cerpen remaja "Cowok Kesepian"

Lagi komen - komenan ma anak-anak SMA di facebook. Tiba-tiba teringat sama cerpen yang satu ini. Membawa pada 7 tahun lalu... Cowok ...


Lagi komen - komenan ma anak-anak SMA di facebook. Tiba-tiba teringat sama cerpen yang satu ini. Membawa pada 7 tahun lalu...

Cowok Kesepian
Aku, pelajar SMA yang biasa-biasa aja. Kecantikan luar yang kumiliki, biasa. Barang-barang yang kumiliki juga biasa, tak ada yang spesial. Prestasiku juga biasa saja. Selalu naik turun dari sepuluh besar ke dua puluh besar. Sebuah prestasi yang tak bisa dibanggakan. Apalagi di sekolahku, semua anak mendambakan peringkat pertama. Bukankah itu mustahil? Tapi aku bukanlah mereka yang terlalu menghebohkan semua itu. Sekali lagi, aku hanya gadis biasa. Maka lakuku pun biasa-biasa aja.
Tetapi, satu yang tak kumengerti. Kenapa cowok sekeren Galang bisa menyukaiku? Aku ini tak secantik Felisha yang selalu modis. Aku juga bukan pemiliki bibir seksi sseperti Lidia yang selalu memenangkan olimpiade sains. Dan aku juga bukan anak orang kaya seperti kebanyakan penghuni sekolah ini. Ada apa dengan Galang? Anak dari juragan batik yang begitu termashur di Negeri ini, yang tampangnya memesona siapapun yang memandang, yang prestasinya bertebaran dimana-mana, mendadak terpanah asmara olehku? Alamak! Pasti ada yang nggak beres.
Galang memang termasuk cowok yang baik. Dalam artian, dia ramah, tak suka merokok, dan taat pada aturan sekolah. Aku sama sekali tak pernah melihat dia bolos lewat pintu manapun. Nggak dari gerbang belakang, gerbang depan, atau lewat pintu darurat yang biasa anak-anak panjat meski di atasnya penuh dur-duri paku yang menancap. Tak juga aku saksikan dia mengepulkan aspa rokok seperti yang kebanyakan cowok melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Di sekolah ini, merokok memang dilarang keras. Buat mereka yang udah terlanjur suka, ya harus rela tersiksa atau ya itu tadi. Mencuri-curi kesempatan.
Seminggu belakangan, sikapnya mulai aneh kurasakan. Pagi hari sebelum aku memasuki kelas, dia sudah lebih dulu membersihkan tempat dudukku. Galang akan berdiri di samping kursiku sambil melempar senyum. Ho ho! Dia mau tebar senyum padaku? Sayangnya aku tak bisa membalas. Keanehan yang dia tunjukkan itu benar-benar membingungkanku dan membuatku ketakutan.
Pada saat aku kebagian piket, dengan senang hati dia membantuku menyapu, juga membersihkan sela-sela jendela kelas yang penuh debu. Juga saat olah raga, dia rela berlari mengambil handuknya di kelas hanya karena melihat keringatku yang terkucur. Padahal aku sudah biasa jika penuh dengan keringat. Kenapa Galang perhatian sekali?
“Nggak apa kok, Ra. Sekali-kali bantu kamu.”
“Nih dilap dulu keringatnya! Pake handukku…”
“Gimana Ra, kabar pagi ini? Baik kan?”
Itu kalimat-kalimat yang terdengar aneh bagiku untuk seorang Galang. Kalau sama yang lain sih dia biasa mengumbarnya. Tapi sama aku? Seribu satu!
Hingga akhirnya kemarin, dia menemuiku. Secara jujur ia katakan bahwa ia menyukaiku. Serasa tak percaya kumendengarnya. Kuingat-ingat mimpiku pada malam sebelumnya. Rasanya tak berbau Galang sedikitpun. Tapi mengapa durian runtuh tiba-tiba berpihak padaku. Ada perasaan senang, pasti. Siapa lah yang tak mendamba cowok seperti Galang? Cuma, analisaku tetap berpihak bahwa semua itu ada apa-apanya. Harus kucari tahu.
“Yah,..Ra. tiap orang bisa jatuh cinta sama siapapun kali. Nggak usah dipikirkan. Kalau kamu pikir kamu nggak ada menariknya sama sekali, mungkin Galang melihatmu dari sisi yang berbeda.” kata Rintan mengomentari ceritaku.
“Sisi yang berbeda? Maksudnya?”
“Seseorang itu punya dua sisi. Luar dan dalam. Kalo sisi luar kamu nggak menarik, mungkin Galang liat kamu dari sisi dalamnya. Mudeng nggak? Dia ngeliat inner beauty kamu…”
“Tapi, kenapa mesti aku? Kan aneh tuh.”
“Ya itu tadi. Karena tiap orang bisa aja jatuh cinta ama siapapun…”
Gitu ya. mungkin begitu. Nggak ada yang salah sih dengan kata-kata Rintan. Kepada siapa seseorang jatuh cinta, memang nggak bisa dipaksakan. Apa kuterima saja ya cinta Galang? Ah, jangan-jangan ia cuma mau mengerjaiku?
Aku pernah denger kalau Galang itu hanya mau gaul ama anak-anak yang punya doku aja. Dia juga suka milih-milih kalau mau berteman ama cewek. Dan denger-denger juga, Galang sering ngerjai cewek. Dia pura-pura nerima cinta cewek-cewek-cewek tapi habis itu dia buang begitu aja kalo udah bosan. Kadang dia jua nembak cewek tapi beberapa waktu kemudian dia pura-pura lupa dan nertawain si cewek yang dia tembak itu. Parah kan? Kata biang gosip begitu…
 Iya! Barangkali begitu. Aku yang miskin ini dikiranya bisa ia permainkan dengan segudang hartanya itu? Oo..kamu salah Galang! Aku punya pemikiran yang luar biasa meski aku orang yang biasa-biasa aja. Kamu nggak akan kubiarkan jika ingin mempermainkan perasaanku!
---
Kelas kosong tanpa guru. Sambil mengerjakan tugas dari Pak Andre, kulirik Galang yang dari tadi tak mengeluarkan suaranya. Ada apa ya? Tumben banget dia diam. Padahal teman-teman dekatnya masih asyik ngobrolin film yang semalam baru mereka tonton. Dan tentunya mereka nonton di rumah Galang. Segala jenis film dia punya. Film anak-anak sampai mbah-mbah, dia punya. Film yang cengeng berbau romantis sampai yang penuh action, juga memenuhi jajaran koleksi filmnya.
Aku hendak mendekat tetapi urung karena takut ada yang curiga. Aku masih ingat kalau waktu itu Galang bilang bahwa perasaan hatinya itu hanya aku yang tahu. Ia tak menceritakannya pada siapapun, termasuk teman dekatnya. Akhirnya aku kembali sibuk dengan tugasku. Make a story in English!
Semenit, dua menit, tiga menit, sampai bermenit-menit ternyata pemandangan itu makin mengganggu konsentrasiku. Kertas di hadapanku belum mendapatkan tambahan kosa kata, sedang aku terus memperhatikan sosok yang terdiam itu. Ada apa denganmu, Galang? Perasaan yang semula tak peduli dengannya ini, mendadak berubah saat kulihat pucat wajahnya saat menoleh ke arahku. Galang sakit?
“Kumpulkan tugasku ya, Ra!”
“Nih! Sekalian punyaku!”
“Punyaku juga.”
“Ini, kukumpulkan semua. Kamu bawa ke ruang guru ya!”
Seisi kelas lalu sepi. Mereka menumpukkan tugas-tugas mereka di mejaku, tanpa persetujuanku sebelumnya. Tak ada sopan santunnya. Dengan santainya mereka melakukan itu tiap hari, tiap waktu ketika mereka membutuhkanku. Tak mengherankan lagi karena telah menjadi kebiasaan di kelas ini. Aku lah yang akan menanggung semuanya jika ada hal yang menurut mereka jadi beban.
Mengumpulkan tugas ke ruang guru seharusnya menjadi tugas ketua kelas. Tapi, tak begitu di kelas ini. Mengumpulkan tugas, menghapus papan tulis, mengisi spidol, semuanya jadi tugasku secara otomatis. Bagaimana reaksiku? Tentu saja. Seperti biasa aku menerimanya. Tak ada protes sedikitpun. Padahal, dengan perasaan yang begitu berat aku terus berjuang menahan gejolak kemarahan yang ada. Bertahan, Tiara!
“Biar aku aja yang ngumpulin!”
Tiba-tiba suara Galang membuyarkan lamunanku. Dia telah berdiri disampingku sambil meraih tumpukan buku miliki empat puluh siswa. Aku memperhatikan mukanya. Matanya sembab tak memancarkan semangat sedikitpun. Bibirnya kering. Dan rambutnya tak serapi biasanya.
“Jangan! Kamu masih saki…t” cegahku, tertahan.
Di saat itulah Galang menatapku lama sekali. Hingga kemudian kurasakan  lampu blitz menyoroti mataku dari arah kiri. Baik aku maupun Galang sama-sama menuju satu titik dimana si pembawa kamera digital itu berdiri. Rio dengan senyumnya yang tak tahu bermakna apa itu lalu pergi begitu saja.
“Sial!” kudengar Galang mengatakannya. Tangannya mengepal lalu memuntahkan isi kosongnya.
“Ayo, Tiara! Kita harus ke ruang guru sekarang.”
“Kamu nggak apa membantuku?”
Dia tak menjawab.
Sesuatu pasti telah terjadi antara dirinya dengan Rio. Tapi apa? Perseteruan gank kah? Balap motor kah? Dendam karena kalah tenar? Atau apa, aku tak tahu?!
Usai dari ruang guru, Galang menarik lenganku erat. Banyak para siswa yang memperhatikan kami berdua. Mereka pasti keheranan melihat tingkah Galang yang dirasa aneh. Aku makin takut. Apa yang akan dilakukannya padaku. Dan kini, hendak dibawa kemana aku ini?
Tempat parkir yang sepi menjadi perhentian. Di kanan kiri tak satu pun terlihat satu siswa menampakkan batang hidungnya. Ia lalu mengatakan bahwa ia membutuhkan jawabanku saat itu juga. Aku bingung dan mempertahankan mulutku tak bicara, namun ia terus memaksa. Ia katakan bahwa ia sangat mengharapkan diriku menjadi seseorang yang dekat dengannya. Ia ingin aku menjadi pacarnya.
“Plis, Ra. Jawab sekarang!” Galang terus memaksa.
“Ta…ta…tapi…”
“Tapi kenapa?”
Aku lalu diam. Kulihat dia terus menungguku. Wajahnya makin terlihat pucat.
“Emm, kalo kamu pingin aku deket sama kamu, bisa kok tanpa harus jadi pacar.” Kataku kemudian.
“Maksud kamu?”
“Kalo kamu butuh aku, aku bisa bantu. Tapi, nggak harus pacaran kan? Kamu nggak usah sungkan kalo emang itu tujuannya.”
Galang menjauhkan wajahnya dariku. Ia lalu menunduk seperti memikirkan sesuatu.
“Sebenernya…emang iya!”
Apa? Jadi dia nggak sungguh-sungguh mengharapkan aku jadi pacarnya?
“Aku memang butuh kamu untuk bisa jadi orang yang memperhatikan aku, yang ngerti perasaanku dengan tulus. Bukan dibuat-buat seperti kebanyakan cewek-cewek yang deketin aku. Tapi, aku nggak bermaksud mempermainkan kamu.”
Baiklah. Kini aku paham. Galang cuman kesepian aja. Dia butuh sahabat, bukan pacar. Aku jadi berpikir, apakah cowok setenar Galang itu memiliki beban yang berat? Aku merasa begitu. Kasihan jika emang yang terjadi begitu. Mungkin nggak ada salahnya kalau aku membantunya. Menjadi malaikat super baik yang ia butuhkan. Atau juga, menjadi nona peri yang siap sedia ketika dibutuhkan Galang.
“Anggap aja aku sahabat kamu, kalau kamu mau. Daripada jadi pacar, nanti malah ngerusak reputasi kamu.”
Udara di siang itu jadi terasa sejuk. Sesejuk hatiku yang mendapatkan suasana baru. Tak pernah terbayang kalau aku bisa sedekat ini dengan Galang. Dia yang memilki banyak perbedaan denganku bisa meleburkan diri menjadi seseorang yang bisa mengimbangi caraku? Kalau dia berteman denganku, otomatis dia akan rela menahan diri untuk sering jajan karena aku hanya sesekali saja jika melangkahkan diri ke kantin. Kalau nggak kepepet banget, kupertahankan jumlah uang di dompet mickey-ku.
Yang jelas, aku punya teman baru. Kita liat apa yang terjadi seterusnya.
---
Kami jadi sering bertemu. Galang juga tak malu-malu mengajakku makan di kantin berdua(Nah lho! Aku yang lebur jadinya?) Hanya sayangnya, sejak beredarnya fotoku dan dirinya di seluruh penjuru sekolah, Galang sering murung. Foto yang Rio sebarkan itu dibubuhi artikel yang menyebutkan bahwa aku adalah gadis bayaran yang dimanfaatkan Galang untuk keperluan apapun. Kalau begini, bukan Galang saja yang murung. Tentu aku nggak mau dikatakan begitu. Emang aku cewek murahan? Yang bisa dibayar begitu aja. Berapapun banyaknya jumlah rupiah itu, aku nggak akan rela jadi cewek yang nggak baik seperti yang dituliskan Rio. Jahat banget sih!
Galang harus menelan kepahitan. Beberapa temannya menjauh. Cewek-cewek yang selalu heboh dengannya tak lagi tampak. Aku jadi merasa bersalah padanya. Karena aku, dia kehilangan semua yang dia miliki. Harusnya aku tak perlu dekat-dekat dengannya. Galang,…
Tiga hari, dia tak masuk sekolah. Kata guru piket, Galang sakit. Tapi aku tak berani datang ke rumahnya yang megah itu untuk menjenguknya. Belum apa-apa, nanti aku malah lari karena takut dengan gonggongan anjing yang menjaga rumahnya itu. Ngeri ah! Tapi, kasihan ya dia.
“Kamu nggak jenguk dia, Ra?” tanya Rintan.
“Pengen sih. Tapi bingung. Takut aku kalo sendiri. Temenin yuk!”
“Yee…Galang mah nggak kenal sama aku. Nanti aku dicuekin lagi!”
“Nggak-nggak…dia itu baik. Nggak sejelek yang kamu bayangin.”
“Nggak ah. Kamu aja ndiri…”
Di rumah, aku terus memikirkannya. Diam-diam ingatanku ini tak bisa lepas dari bayangnya yang terus menggodaku. Aku mengkhawatirkannya? Oh, Tuhan. Jangan biarkan hal buruk menyertai Galang. Sembuhkanlah dia. Aku lantas merasa lemah karena hanya diam dan tak berbuat apapun untuknya.
Akhirnya aku tak melakukan apapun. Hingga ia kembali sekolah pada hari keempatnya. Senang rasanya melihat Galang memancarkan keceriaan. Orang yang pertama kali disapanya adalah aku. Dia menghampiri tempat dudukku lalu meletakkan setangkai mawar merah yang sangat harum. Hatiku tak karuan dibuatnya.
Kini, kami masih terduduk di sebuah bangku di kantin. Sekolah sudah bubar sejak tadi. Kami sama-sama diam. Hanya kebekuan yang belum jua mencair sedari tadi kami disini.
“Udahlah, Ra. Kita nggak perlu pusingin ini. Awalnya aku marah sama ulah Rio. Dia emang udah dari dulu iri sama aku. Tapi, sekarang aku seneng. Aku nggak perlu diganggu sama mereka yang mau dekat sama aku hanya karena ketenaran, juga kekayaanku.”
Galang menggenggam jari-jemariku. Aku sungguh deg-degan. Nggak biasa-biasanya dia melakukan hal itu.
“Ra, makasih ya.”
“Kenapa makasih? Ini justru salahku, Lang. Kamu udah kehilangan semuanya. Maafin aku, Lang. Maafin aku.”
Dia memegang kedua pundakku. “Ra. Aku berterimakasih sama kamu karena aku sekarang bisa nikmati hidup aku sendiri. Aku nggak kehilangan semuanya. Aku masih punya kamu. Bahkan, aku punya kehidupanku sendiri sekarang…”
Aku nggak mengerti kemana arah pembicaraan Galang. Dia sungguh aneh.
“Udah! Mulai sekarang, kamu tetep di sampingku ya.”
“Kenapa aku, Lang?”
“Karena kamu memiliki ketulusan yang luar biasa dalam berteman. Aku udah merasakannya sendiri selama berteman sama kamu. Dan aku nggak salah pilih teman ternyata.”
Aku paham. Jadi, selama ini Galang kesepian di tengah keramaian yang hingar bingar di sekelilingnya. Segala apa ada. Dia bisa ambil apapun yang dia mau. Teman disana-sini banyak. Namun, ternyata ia merasa tidak dihargai. Sebegitukah Galang? Kulihat ia meneteskan bening kristal dari matanya yang teduh itu. Baiklah, Galang. Percayalah aku bisa menjadi yang terbaik untukmu. Jangan ragu!
--Selesai--


COMMENTS

BLOGGER: 13
Loading...
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: cerpen remaja "Cowok Kesepian"
cerpen remaja "Cowok Kesepian"
http://2.bp.blogspot.com/-VGohaAjaCrk/UDg3BQShFiI/AAAAAAAAAH8/6WdMMLdjOwo/s320/sma.gif
http://2.bp.blogspot.com/-VGohaAjaCrk/UDg3BQShFiI/AAAAAAAAAH8/6WdMMLdjOwo/s72-c/sma.gif
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2012/08/cerpen-remaja-cowok-kesepian.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2012/08/cerpen-remaja-cowok-kesepian.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy