainkan mengganti topik dengan segera. Mereka mungkin berpikiran kalau aku tak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Ijasah sarjana? Ah, tahu apa mereka? Ya bukan bermaksud menyepelekan mereka yang hanya lulusan SMP dan SMA, tapi apa yang mereka perbincangkan sungguh telah membuatku emosi.
“Eh, kamu Man. Mau beli apaan?” tanya Kang Paimin.
“Beli beras, Kang. Disuruh Ibu.”
“Pasti mau buat lomba tumpeng ya?”
“Kurang paham, Kang.”
“Man, sudah diterima kerja dimana? Denger-denger kamu mau nikah?” kali ini Kang Suradi bertanya sekaligus menanyakan sesuatu yang membuatku kaget setengah mati.
“Ah, Kang…setiap laki-laki bujang pasti mau nikah lah…”
“Kerja dimana sekarang?”
“Di rumah, Kang. Bantu Ibu…”
Aku berlalu. Warung di hadapan sudah sepi pembeli.
***
Tak bisa kupungkiri kalau sampai rumah pikiranku semakin tak karuan. Baru saja memikirkan Indonesia yang kurasa belum merdeka, sekarang malah memikirkan apa tadi? Nikah? Kang Suradi itu terkenal paling mudah dapat kabar berita di kampung ini. Apa yang dia bilang biasanya tepat. Nah kalau tadi dia bilang dengar kabar aku mau nikah, pasti ada yang sudah menyalakan api. Siapa?
Ibu lantas mengambil beberapa takar beras untuk ditanak. Aku membantunya mengiris bumbu. Katanya, Ibu mau masak semur jengkol. Tapi karena kemudian terdengar panggilan dari masjid agar para pemuda desa berkumpul di lapangan, kuhentikan aktifitas. Sengaja kami akan dikumpulkan untuk kerja bakti. Membersihkan lapangan yang akan digunakan untuk lomba-lomba di desa ini.
“Mau berangkat kamu, Man?” tanya Ibu. Aku mengangguk.
“Mbok ndak usah lah…buang-buang tenaga…”
“Bu, ya ndak baik tho. Yang lain kerja bakti, masa aku nggak?”
“Ah, buat apa. Ibu saja nanti ndak mau ikut kumpulan RT. Paling-paling mau bahas lomba tumpeng lagi!”
“Aku ke lapangan ya, Bu. Kalau sudah selesai langsung pulang kok.”
Ibu menjawab dengan diamnya. Lalu kulihat beliau sibuk mengaduk-aduk jengkol yang sedang direbusnya.
Sampai sana, kata-kata dari beberapa orang membuatku tak menduga. Mereka sibuk membersihkan rerumputan dengan alat yang mereka bawa, namun mulut mereka membicarakanku. Aku, kata mereka sudah bekerja di perusahaan periklanan. Aku, katanya dua bulan lagi mau menikah dan sengaja tak memberitahu warga. Parahnya lagi, gadis yang mau jadi istriku itu kata mereka adalah adik salah seorang diantara mereka. Latifah, adik Hendro.
Kulihat Hendro tak sedikitpun menatap atau menyapaku dengan senyum. Dia memang kelihatannya tidak begitu suka dengan aku sejak dulu. Sejak kecil. Kalau dia tahu aku mau menikahi adiknya, apa tak makin marah dia? Hah! Dua bulan lagi menikah, pasti Ibu sudah super sibuk dan tak bisa tidur.
Mungkin, aku yang belum merdeka. Mungkin pula Indonesia dan aku sama-sama belum merdeka. Sejak dulu, di desa ini aku lebih memilih diam daripada mengomentari setiap suara-suara yang masuk ke telinga ini. Yang pasti suara itu lebih terkesan mengganggu daripada menenteramkan. Kapan pernah kudengar orang-orang memperbincangkan kebaikanku?
***
Pukul empat sore. Semua pemuda kembali memenuhi lapangan. Ada remaja putri dan para ibu juga. Mereka akan menyaksikan pertandingan voli yang akan dimainkan oleh pemuda dan bapak-bapak. Babak penyisihan yang menghasilkan dua regu untuk bermain di babak final pada hari Senin, dua hari lagi. Dan tepat pada hari Selasanya semua perlombaan akan diumumkan pemenangnya.
“Sudah bebas dari penjajahan, masih ada juga yang mau jajah teman sendiri…”
Entahlah, itu sindiran untukku atau apa. Zuhri bejalan di depanku sambil mengatakan kalimat yang tak enak didengar. Nadanya kasar, matanya melirik tajam mataku yang sipit ini.
“Cina kampung…” katanya lagi.
“Maaf nih Zuhri, kamu bilang sama aku?” tangannya kusenggol. Dia menengok.
“Ya tahu diri saja lah!”
“Maksudnya?”
“Ndak usah berlagak bego.”
“Aku ndak tahu benar apa maksudmu…”
“Eh, jangan mentang-mentang sarjana, lantas bisa menjajah ya. Kini Indonesia sudah merdeka. Bahkan sejak 65 tahun yang lalu!”
“Aku memang sarjana! Sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan. Tapi apa hubungannya dengan penjajahan. Aku menjajah siapa? Aku tak pernah berusaha mencuri pekerjaan seseorang…”
“Kamu memang berlagak bego ya. Pintar sekali mengalihkan pembicaraan. Aku bicara tentang pernikahanmu. Kamu malah bicara soal pekerjaan.”
“Pernikahan?”
“Bosan aku sama orang sombong seperti kamu, Man. Sudahlah, kamu memang tipe orang seperti Belanda…”
Astaghfirullah,…ada apa ini? Mendadak aku tersudutkan menjadi orang yang paling bersalah dalam sebuah peristiwa sedang aku sendiri tak tahu peristiwa apakah itu. Perkataan Kang Suradi, Latifah yang katanya mau jadi calon istriku, sekarang Zuhri tiba-tiba marah. Pasti ada sebabnya.
Tepat saat semua lomba berakhir, panitia sudah menentukan semua pemenang, tinggallah seluruh warga menanti saat-saat yang ditunggu. Esok adalah hari Selasa, tanggal 17 Agustus. Ibu sudah berharap banyak kalau nasi tumpeng buatannya adalah nasi terhebat dari para ibu di desa ini.
Pagi hari mulai ramai di layar kaca menyiarkan siaran upacara kenegaraan di lapangan istana merdeka. Persiapan yang sudah diperkirakan sembilan puluh sembilan persen, ya..begitulah. Tapi, persiapan bertemu kembali dengan hari ini rasanya teramat berat bagiku.
Kemarin, Amat dan Fatkhur ke rumah usai lomba tarik tambang. Mereka datang untuk mengklarifikasi isu yang sudah gempar. Pernikahan tanpa rame-rame antara aku dan Latifah mengundang perhatian banyak orang rupanya. Dan yang mengagetkan, rupanya Zuhri menaruh cemburu padaku. Dia sudah lama sekali mengincar adik Hendro itu untuk dijadikan istri. Ya Allah, rupanya itu sebabnya ia marah padaku.
Mereka bercerita panjang lebar. Hendro sama sekali tak tahu tentang pernikahan itu dan meminta klarifikasi juga dengan keluarganya. Latifah dan keluarganya tentu bingung. Bagaimana mereka semua tidak dalam kebingungan? Ini hanya asap yang entah siapa yang mengobarkan apinya. Ditambah lagi Ibu tak mau tahu dengan isu itu. Kata beliau, yang jelas suatu fitnah, ya biarkan saja. Kalau tak salah mengapa harus dibuat pusing. Benar kata Ibu. Tapi aku tetap tak bisa cuek. Aku yang jadi tokoh utama disini? Ya Allah, di hari merdeka bagi negaraku aku menjadi orang yang tak merdeka. Mungkinkah kau tengah menguji bujangan ini Ya Allah?
“Man! Ada tamu tuh.”
“Siapa, Bu?”
“Latifah.”
Masya Allah, Latifah?
Kutemui dia yang datang sendiri. Adik Hndro yang juga adik kelasku semasa SMP itu tampak malu, tidak seperti biasanya. Sudah terlihat jelas apa penyebabnya.
“Agustusan lagi, ya Mas Rohman?” tanyanya.
“Ya nih. Latifah ada apa kemari?”
“Saya sudah mengetahui gosip itu, Mas. Gosip antara kita…”
“Tapi kamu harus tahu, semua itu tidak benar!”
“Iya saya tahu. Saya paham dan saya percaya kalau itu semua tidak benar. Mana mungkin lah Mas Rohman yang sarjana ini mau menikah dengan gadis desa lulusan SMEA…”
“Aduh, Latifah. Bukan itu maksud saya…”
“Jadi Mas Rohman mau kalau menikah dengan saya…”
“Ya bukan begitu juga…duh…”
“Oh, jadi memang saya tidak pantas buat Mas Rohman…”
Kini aku semakin bingung. Kenapa nyambungnya sampai itu? Mimik mukanya berangsur kelabu.
“Latifah, tolong dengarkan saya. Kebetulan sekali kamu kemari dan kamu sudah mengetahu kabar itu. Namun yang mau saya luruskan disini bukan soal pantas atau tidak kita menikah.”
“Lalu?”
“Masalah jodoh itu hanya Allah yang tahu. Nah, saya mau meluruskan bahwa semua isu itu tidak benar. Pokoknya semuanya. Dengan siapapun saya berjodoh, insya Allah saya akan melakukan proses pernikahan dengan baik. Bukan sembunyi-sembunyi seperti kabar itu. Apalagi kalau sampai menyakiti teman sendiri. Rasanya saya seperti menyakiti saudara sendiri. Kamu tahu kan kalau Zuhri menaruh hati padamu?”
Latifah menunduk. Malu.
“Kalau kita memang jodoh, Mas?”
“Waallahu a’lam…hanya Allah yang tahu…”
“Jadi, masih ada harapan untuk saya kan?”
“Maksudnya?”
“Saya akan setia menunggu Mas Rohman…”
Ya Allah, ada apa lagi ini? Kejadian pagi ini makin membuatku menjadi orang yang benar-benar belum merdeka. Duhai Indonesiaku, apakah sebenar nasibmu juga sama terhadapku?


--Selesai--

COMMENTS

BLOGGER
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Memory oh memory
Memory oh memory
http://4.bp.blogspot.com/-ZYeyV-3_U1Q/UCqhNoexaJI/AAAAAAAAAHU/BjezqPRZ3SY/s200/merah-putih-di-puncak.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-ZYeyV-3_U1Q/UCqhNoexaJI/AAAAAAAAAHU/BjezqPRZ3SY/s72-c/merah-putih-di-puncak.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2012/08/memory-oh-memory.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2012/08/memory-oh-memory.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy