Nikmati dan rasakan hikmahnya!

Dua Sisi Ibu-ibu yang kebanyakan bekerja sebagai buruh tani itu mulai memperbincangkan kedatangan Fatimah, adik Maryati yang menjadi guru...


Dua Sisi

Ibu-ibu yang kebanyakan bekerja sebagai buruh tani itu mulai memperbincangkan kedatangan Fatimah, adik Maryati yang menjadi guru baru di Madrasah. Desa mereka memang belum memiliki SD, hanya ada Madrasah Ibtidaiyah yang sering mereka sebut dengan MI. Semua anak-anak desa bersekolah disana. Kecuali yang merasa punya uang lebih, maka orangtua akan menyekolahkan anak-anaknya di kecamatan karena di sana terdapat SD Negeri. Warga tak memusingkan hal tersebut. Mereka pikir yang penting anak-anak sekolah, tak menjadi gelandangan yang tak mencicipi bangku pendidikan. Apalagi pada MI yang penuh dengan pelajaran agama, mereka mulai membanggakan. Terutama
untuk saat ini, saat Fatimah sudah berada di desa itu selama tiga bulan.
Yang mereka bicarakan bukan tentang kebaikannya. Di mata mereka, Fatimah tak lain adalah wanita yang berani mencampuri urusan warga. Dia selalu tampil dalam berbagai musyawarah yang diadakan di desa. Pertemuan PKK, tahlilan, yasinan, sampai pada peringatan kematian warga pun dia selalu berperan. Bahkan sekarang sudah ada kajian khusus remaja dan anak-anak yang ia bentuk sesuai kesepakatan bersama anak-anak yang terlibat.
Ibu-ibu itu merasa kurang suka dengan Fatimah. Berbeda dengan anak-anak mereka yang terlihat sangat menikmati cara belajar baru dengan guru baru. Fatimah punya trik yang unik sehingga anak-anak dan remaja begitu menikmatinya. Bukan metode lama yang hanya mementingkan tersampaikannya pelajaran saja tanpa memperhatikan bagaimana kondisi jiwa anak-anak itu sendiri.
Fatimah melewati kerumunan ibu-ibu yang masih berkumpul di gardu pos kamling. Sore itu ia hendak mengajar di TPQ.
“Assalamualaikum, Ibu-ibu...masih membahas apa ini? Kelihatannya asyik sekali...”
Senyum muslimah itu mengembang, namun hanya sabagian saja yang menjawab salamnya. Beberapa menatap sinis ke arahnya.
“Waalaikumsalam Mbak Fat, mau ngajar ya?” kata seorang.
“Iya, hari ini saya mau ajak anak belajar sambil bermain.”
“Waaah...” dua orang mendekatinya. “Belajar sambil bermain? Maksudnya apa Mbak Fat?”
“Begini Ibu-ibu. Hari ini saya akan berikan pelajaran bahasa Arab. Nah, biar anak-anak tidak jenuh, saya akan mengajak mereka belajar sambil memainkan benda-benda yang akan disebutkan memakai bahasa Arab nantinya.”
“Mbak Fatimah tadinya mondok ya di kota...”
Fatimah tersipu. Ia mendapatkan pelajaran itu dari kajian rutin bahasa Arab yang ia ikuti bersama teman-temannya.
“Mbak Fat sepertinya bisa semua ya. Pasti Mbok Sutini bangga punya anak seperti Mbak Fat...”
“Ya sudah, kalau begitu saya pamit ya. Anak-anak pasti sudah menunggu.”
“Iya, silakan. Monggo...”
Fatimah berlalu. Ibu-ibu yang tak suka padanya langsung menodongkan banyak pertanyaan pada dua orang tadi. Mereka sepertinya sangat khawatir Fatimah menjejali pemikiran buruk pada mereka. Padahal apa yang Fatimah lakukan tak lain dalam rangka menebarkan amar ma’ruf nahi munkar. Ia ingin bermanfaat untuk desanya, terutama bagi kaum wanita di sana. Ia ingin mulai dari anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu dan generasi tua memiliki bekal ilmu yang memadai dalam menjalani kehidupan. Karena ia wanita, maka Fatimah pun mengawali perjuangannya dari ranah yang lebih dekat dengan dirinya. Apapun itu, ia ingin memberdayakan kaum wanita di desanya. Pun bagi anak-anak dan remaja yang terpaksa tak melanjutkan sekolah, ia mulai membuat kelompok untuk belajar keterampilan.
Namun sayangnya, sudah menjadi kelaziman jika sebuah perjuangan tak akan pernah lepas dari terjalan batu-batu. Saat ia mengikuti pertemuan PKK, ada seseorang yang dengan tiba-tiba menyalahkan kedatangan Fatimah. Anak Mak Romlah mendadak berubah dan berani menentang apa yang disuruhnya. Wanita itu memaki-maki Fatimah dan menyalahkan dirinya karena telah memberikan pengaruh jelek bagi anaknya yang kini duduk di kelas lima.
“Mbak, sampean pergi saja dari sini! Keberadaan Mbak Fat disini membuat anak saya jadi berani sama saya. Dia selalu membantah apa yang saya suruh! Dari mana kalau bukan dari yang diajarkan Mbak Fat? Dia bahkan mulai mengeluarkan dalil-dalil dari buku catatan sekolahnya!”
Semua mata tertuju pada Fatimah. Ia sungguh merasa tertuduh. Sejauh ini, ia mengajarkan sesuai apa yang diajarkan Rasulullah. Ia sama sekali tak pernah mengajarkan anak-anak untuk durhaka pada orangtua mereka. Ada apa ini? Hatinya bertanya-tanya yang membuat ia ingin segera menemui Laila, anak Mak Romlah.
“Iya, Hamdi juga mulai mengajari saya. Dia bilang sholat saya belum betul.”
“Apalagi Roni! Dia bilang saya harus memakai kerudung tiap hari dan pakai pakaian yang panjang-panjang. Memang dia tidak mikir apa kalau saya tiap hari ke sawah? Kena lumpur...”
“Kalau begitu kita ambil keputusan saja. Sudah jelas kan ini salah siapa? Ada dia yang telah memberikan pengaruh buruk kepada anak-anak!”
Fatimah tertegun. Ia tak menyangka tuduhan itu makin bertambah saat ia membiarkan waktu berjalan tanpa ia mengucapkan kalimat yang membalas. Sambil menahan perih dan sesak di dada, ia mencerna setiap kata-kata ibu-ibu tadi. Tak ada yang menimpali lagi. Pun Bu Harti sebagai ketua PKK, ia hanya diam dan seolah menghindar dengan keributan yang tadi. Maryati memilih diam. Ia sedikit malu.
“Sudah! Keluar saja sekarang Mbak Fat! Untuk apa masih berada di rumah ini?”
Mak Romlah seolah jadi pemimpin pemberian tuduhan itu. Fatimah akhirnya bangkit. Ia berdiri di tengah-tengah semuanya. Setelah menata hatinya, ia sadar harus mengungkapkan isi hatinya dengan menahan air mata yang terbendung.
“Maaf Ibu-ibu sekalian, sebelum saya pamit dan keluar dari rumah ini, ijinkan saya berbicara.” semuanya hening seketika. “Atas kesadaran diri saya kembali ke desa ini. Desa yang menjadi tempat kelahiran saya ini seolah memanggil hati saya untuk pulang. Namun sungguh Ibu-ibu, saya tak melakukan hal buruk disini. Apa yang saya sampaikan pada anak-anak penjenengan semua bukanlah sebuah keburukan. Ibu-ibu bisa mengecek ke sekolah mengenai apa saja yang saya ajarkan. Atau mungkin ke TPQ, juga kajian-kajian yang saya bentuk.
Ibu-ibu, saya tak menyalahkan Ibu-ibu. Tapi mungkin ada yang salah dengan respon Ibu-ibu semua saat mendengarkan apa yang dikatakan anak-anak kalian. Bisa jadi maksud mereka baik, namun kalian merasa lebih pintar dan tak mau diingatkan oleh yang lebih muda. Kalian merasa malu jika anak-anak lebih pintar sehingga hati kalian mudah tersinggung. Cobalah dipikirkan lagi mengapa anak-anak kalian tak mau melakukan perintah kalian. Apakah perintah itu tentang kebaikan atau keburukan? Juga tentang sholat, menutup aurat, atau hal lain yang anak-anak katakan tentulah sudah benar. Yang harus dilakukan adalah kembali merenungi sudah benarkah yang Ibu-ibu lakukan?”
Berpasang-pasang mata di rumah itu saling pandang. Kaum ibu yang tadi ngotot menyalahkan Fatimah kini tertunduk menahan malu. Fatimah sendiri tak yakin mereka sudah menyadari kesalahan mereka.
“Saya ingin kita bertemu kembali untuk membahas hal ini bersama anak-anak penjenengan. Terimakasih, Ibu-ibu. Mudah-mudahan Gusti Allah selalu melimpahkan rahmatNya pada kita semua. Assalamualaikum!”
Fatimah keluar dari rumah itu tanpa dicegah langkahnya oleh siapapun. Tak juga Maryati, tak jua ketua PKK. Suasana di sana mendadak bergemuruh dan tak menentu.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, para warga berbondong-bondong datang ke rumah Maryati pada malam hari selepas isya. Dengan dipimpin oleh salah sesepuh desa, mereka menginginkan Fatimah keluar dan memberikan penjelasan mengenai semua aktifitas yang ia kerjakan selama di kota. Pasalnya mendadak muncul kabar kalau dirinya menganut aliran sesat dan tujuannya kembali ke desa itu tak lain ingin menyebarkan aliran yang dianutnya saat berada di kota. Entah dari mana kabar itu tersiar. Yang jelas hati Fatimah makin terpukul dengan respon warga yang langsung mempercayai kabar itu.
Orang-orang berteriak meminta Fatimah pergi dari desa. Kala itu ia belum keluar karena masih berdzikir. Mbok Sutini dan Maryati sangat panik dengan situasi itu.
“Tenang Bapak-bapak, sebentar lagi Fatimah keluar. Kalian tenang dulu! Ya Allah ini bagaimana kok bisa begini? Apa benar yang dilakukan Fat itu?”
Mbok Sutini makin ketakutan. Ia tak mau keluarganya disorot masyarakat lalu diusir dari desa. Maryati yang hanya diam itu mengelus-elus lengan Ibunya supaya sedikit tenang.
Fatimah akhirnya keluar. Mereka makin berteriak melontarkan pengusiran terhadap dirinya.
“Tidak usah ditutup-tutupi lagi! Kami tidak ingin anak cucu kami menjadi anak yang kurang ajar dan melenceng dari ajaran agama! Mereka tidak boleh kamu bodohi, anak kemarin sore!”
Mata Fatimah mengitari seluruh warga yang berkerumun di depan rumah. Wajah mereka menampakkan keangkuhan diri seolah tak bisa diubah lagi watak itu. Saat Fatimah hendak membuka mulut pun, mereka sengaja terus berteriak agar tak ada kesempatan bagi Fatimah menjelaskan sesuatu. Mereka takut Fatimah yang pandai bicara itu malah mempengaruhi kaum lelaki seperti yang ia lakukan pada anak-anak mereka.
Sungguh, tak ada yang salah dengan Fatimah. Tiga bulan berada di desanya menjadi sebuah momok yang tak aman. Apa yang dibangunnya dianggap hal aneh yang belum bisa masyarakat terima. Aparat desa juga tak mau tahu.
Pagi itu kejutan pun ia dapat. Mbok Sutini dan Maryati sudah mengemasi pakaian dan barang-barang miliknya. Mereka meletakkannya di ruang tenah sampai kemudian dipanggilnya Fatimah agar kembali meninggalkan rumah. Adik Maryati itu tak bergeming. Ia tak percaya keluarganya sendiri pun tak mendukung perjuangan yang ia lakukan demi kemajuan bersama itu. Ibu, Mbak...mereka lebih memihak pada orang lain.
Bagaimanapun, Fatimah tetap berbaik sangka pada keduanya. Kasihan juga jika mereka harus ikut menanggung beban karena ulahnya. Ulah yang baik, ulah yang bermanfaat, dan ulah yang menjadi sorotan buruk di mata semua.
Ia berjalan menyusuri jalan desa. Remaja puteri yang sudah akrab dengannya itu berlari ke arahnya lantas memeluk erat. Mereka tak rela Fatimah pergi begitu saja dan meninggalkan kajian yang telah dibentuk.
“Jangan khawatir, Dik. Mbak akan mencari ilmu lebih banyak lagi supaya bisa memberikan ilmu lebih banyak pada kalian. Kalian jangan sedih, teruslah mencari ilmu sampai kapanpun.” ujar Fatimah. Ia tak kuasa menatap wajah-wajah bening yang mengharapkan dirinya.
“Tapi...Mbak bukan penganut aliran sesat kan?”
Tumpah air matanya. Mereka makin mengeratkan pelukan.
“Kalian yang menilai sendiri, Dik. Mbak berangkat dulu. Mudah-mudahan tak lama lagi Mbak bisa pulang kesini.”
Langkah itu kembali berlanjut. Masih banyak yang harus ia pelajari. Fatimah sadar, berjuang sendiri akan terasa berat. Namun pertolongan Allah akan selalu berpihak pada orang-orang yang selalu memperjuangkan agamaNya. Ia akan kembali, pasti itu! Biarlah untuk saat ini ada perbedaan pandangan antara dirinya dan warga desa. Allah yang lebih tahu. Fatimah yakini itu.
-Selesai-

COMMENTS

BLOGGER
Name

aku dan keluarga,10,al quran,4,cerita lucu,2,Cerpen,20,Hikmah,26,inspiratif,40,keluarga,1,Kepenulisan,26,lomba,6,naskah drama,6,nuansa wanita,21,penerbit,7,Perjalanan Penulis,13,Perjalanan_penulis,3,puisi,3,
ltr
item
Catatan Isnaeni DK: Nikmati dan rasakan hikmahnya!
Nikmati dan rasakan hikmahnya!
http://2.bp.blogspot.com/-JASgZFosNGU/T5PRAsBuqqI/AAAAAAAAADc/nMJBu6ONEJk/s320/6.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-JASgZFosNGU/T5PRAsBuqqI/AAAAAAAAADc/nMJBu6ONEJk/s72-c/6.jpg
Catatan Isnaeni DK
https://www.isnaenidk.com/2012/04/nikmati-dan-rasakan-hikmahnya.html
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/
https://www.isnaenidk.com/2012/04/nikmati-dan-rasakan-hikmahnya.html
true
4217727946596129531
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy